Candu. Itu yang dirasakan saat melihat segalanya tentang dirimu.
-Rasyana-
~~~
Saat menginjakan kaki di kantin yang cukup ramai, mereka berdua pun menatap sekeliling guna mencari tempat duduk.
"Disitu aja sya" unjuk Amel ke suatu meja yang kosong dipojokkan.
"Ya oke. Cepet sana tempatin keburu didudukkin orang nanti" ucap Rasyana mendorong pelan bahu Amel.
"Gue ke warung mbok Jum dulu sebelum rame noh" lanjut Rasyana mengkode amel agar melihat kondisi warung mbok Jum.
Menunggu dua orang didepannya, mata Rasyana menatap sekeliling hingga akhirnya dirinya terpaku dari sebuah pemandangan. Pemandangan yang membuat kondisi jantungnya berdetak tak normal. Sebuah tawa yang sudah menjadi candunya ketika ia menginjakkan kaki di SMA Aksara Bangsa.
Senyum yang tadi terukir pun ia normalkan kembali ketika orang yang berada dibelakangnya menegur ia karena sudah ada space didepannya ini.
"Ah, maaf ya" ujar Rasyana sembari melangkah kedepan
"Mbok, aku pesen soto dua sama es jeruknya dua ya" ucap Rasyana ketika sudah bagiannya untuk memesan.
Beberapa menit menunggu. Ketika dirinya sudah siap mengambil nampan yang berisikan pesanannya, ada sepasang tangan yang tiba-tiba mengambil nampan itu.
Rasyana kembali terpaku ketika tangannya tak sengaja bersentuhan dengan sepasang tangan yang ia tahu sekali siapa pemilik tangan itu.
"Mbak, ini nggapapa kan gue ambil? Lagian nih mbok Jum, saya pesen dari tadi tapi ngga dianterin-anterin. Kasian temen saya udah laper nih mbok"
Lamunan Rasyana buyar seketika mendengar suara berat itu, ia pun sontak melihat mbok Jum yang sedang meminta maaf. Lebih tepatnya ia yang tak berani menatap wajah itu. Katakanlah, Rasyana memang pengecut.
Belum sempat mengiyakan, nampan yang tadi ia pegang sudah berpindah tangan. Parfum yang sangat ia hafal pun sudah tak lagi tercium. Itu artinya, pemuda yang disampingnya sudah kembali ke tempat duduk dengan membawa pesanan yang sudah ia tunggu.
"Sebentar ya neng, bibi buatkan lagi. Tadi bibi lupa bikin pesanan aa yang barusan." Rasyana yang mendengar penuturan Mbok Jum hanya bisa berkata "Iya mbok, ngga papa."
~~~
"Sya, lo jadi ambil tawaran Mas Daffa?" tanya Amel sambil memakan sotonya.
Mas Daffa yang diceritakan Amel ini adalah seorang owner dari caffe tempat dirinya bekerja. Caffe Nuansa Bening, lebih tepatnya.
"Bingung gue mel sebenarnya. Lo tau sendiri kan, gue ambil jadwal di malam minggu aja itu umpet-umpetan" ujar Rasyana menyampaikan kegelisahannya.
"Tapi gue juga butuh duitnya. Semenjak nyokap bokap ngira gue nyuri duit mereka, jatah gue buat jajan dipotong" lanjut Rasyana
"Lo tawar aja deh ke mas Daffa nya, ditawar jadi tiga hari dalam seminggu. Apalagi caffe pasti bakal ramai kalo ada lo, bonusnya juga bisa lo rasain nantinya. Tahu sendiri kan lo kalo mas Daffa bakal royal ke karyawan yang kerjanya bener" ujar Amel memberi solusi
Rasyana yang mendengar itu pun, akhirnya memutuskan untuk memikirkan kembali keputusan apa yang akan ia berikan ke mas Daffa.
"Tapi inget kita bentar lagi kelas dua belas. Jangan sampai jadwal belajar lo ke ganggu. Gue ngga mau lagi liat lo lebam-lebam hanya karena nilai yang menurut gue itu sempurna"
Rasyana yang mendengarkan penuturan Amel dengan secara sengaja mencubit gemas pipi sahabatnya itu. "Iya Amelku, syapp"
Setelah percakapannya dengan Amel telah dirasa selesai, ia dengan secara sengaja menatap ke sekumpulan pemuda yang mengambil nampannya itu.
Tapi nyatanya, Amel ternyata menegur dirinya dengan nada kesal "lo ih, ko ngga dengerin gue? liatin siapa lo?" Amel pun mencari sosok yang dilihat sahabatnya itu "Lo naksir yang mana? gue kenal salah satu diantara mereka"
~Disisi lain~
"Lo ngerasa lagi diliatin ngga si sama cewe yang duduk di meja pojok?" bisik pemuda dua dengan mengkode matanya agar teman-temannya ini peka untuk melihat secara tidak terang-terangan.
Namun seperti biasa, didalam lingkup pertemanan ada saja teman yang tak mengerti kode tersebut, jadi di lihat lah secara terang-terangan sambil berkata "Oh yang itu?"
Pemuda dua pun sontak melototkan matanya "Gue kan udah kode, kalo mau lihat jangan terang-terangan bego. Kan kalo gini, mereka tau kalo lagi kita omongin"
"Ya mana gue ngerti anjir. Lagian kan gue penasaran sama tu cewe yang lo bilang"
"Nih lagi, yang lagi diliatin cewe cakep malah asyik sendiri sama sotonya" lanjut pemuda dua
"Iya anjay, homo kah dirimu wahai sahabat ku? Masa cakep begitu kaga doyan"
Pemuda satu yang menjadi pelaku utama dari pengambilan nampan yang Rasyana pegang sontak menghentikan suapannya dan menatap tajam temannya yang tidak berhenti untuk berbicara.
"Bacot lo, laper nih gue. Makan noh soto lo"
KAMU SEDANG MEMBACA
Rumah, apa itu?
Teen FictionBagi sebagian orang, pulang ke sebuah "rumah" adalah tujuan ketika sudah capek dari segala hal. Disambut hangat, adalah sebuah mimpi yang ia inginkan ketika usianya makin beranjak dewasa. Ntah salah apa yang ia perbuat, hingga rasanya ia berfikir ba...
