PART 50 : MULAI SEKOLAH 🍒

120 4 0
                                        

Haii man temann (⁠✯⁠ᴗ⁠✯⁠)
❃ SELAMAT MEMBACA ❃

"Rasakan dulu pahitnya lalu manisnya. Bukan rasakan dulu manisnya baru pahitnya."
~Indri Vebriola~

⋇⋆✦⋆⋇

"JANGAN SENTUH!" Bentak Indri saat lengannya dicekal oleh Widiya.

"KALIAN SEMUA PENGHIANAT! VEBRI BENCI KALIAN!" Indri dengan mata yang sudah sangat memerah dan berkaca-kaca menahan tangis.

"Seketika kalian hancurin kebahagiaan Vebri hari ini. APA SALAH VEBRI DAN MAMA?" Indri pun akhirnya menangis.

"Vebri. Mama mau jelasin ke kamu, yang Mama lakuin waktu itu gak sengaja. Mama beneran gak sengaja, nak." Widiya berusaha menjelaskan.

"CUKUP! UDAH CUKUP HIKS! KALIAN SEMUA PEMBOHONG HIKS!" Indri sudah tak peduli penjelasan apapun lagi setelah mendengar kebenaran tadi.

"Mama benci 'kan sama Vebri hiks? Kenapa gak bunuh Vebri aja hiks? Kenapa harus Mama? MAMANYA VEBRI HIKS!"

Tangis Indri pun langsung pecah di tempat saat ini ia berdiri, tubuhnya pun lemas dan akhirnya terjatuh ke lantai. Leon dan Widiya yang merasa bersalah lantas hanya bisa diam mematung merenungi kesalahan mereka selama ini.

"Ma–mama ...? Pa–papa ...? Apa yang Seliy denger tadi bener?" Tanya Seliy yang ikut terkejut.

"Ini nggak seperti yang kamu liat, nak." Ucap Widiya kepada Seliy.

Indri yang masih terisak tangis pun lalu berusaha bangkit dari duduknya. "Pa ... Papa tau 'kan semua kebenaran ini hiks? Kenapa tutupin semua ini dari Vebri, Pa? JAWAB hiks!" Tegas Indri yang baru pertama kali memarahi Papanya Leon.

"Kamu boleh marah sama Papa, silahkan. Papa lakuin ini karena demi kebaikan kamu," hanya kata ini yang bisa Leon ucapkan.

"Demi kebaikan Vebri, kata Papa hiks? Kalo demi kebaikan hiks, Papa gak akan nyakitin hati Vebri, Pa hiks." Ujar Indri.

"Vebri gak nyangka, dibalik hari ini yang bahagia banget hiks. Ada kilas kisah dibaliknya hiks. Kalian sempurna banget menyembunyikan rahasia ini hiks." Indri pun semakin terisak tangis saat di benaknya kembali mengingat kematian sang Mama.

"KENAPA HARUS MAMA? KENAPA? KENAPA GAK VEBRI AJA? ANDAI VEBRI MATI WAKTU KEJADIAN ITU, MUNGKIN VEBRI GAK BAKAL NGELIAT KEJADIAN HARI INI!" Ucapnya dengan penuh amarah.

Tiba-tiba. "Arghh ... akhh ... s–sakit," ringis Indri sambil memegangi dadanya yang terasa begitu sakit dengan kuat. Widiya yang melihat ini lantas langsung menghampiri Indri untuk menolongnya.

"Vebri gak butuh bantuan kalian! Vebri bisa sendiri," tolak Indri mentah-mentah.

Saat akan berjalan, seketika kepala Indri pun terasa pening, dan pandangannya pun seketika memburam, semakin lama ia tak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya karena terasa sangat lemas. Indri lantas tumbang di lantai jatuh pingsan. "INDRI!" Teriak Widiya.

"Kak Vebri!" Gumam Seliy.

"Vebri!" Ucap Leon membulatkan matanya.

Dengan cepat mereka langsung menghampiri Indri dan Leon pun langsung membopongnya sampai kamar. "Vebri ...? Bangun, Vebri?" Ucap Leon yang berharap Indri masih bisa sadar, setelah membaringkan tubuh Indri di atas kasur.

Leon pun terkejut saat melihat tangan Indri yang setelah dibuka telapak tangannya terdapat darah yang keluar dari dada Indri. "Darah?" Gumam Leon.

"Panggil Dokter! CEPAT!" Perintah Leon. Seperti luka pada tubuh Indri kembali terbuka, itu sebabnya darah mengalir kembali.

𝙍𝙀𝙑𝘼𝙉𝘿𝙍𝘼 (𝓣𝓱𝓪𝓷𝓴𝓼 𝓐𝓻𝓰𝓲𝓸) [𝙴𝙽𝙳𝙸𝙽𝙶]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang