Haii man temann (◕ᴗ◕✿)
♡ SELAMAT MEMBACA ♡
"Al belum siap, Bund. Banyak yang belum Al capai di dunia ini untuk membanggakan Ayah dan Bunda. Al masih mau temenin Bunda dan Ayah. Al masih ingin hidup lebih lama lagi untuk Bunda dan Ayah." Ujar Gio.
Sebagai seorang Ibu, hati Citra semakin hancur mendengar anaknya berkata demikian. Seperti ada benda tajam yang menusuk hatinya berkali-kali dengan begitu dalam.
"Al pasti sembuh 'kan, Bund?" Tanya Gio lagi dengan meneteskan air matanya. Citra hanya bisa terdiam tak mampu berkata-kata, ia tak mampu menjawab apapun karena semua ini sudah di luar kendalinya.
"Maafin Al ya, Bunda? Kalo selama ini sudah menyusahkan Bunda dan ayah, Al belum bisa membanggakan kalian. Tapi Al selalu berusaha yang terbaik di sekolah dan berjuang sekuat tenaga untuk bertahan demi Bunda dan Ayah." Ucap Gio sembari menatapi Bundanya yang sedang histeris.
"Enggak, nak. Bunda dan Ayah bangga punya kamu, kamu anak yang istimewa buat kita. Kami orangtua yang hebat bisa memiliki anak seperti kamu. Kami bangga kamu bisa sekuat ini, bahkan hati kami tidak mampu sekuat itu." Ucap Citra sembari mengusap lembut kepala Gio.
Air mata terus berjatuhan tiada henti dari kedua mata seorang Citra, sampai matanya terlihat begitu sembab. "Sudah mau bertahan sejauh ini, Bunda dan ayah sangat berterima kasih sekali."
Tiba-tiba datang Agung menghampiri mereka berdua yang sedang berbincang-bincang antara Ibu dan anak. "Gio, ada Andra." Ucap Agung.
Dengan cepat mereka berdua mengusap air matanya. "Andra suruh masuk aja, Yah." Pinta Citra kepada Agung yang langsung diangguki oleh suaminya.
Andra pun masuk ke dalam ruangan, Gio yang melihatnya hanya tersenyum tipis. "Gio, ini ...? Beneran lo?" Andra melihat Gio yang jauh lebih buruk dari sebelumnya.
"Beginilah gue, Ndra." Jawab Gio dengan lirih.
"Gio ..." kini tangisan Andra tak dapat ia bendung, isak tangisnya pun pecah tepat di hadapan Gio.
"Ngapain lo nangis? Alay amat," Gio berusaha menguatkan diri.
"Gue nangis karena lo orangnya lucu. Orang selucu ini malah sekarang jadi loyo." Andra berpura-pura bercanda untuk menyembunyikan sesak di dadanya karena melihat kondisi Gio yang jauh berbeda. Dengan alat infus yang menancap di tangan Gio, dan selang oksigen yang membantunya untuk bernafas.
Gio lantas tertawa kecil mendengar kelucuan Andra saat berbicara barusan. "Ndra ..." panggil Gio tiba-tiba.
"Hmm?"
"Gue boleh minta tolong lo gak?" Tanya Gio ragu.
"Tolong apa?" Tanya Andra seusai ia menghentikan tangisannya.
"Gue pengen ketemu Riska besok, bisa tolong bawa dia ke sini gak?"
"Bisa aja. Memangnya kenapa?"
"Ada yang mau gue sampaikan ke dia,"
"Tapi gue mohon sama lo. Jangan kasih tau temen-temen lagi soal kondisi gue yang begini sekarang, termasuk ke Riska." Andra hanya menganggukkan ucapan Gio.
"Gue kayaknya gak bakal bisa ikut kelulusan deh ..." Gio terlihat seperti orang yang sudah menyerah.
"Maksud lo apa sih?" Andra tak mengerti apa yang Gio katakan.
"Gue gak bakal bisa ikut ujian, apalagi kelulusan."
"Lo harus yakin dong, Gio!" Ucap Andra sedikit tegas.
"Gue gak bisa, Ndra! Tubuh gue minta istirahat," sahut Gio dengan nada sedikit meninggi dengan tangisnya yang mulai pecah.
"Gue lelah sama hidup ini, Ndra. Ini sakit, gue pengen hidup normal kayak anak-anak lainnya yang seusia gue." Ungkap Gio yang tak pernah ia katakan pada siapapun kecuali kepada Andra.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝙍𝙀𝙑𝘼𝙉𝘿𝙍𝘼 (𝓣𝓱𝓪𝓷𝓴𝓼 𝓐𝓻𝓰𝓲𝓸) [𝙴𝙽𝙳𝙸𝙽𝙶]
Ficção Geral𝗦𝗨𝗗𝗔𝗛 𝗠𝗘𝗟𝗔𝗟𝗨𝗜 𝗧𝗔𝗛𝗔𝗣 𝗥𝗘𝗩𝗜𝗦𝗜 ᴅᴇsᴋʀɪᴘsɪ ᴄᴇʀɪᴛᴀ ᴛᴇʟᴀʜ ᴅɪᴜʙᴀʜ. 𝘙𝘦𝘷𝘢𝘯𝘥𝘳𝘢 𝘑𝘰𝘷𝘢𝘯𝘰 𝘈𝘣𝘳𝘢𝘩𝘢𝘮, laki-laki yang masih duduk dibangku SMA. Menjadi korban broken home kedua orangtuanya, membuat dirinya terus menerus te...
![𝙍𝙀𝙑𝘼𝙉𝘿𝙍𝘼 (𝓣𝓱𝓪𝓷𝓴𝓼 𝓐𝓻𝓰𝓲𝓸) [𝙴𝙽𝙳𝙸𝙽𝙶]](https://img.wattpad.com/cover/344802016-64-k611687.jpg)