Keadaan yang membuatnya harus menanggapi drama murahan
-Rasyana-
~~~
Ia pun melangkahkan kakinya menuju kamar. Tubuhnya terasa letih sebab dari pagi ada saja kegiatan yang ia lakukan.
Berada di undakan tangga terakhir, telinganya dapat mendengar suara riuh yang berasal dari kamarnya.
"Apa-apaan ini?" Tanyanya dengan nada terkejut ketika melihat kamarnya sangat berantakan
"Maksudnya apa ini?" Lanjutnya bertanya kepada dua orang yang ia tebak menjadi pelaku akan kekacauan kamarnya
"Kamu nyuri apa lagi? Ayo cepat katakan" Tuduh sang ibu negara
"Cepet lo ngaku. Nih yang baru ketemu jam tangan sama kalung" Ujar Clara menunjukkan apa yang sedang ia pegang
"Udah Clara bilang mah, itu laci pasti ada sesuatunya" Lanjut Clara memperkeruh suasana
"Apaan sih anjing! Gue ngga ada waktu buat nyuri begituan. Mana pernah gue masuk kamer orang tua lo" Ucapnya menyilangkan dada sembari mendongakkan kepalanya.
Mendengar kalimat terakhir yang di ucap anaknya itu, membuat sudut di hati sang ibu negara merasa tersentil.
Melihat mamahnya terdiam, membuat clara bergegas menggoyangkan lengan mamahnya "Mah! Kok diem? Ayo cepat suruh dia untuk buka laci itu! Pasti dia juga naruh hasil curiannya disitu"
Seakan tersadar dari lamunan yang sekejap itu, dirinya bergegas pergi. Saking terburu-burunya ia tak sengaja menabrak bahu Rasyana hingga membuat putrinya itu terhuyung ke belakang.
Tumben - Batin Rasyana
Setelah menegakkan dirinya, Rasyana melangkahkan kakinya ke arah pintu, menyender pada pinggiran pintu lalu menyilangkan tangannya.
"Jadi, lo mau keluar sendiri atau gue seret? Mumpung ngga ada bokap lo"
Mendengar itu membuat Clara menahan rasa kesal "Apa-apaan itu mamahnya berlalu begitu saja" ucapnya dalam hati
Sial, tunggu aja lo - Batin Clara
~~~
Ketika sedang pusing-pusingnya belajar materi untuk beasiswa kuliah di luar, ia dikejutkan dengan gedoran pintu yang tak berhenti.
Tak langsung membuka pintu, justru ia beranjak menuju cermin. Merapihkan rambutnya yang baru saja ia potong pendek secara asal. Dan dirasa sudah benar, ia pun melangkahkan kakinya untuk membuka pintu.
"KAMU APAKAN PUTRI SAYA?" Bentakan ity membuat Rasyana ___ dahi pertanda ia tak mengerti maksud dari ucapan pria tua di depannya.
Lalu tak lama ia mengerti, sebab di belakang pria tua itu ada seseorang yang menangis pelan.
"Jawab pertanyaan saya!" Sentak pria tua itu ketika tak ada jawaban dari Rasyana
"Tolong bisa dijelaskan maksud dari perkataan anda itu apa? Bisa-bisanya menuduh saya. Sedangkan saya merasa ngga melakukan hal aneh"
Mendengar itu pun membuat pria tua itu lantas menarik pelan putrinya agar berdiri disamping dirinya.
Kembali ___ dahinya, lalu ia menatap Clara dari atas sampai bawah. Bibirnya sedikit terangkat ke atas ketika melihat beberapa lebam yang ada di tubuh perempuan itu.
"Habis adu tinju lo?" Lontar Rasyana
"Tidak usah mengalihkan topik kamu!" Ucap pria tua itu dengan amarah yang masih membuncah
Et dah, serangan jantung baru tau rasa lo - Batin Rasyana
"Gue? Gue ngga ada ngelakuin apapun sih"
"Bohong. Sore tadi pas aku sama mamah lagi geledah kamer dia, terus nemuin kalung sama jam tangan mamah yang ilang. Aku ngga tau kenapa, mamah sama sekali ngga marahin dia. Mamah malah pergi gitu aja. Setelah mamah pergi, aku sama dia emang terlibat perdebatan karena dia ngga mau sama sekali untuk buka laci yang waktu itu aku sama papah suruh dia buka juga. Akhirnya dia ngga terima, abis itu dorong aku sampe kepentok dipan kasur. Dia juga injek tangan aku, bahkan narik rambut aku. Papah bisa liat sendiri lembam ditangan aku separah apa" Adu Clara
KAMU SEDANG MEMBACA
Rumah, apa itu?
Teen FictionBagi sebagian orang, pulang ke sebuah "rumah" adalah tujuan ketika sudah capek dari segala hal. Disambut hangat, adalah sebuah mimpi yang ia inginkan ketika usianya makin beranjak dewasa. Ntah salah apa yang ia perbuat, hingga rasanya ia berfikir ba...
