PART 32 : TERJADI TRAGEDI 🌿

173 8 0
                                        

Haii man temann (☆/>u</)
✿ SELAMAT MEMBACA ✿

"Wajahmu dan suaramu yang dahulu pernah kulihat dan kudengar, kini telah hilang dan digantikan oleh batu nisan yang bertuliskan namamu di sana."
~Indri Vebriola~

⋇⋆✦⋆⋇

"Lagi gak ada orang di rumah?" Tanya balik Andra.

"Gak ada, Papa kerja, Mama keluar sebentar, Adek gue kerja kelompok." Sahut Indri, Andra hanya mengangkat kedua alisnya.

"Lo masuk duluan! Tapi jangan di belakang, di depan, samping gue." Perintah Andra. Indri hanya menuruti perintah Andra.

Di perjalanan Indri merasa sangat canggung, ia bersampingan oleh Andra di dalam mobil. Entah kenapa jantungnya berdetak dengan sangat cepat. "Kenapa deg-degan gini ya?" Batin Indri.

"Kenapa? Ada yang mau diomongin?" Tanya Andra tiba-tiba. "E–enggak kok." Jawab Indri gelagapan.

Sesampainya di depan rumah Sintia, Andra menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang rumah Sintia. Pasalnya halaman depan rumah Sintia tidak muat untuk mobil hanya bisa untuk motor saja.

Indri pun langsung keluar dari mobil, diselingi dengan Andra yang juga keluar dari mobil untuk mengeluarkan semua barang Indri. "Biar gue bantu," ucap Indri.

"Gak usah," sahut Andra langsung.

"Lo cewek gak boleh angkat yang berat-berat." Ucap Andra yang membuat Indri langsung menatap wajahnya.

Setelah barang sudah dikeluarkan, Indri berbicara kepada Andra untuk tidak menunggunya.

"Lo langsung pulang aja, gue gak apa-apa di sini sendiri. Lagian masih lama Mama pulang." Indri meminta Andra untuk pulang.

Karena Andra sedang ada rencana untuk kumpul bersama teman-temannya di markas, ia pun terpaksa meninggalkan Indri sendirian di rumah ini.

"Ya udah, gue balik ya? Kalo perlu sesuatu, telpon aja. Maaf gak bisa temenin lo, soalnya gue lagi ada kumpulan sama temen." Jawab Andra dengan tatapan teduhnya.

"Dia ... kenapa sih baik banget?" Batin Indri yang merasa gemas karena perlakuan manis Andra tadi.

Setelah Andra pergi, Indri sesegera mungkin masuk ke dalam rumah sang Mama, lalu menuju kamar dan menaruh kopernya sementara di sana.

°°°°°

"Tamu sudah selesai makan, kamu boleh pulang." Ucap sang Manajer di restoran tempat Sintia bekerja.

"Baik Pak, kalau begitu saya pamit pulang." Pamit Sintia yang langsung diangguki oleh Manajer restoran tersebut.

"Tungguin Mama, Vebri." Batin Sintia.

°°°°°

Dengan berdandan rapih dan cantik, Widiya berniat akan pergi arisan bersama teman-temannya seperti biasanya.

"Mau saya antar, Bu?" Tanya supir kepada Widiya.

"Gak usah, saya mau nyetir sendiri, biar cepet, nanti saya terlambat." Jawab Widiya.

"I–iya, Bu." Jawab supir itu.

Saat di perjalanan, Widiya mengendarai dengan kecepatan di atas rata-rata, ia menyetir tanpa memperhatikan pengendara lain di sekitarnya. Bukan hanya itu, Widiya juga menelpon sambil mengendarai mobil, hal ini sangat berisiko untuk dirinya dan juga orang lain.

Merasa kegiatannya bersama teman-temannya itu sudah terlambat, ia melajukan mobilnya dengan cepat sembari menelpon dengan temannya.

"Aduhh ... udah terlambat lagi, harus cepetan ini. Pokoknya harus sampai tepat waktu," Ucap Widiya sangat terburu-buru.

𝙍𝙀𝙑𝘼𝙉𝘿𝙍𝘼 (𝓣𝓱𝓪𝓷𝓴𝓼 𝓐𝓻𝓰𝓲𝓸) [𝙴𝙽𝙳𝙸𝙽𝙶]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang