"Memang karma tidak akan pernah salah sasaran"
-Rasyana-
~
~~~~~
Amel sudah berangkat ke kota yang akan ia tempuh untuk melanjutkan pendidikannya beberapa hari yang lalu, itu artinya waktu Rasyana berada di negara ini juga sebentar lagi.
Di tengah rasa malas yang mendera, Rasyana memutuskan untuk berbenah. Memilah barang apa saja yang akan di bawa dan barang apa saja yang akan ia sumbangkan nantinya.
Sebab mulai besok, Rasyana akan tinggal di hotel yang sudah di persiapkan oleh pihak penanggung beasiswanya itu
Sehabis berbenar, Rasyana berniat untuk mampir ke rumah orang tuanya untuk berpamitan sekaligus mengecek kondisi rumah setelah rahasia anak kesayangan mereka terbongkar. Karena jujur, setelah pengusiran itu Rasyana benar-benar memutus ikatan keluarga
Setelah bersilahturahmi nanti, Rasyana juga berniat mengajak abang sahabatnya itu berbicara. Pembicaraan yang juga nantinya akan diakhiri salam perpisahan
"Eh mbak, masuk mbak" Ucap bi Marni mempersilahkan Rasyana untuk masuk
"Rumah ko sepi bi? Pada kemana emangnya?" Pertanyaan itu Rasyana lontarkan ketika melihat suasana rumah yang sepi
"Mbak belum tau beritanya ya?" Tanya bi Marni dengan hati-hati
"Berita apa? Tentang Clara? Kalo itu mah aku udah tau bi"
"Bukan mbak-"
"Em...Dua hari yang lalu...Tuan meninggal mbak"
Bagai tersambar petir, gerakan Rasyana yang hendak meminum teh pun terhenti. Kesadarannya kembali pulih ketika mendapatkan usapan dari bibinya itu
"Mbak yang sabar ya"
Rasyana menatap mata bibinya itu, berusaha mencari kebohongan atas apa yang di ucapkannya itu
"Bagaimana bisa-"
"Tapi di depan...Sama sekali ngga ada bendera kuning bi" Ucap Rasyana dengan nada bergetar. Matanya pun mulai berkaca-kaca
"Ah, kalo masalah itu memang bibi copot mbak. Soalnya setiap nyonya ngga sengaja liat bendera itu, nyonya langsung teriak-teriak ngga jelas mbak. Seperti masih belum bisa terima atas kepergian tuan"
Setelah melihat kondisi mamahnya, Rasyana memutuskan untuk membawa mamahnya menuju rumah sakit jiwa agar mendapatkan penanganan khusus. Sebab jika di biarkan saja berada di rumah, ia merasa kasihan pada bi marni yang harus menjaga dengan extra mamahnya
Ah, keluarganya benar-benar hancur rupanya
Setelah urusannya di rumah sakit jiwa selesai. Rasyana mulai kembali ke tujuannya untuk berpamitan serta mengucapkan maaf beribu maaf pada wanita tua itu. Karena mulai sekarang, Rasyana memutuskan akan memberhentikan Bi Marni
Bi Marni yang mendengar keputusan itu pun sangat-sangat menerimanya. Ia justru merasa kasihan pada anak majikannya. Matanya terahlikan pada perut Rasyana yang sedikit menonjol, tanpa ragu bi Marni mulai mengusap sayang "Sehat-sehat ya cucu bibi"
~~~
Meski masih terkejut dengan apa yang terjadi, Rasyana mencoba sekuat tenaga mengikhlaskan atas takdir yang di berikan tuhan pada keluarganya
Tadi Rasyana juga sudah mengunjungi makam sang papah. Tangisan pun lolos ketika Rasyana mulai duduk di samping pusara makam papahnya. Mengusap nisan sang papah, Rasyana berkata "Aku udah maafin segala kesalahan papah. Papah juga harus maafin aku ya kalo aku ada salah. Nanti kalo anak aku lahir, aku akan tetap memperkenalkan papah padanya nanti. Doain mamah dari sana ya pah, nanti kalo mamah udah sembuh, Rasyana pengen bawa mamah ikut Rasya"
Hening sejenak,
"Aku izin pamit ya pah. Doain aku semoga slalu baik-baik saja nanti di sana ya pah"
~~~
Sesuai dengan janjinya dengan Kenzo, mereka kini berada di sebuah taman yang begitu indah dengan keadaan sekitar yang sepi
Beberapa menit keadaan cukup hening, hingga Rasyana akhirnya angkat bicara sehah Rasyana rasa pertemuan ini harus segera di akhiri
"Aku mau sangat berterimakasih sebelumnya atas segala hal yang slalu abang usahain buat aku. Aku mau minta maaf kalo selama ini slalu bikin abang repot. Aku juga mau ngucapin selamat buat abang"
Rasyana mengatur napasnya sejenak
"Selamat ya, bentar lagi abang bakalan jadi ayah"
"Tolong juga abang harus usahain untuk hapus perasaan itu. Perasaan abang ke aku harus segera berganti menjadi perasaan sayang buat mba Kiara. Aku udah denger semua penjelasan dari Amel"
"Jadi tolong jangan menjadi pria yang brengsek, sebab abang yang aku kenal adalah manusia dengan segala sifat baiknya. Jangan jadikan mba Kiara seperti aku, cukup aku yang merasakan itu"
"Satu lagi, bagaimana pun cara dia hadir di dunia. Dia tak patut untuk di salahkan" Ucap Rasyana di akhiri dengan mengelus perutnya
KAMU SEDANG MEMBACA
Rumah, apa itu?
Teen FictionBagi sebagian orang, pulang ke sebuah "rumah" adalah tujuan ketika sudah capek dari segala hal. Disambut hangat, adalah sebuah mimpi yang ia inginkan ketika usianya makin beranjak dewasa. Ntah salah apa yang ia perbuat, hingga rasanya ia berfikir ba...
