PART 45 : HAMPIR KEHILANGAN 🫐

161 3 0
                                        

Haii man temann (❁´◡'❁)
SELAMAT MEMBACA

Leon dan Widiya yang masih tetap setia menunggu di luar kamar operasi dengan keadaan yaang cukup cemas. "Kamu pulang ke rumah, istirahat. Biar aku yang jaga Indri, aku tadi baru aja kabarin Seliy lewat telpon. Seliy khawatir sama keadaanmu dan Indri, lebih baik kamu pulang untuk ngurangin kecemasan dia." Ucap Leon.

"Enggak, Mas. Aku mau ngeliat Indri selesai operasi." Sahut Widiya.

"Kasian Seliy di rumah. Urusan Indri gampang, ada aku." Tutur Leon. Setelah  berpikir ulang, Widiya pun setuju untuk pulang.

Widiya pun pulang bersama supir sang suami untuk menenangkan diri di rumah sementara, mengingat perihal kejadian tadi sangat membuatnya syok.

Lampu ruang operasi yang tadinya berwarna merah hidup dan akhirnya lalu mati menandakan operasi sudah selesai.

"Gimana Dok?" Tanya Leon.

"Operasinya sudah selesai, alhamdulillah ... berjalan dengan lancar. Namun pasien masih kritis. Setelah ini kami harus segera memindahkannya ke ruang ICU, untuk perawatan lebih lanjut." Ucap Dokter.

°°°°°

Setelah terbangun dari tidurnya tadi, Andra tak bisa kembali memejamkan matanya, entah kenapa. Karena sudah 3 hari tak ada kabar lantaran karena jatuh sakit, Andra sudah lama tak berkomunikasi dengan geng Boyscircle.

Andra pun berniat untuk mengotak-atik ponselnya sebentar guna memberitahukan kepada kawan-kawannya bahwa dirinya sedang sakit. Saat Andra berhasil meraih ponselnya yang berada di atas nakas, ia sangat kesal melihat ponselnya yang mati karena lupa mengisi daya.

"Ck ... nih hp mati lagi," celetuk Andra terdecak kesal.

Andra pun berniat ingin bangkit dari ranjangnya untuk mengecas ponselnya sebentar. Dengan keadaan yang masih sangat lemas dan tangan yang masih dipasang infus, Andra berusaha melangkah sedikit demi sedikit dan satu per satu.

Secara kebetulan Bi Jiah sedang lewat di depan kamar Andra, beliau yang melihat Andra bangkit dari kasur serta kesusahan dalam berjalan sembari membawa kantung infusnya menghampiri dan membantunya.

"Den, ya Allah ... mau ngapain?" Tanya Bi Jiah.

"Mau cas hp, Bi. Di sana," jawab Andra dengan nada lemas.

"Ya ampun, Den. Sini biar Bibi saja, Den Andra istirahat saja di kasur ya? Kok gak bilang toh?" Ucap Bi Jiah membantu Andra.

"Gak usah, Bi. Deket kok, tuh di sana." Tolak Andra merasa merepotkan Bi Jiah.

"Sudah sini, biar Bibi saja." Bi Jiah langsung merebut ponsel Andra dan lalu mengecasnya di dekat meja belajar.

"Terima kasih ya, Bi?" Ucap Andra berterima kasih.

Andra pun kembali ke posisi semula yaitu, kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang.

"Iya, sama-sama, Den. Den Andra sementara jangan banyak gerak dulu," Bi Jiah mengkhawatirkan Andra.

Andra pun lantas terkekeh pelan. "Bi ... Andra itu cuma sakit panas tinggi doang, bukan habis operasi." Ucap Andra tak habis pikir dengan ucapan Bi Jiah tadi.

"Sama saja, Den. Kan sama-sama lagi sakit," Cetus Bi Jiah.

"Tau ah, Bi, bisa aja. Tapi maaf ya, Bi? Udah ngerepotin," Andra merasa sungkan dengan asisten sendiri.

"Lho ...? Justru Bibi malah senang kalo direpotkan sama Den Andra. Lain kali kalau minta tolong, minta tolong saja sama Bibi, jangan sungkan." Jawab Bi Jiah.

𝙍𝙀𝙑𝘼𝙉𝘿𝙍𝘼 (𝓣𝓱𝓪𝓷𝓴𝓼 𝓐𝓻𝓰𝓲𝓸) [𝙴𝙽𝙳𝙸𝙽𝙶]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang