Bahagianya kian bertambah. Tuhan, semoga ini tak sebentar.
-Rasyana-
~~~
Genggaman itu tak pernah lepas sedari Rasyana melangkahkan kakinya keluar kelas. Ejekan sedari tadi tak berhenti terdengar. Godaan dari temannya dan teman-teman Sauqy.
Ia sudah berusaha untuk melepaskan genggaman itu namun apa daya, tenaga nya tak sekuat pemuda itu.
Bukan dirinya tak suka dengan kehangatan ditangannya itu, hanya saja sedikit malu sebab tak terbiasa dengan yang seperti ini.
"Kamu kenapa si nunduk terus?" Tanya Sauqy ketika sadar akan diamnya perempuan disampingnya ini.
"Waduh udah kamu-kamuan nih, besok kayaknya udah manggil ayah bunda" Tawa dibelakang mereka mulai terdengar kembali ketika celetukkan Fajar. Mereka tertawa tanpa memperdulikan Rasyana yang sudah merah merona.
"Bisa dilepas dulu ngga si" Cicit Rasyana pelan.
Baru saja bernafas lega dan bercampur dengan rasa ketidakrelaan atas terlepasnya genggaman itu, kakinya mendadak terhenti ketika mendapati sebuah rangkulan di bahunya.
"Ayo kenapa berhenti?"
Tulung dong pak Sauqy, apakah anda tak mengerti dengan jantung saya yang semakin berdetak kencang? apakah anda tak mengerti dengan tubuhnya yang tiba-tiba saja lemas? - Batin Rasyana
Menghiraukan pertanyaan itu, Rasyana berbalik badan untuk melihat sahabatnya yang ntah sejak kapan menjadi kawan dengan teman-teman Sauqy.
Mendapat lirikkan tajam yang diperlihatkan oleh Rasyana, Amel pun hanya mampu menyengir "Sorry deh sorry. Gue duluan ya." setelah mengucapkan itu ia pun bergegas pergi.
"Jar! Gue tunggu ditempat biasa ya" Satu kalimat dengan teriakkan cukup kencang, membuat Sauqy ikut berbalik menghadap belakang, menatap sang empu yang bernama Fajar.
Fajar yang merasa terpojokkan itu hanya mampu menggarukkan tengkuknya yang tak gatal "Sorry gue ngga bisa jelasin." Setelah mengatakan itu Fajar pun berlari meninggalkan rasa penasaran teman-temannya itu.
"Yaudah lo ngapain disini?" Tanya Sauqy menatap Zidan dengan menaikkan alisnya.
Raut wajah melas mulai Zidan tampilkan "Gue nebeng lo dong qy" Ujarnya tak tau diri
"Enak aja lo. Gue mau pacaran nih sama pacar gue" Selesai dengan perkataan itu, Sauqy pun berbalik pergi dengan rangkulan yang masih bersandar di bahu Rasyana dan meninggalkan Zidan yang hanya bisa mengelus dada.
"Sabar... Sabar... Nih harusnya si Rasyana punya temen dua, kan biar gue kebagian."
~~~
Motor yang ditumpangi dua insan yang sepertinya sedang dimabuk asmara terhenti ketika melihat warna merah menyala diantara dua warna lainnya yang tidak menyala.
Menegakkan badan sembari melemaskan kembali otot-otot yang kaku ketika ia tahu waktu untuk menuju warna hijau masih begitu lama.
"Kita kerumah gue dulu ya, bunda katanya mau ketemu lo"
Mendengar ucapan itu rasa kantuk yang tadi mulai menghilangkan kesadarannya mendadak hilang, Pendengarannya tidak salah bukan?
Rasyana pun mendekatkan dirinya ke pemuda didepannya lalu berucap untuk memastikan "Apa? Kerumah lo? Sekarang banget nih?"
"Iya sekarang. Gue udah di teror dari pagi sama bunda"
"Lagian nih gue baru sadar, lo pegangan dimana deh? Jatuh tau rasa lo" Lanjut Sauqy mengambil kedua tangan Rasyana untuk dilingkarkan di pinggangnya.
Pergerakkan Rasyana yang ingin melepaskan pegangan itu terhenti ketika tangannya ditahan cukup kuat "Jangan dilepas. Bandel banget deh! Kalo lo jatuh sih gue ngga mau tanggung jawab"
"Kok bunda lo bisa tau gue?" Rasa penasaran sebenarnya sudah mulai ada ketika mendengar bunda pemuda itu ingin bertemu dirinya
"Tau lah, kan gue cerita"
"Gue sering cerita yang setiap ceritanya pasti nyebut lo itu Rasyana Boncel"
KAMU SEDANG MEMBACA
Rumah, apa itu?
Teen FictionBagi sebagian orang, pulang ke sebuah "rumah" adalah tujuan ketika sudah capek dari segala hal. Disambut hangat, adalah sebuah mimpi yang ia inginkan ketika usianya makin beranjak dewasa. Ntah salah apa yang ia perbuat, hingga rasanya ia berfikir ba...
