Haii man temann ଘ(ᐛ)ଓ
✥ SELAMAT MEMBACA ✥
Saat ini di rumah sakit sudah ada Widiya dan Seliy, serta Leon. Karena tak tenang berada di rumah, Widiya dan Seliy pun berniat ingin segera pergi ke rumah sakit pagi ini bersama supir pribadi.
Sejak setelah Indri selesai melakukan operasi mereka merasa sangat cemas dan tidak tenang akan kondisi Indri sekarang ini. Entah kapan Indri akan terbangun dari komanya.
"Kak Vebri, cepet sembuh ya?" Seliy menaruh banyak harapan sembari menangisi Kakak tiri tercintanya.
"Seliy mohon, Kakak cepet bangun." Mohon Seliy dengan nada yang terdengar bergetar.
"Vebri ... maafin Mama ya? Mama udah jahat sama kamu. Mama mohon, kamu harus segera lekas membaik, ya nak? Kami membutuhkan kamu, kamu harus bangun." Widiya memohon sembari menggenggam tangan Indri yang terasa begitu dingin.
Dengan penuh penyesalan, Widiya selalu menangisi Indri sepanjang dirinya menjenguk Indri, ia terus menerus mencium punggung tangan Indri dengan harapan Tuhan akan memberikan keajaiban.
Sungguh ia merasa sangat menyesali segala perbuatannya dulu kepada Indri, ia merasa begitu berdosa telah banyak menyakiti anak yang tak pernah sedikitpun berbuat kesalahan kepadanya.
Sejak awal pernikahannya bersama dengan Leon, Widiya tak pernah memperlakukan Indri dengan baik. Tak pernah sekalipun ia mencoba untuk menerima Indri sebagai putrinya, ia juga tak mengerti mengapa hatinya bisa sekejam itu oleh anak gadis malang ini.
Hatinya terasa begitu sakit ketika mengingat kejadian saat itu, mengingat ketegangan dan ketakutan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, antara takut kehilangan dan takut melepaskan. Baru kali ini ia merasa takut kehilangan seseorang.
Dokter pun tiba di dalam ruangan, untuk memeriksa kembali kondisi Indri setiap beberapa jam sekali, apakah sudah membaik atau belum. Karena kondisi Indri saat ini butuh pengawasan yang ekstra untuk terus memantau perkembangan dari keadaan Indri setelah menjalani operasi.
"Permisi ... saya izin memeriksa pasien sebentar," ucap Dokter tersebut.
"Kira-kira kapan ya, Dok? Anak saya sadar dari komanya?" Tanya Widiya tiba-tiba.
"Belum tentu, Bu. Jika obat biusnya sudah habis mungkin pasien akan segera siuman. Semua tergantung dari baik buruknya kondisi pasien juga." Jawab sang Dokter.
"Ohh ... gitu, Dok." Jawab Widiya.
"Kondisi pasien masih belum membaik, denyut nadinya juga saya lihat masih lemah, jantungnya juga masih belum berfungsi dengan baik." Jawab Dokter.
"Lalu bagaimana, Dok?" Tanya Widiya semakin cemas.
"Kami tidak bisa melakukan apa-apa lagi, alat medis serta obat terbaik di rumah sakit ini sudah kami berikan. Mungkin saat ini kami hanya menunggu keajaiban dari Tuhan." Ungkap sang Dokter hanya tinggal pasrah.
Air mata Widiya dan Seliy pun semakin deras, hati mereka begitu terasa sesak saat mendengar kabar ini.
"Saya harap keluarga dari pasien bisa lebih sabar dan tabah, serta banyak berdoa untuk kesembuhannya." Dokter pun lantas pergi dari ruangan itu.
Leon yang berdiri di dekat pintu sedari tadi semenjak kedatangan Dokter tak berani menoleh ke belakang ke arah Indri, ia lebih memilih berbalik badan berusaha membuang wajahnya dan juga berusaha memasang raut wajah tenang walaupun saat ini pikirannya juga sedang kacau.
Widiya pun menghampiri Leon. "Mas ..."
"Kamu dengar 'kan kata Dokter tadi?" Tanya Widiya.
"Indri, Mas. Indri ..." Widiya mengguncangkan lengan Leon karena begitu takut akan kehilangan Indri.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝙍𝙀𝙑𝘼𝙉𝘿𝙍𝘼 (𝓣𝓱𝓪𝓷𝓴𝓼 𝓐𝓻𝓰𝓲𝓸) [𝙴𝙽𝙳𝙸𝙽𝙶]
Ficción General𝗦𝗨𝗗𝗔𝗛 𝗠𝗘𝗟𝗔𝗟𝗨𝗜 𝗧𝗔𝗛𝗔𝗣 𝗥𝗘𝗩𝗜𝗦𝗜 ᴅᴇsᴋʀɪᴘsɪ ᴄᴇʀɪᴛᴀ ᴛᴇʟᴀʜ ᴅɪᴜʙᴀʜ. 𝘙𝘦𝘷𝘢𝘯𝘥𝘳𝘢 𝘑𝘰𝘷𝘢𝘯𝘰 𝘈𝘣𝘳𝘢𝘩𝘢𝘮, laki-laki yang masih duduk dibangku SMA. Menjadi korban broken home kedua orangtuanya, membuat dirinya terus menerus te...
![𝙍𝙀𝙑𝘼𝙉𝘿𝙍𝘼 (𝓣𝓱𝓪𝓷𝓴𝓼 𝓐𝓻𝓰𝓲𝓸) [𝙴𝙽𝙳𝙸𝙽𝙶]](https://img.wattpad.com/cover/344802016-64-k611687.jpg)