Tuhan, aku sungguh-sungguh serius. Bahagia ini, semoga aku rasakan terus ya.
-Rasyana-
~~~
Disinilah ia berada, di dapur yang terasa hangat menemani ibunda Sauqy untuk membuat makan malam. Sudah selama itu memang ia berada di rumah Sauqy. Rasa nyaman yang terpancar membuat dirinya enggan beranjak pergi dari bangunan ini.
"Loh bunda, ini anak gadis dari mana?" Kedua perempuan yang sedang asyik melakukan kegiatan memasak pun terkejut.
"Ayah! Bisa ngga ngagetin ngga sih?" Nada kesal yang diucap bunda Sauqy pun terdengar
"Ayah sih ngga ngerasa kagetin bunda. Bunda nya aja yang terlalu asyik. Tadi ayah ngucapin salam aja ngga ada yang jawab" Elak ayah Sauqy yang kemudian melangkahkan kakinya mendekati sang istri kemudian mengecup sayang kening istrinya itu.
"Eh itu maksudnya apa ya, bermesra-mesraan depan pacar iqy?" Tanya Sauqy yang berada diujung bawah tangga menatap ke arah dapur.
Mendengar perkataan sang bunda membuat Sauqy melanjutkan langkahnya yang tadi terhenti. Berdiri disamping Rasyana lalu dengan lancang merangkul kembali perempuan itu.
"Enak aja, itumah bundanya aja yang kagetan. Ya kan sayang?"
Belum kelar dengan kecanggungan yang Rasyana rasakan akan kehadiran sang ayah Sauqy, kini pipinya merona mendengar kata terakhir yang diucapkan oleh pemuda itu.
"Minimal jadian dulu bang! Baru deh bisa panggil sayang-sayangan. Awas kamu ngga kasih kepastian ke mantu bunda. Ada yang baru ngasih info katanya belum diperjelas juga."
"Loh kan ini prosesnya juga ke situ bun"
"Ya kalo kelamaan juga nanti takut diambil orang bang" Pelototan mata ia layangkan kepada putranya itu. Dirinya kan juga perempuan, jadi pasti lah mengerti apa yang dirasakan oleh mantunya ini.
"Udah deh kamu lepas rangkulan mu itu, kasian mantu bunda ngga selesai-selesai motongin wortelnya. Kamu mending tunggu di ruang tv. Ayah juga mandi dulu sana biar seger, abis itu kesini lagi buat makan"
~~~
"Nanti ya sabar, nanti ada waktunya kok gue akan kasih tau lo. Gue masih mempersiapkan diri" Ujar Rasyana ketika Sauqy terus memaksa ia untuk mengantarkannya sampai depan rumah.
Tadi tepat pukul sembilan, ia pamit untuk pulang. Ia membawa barang tambahan berisikan satu toples cookies bikinan bunda pemuda itu. Untuk cemilan dirumah, katanya.
"Yaudah sana masuk dulu" Dorongan pelan Sauqy berikan dibahu perempuan itu.
Merasa masih ada tenaga, Rasyana menepiskan tangan pemuda itu "Lo duluan aja. Gue ngga bakal kenapa-napa. Perumahan gue aman, lo ngga liat ada satpam disana?"
Setelah melihat apa yang ditunjuk Rasyana, Sauqy pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dan benar, jalanan juga masih cukup ramai.
"Bener nggapapa?"
"Iya udah sana pergi. Hus hus hus"
Mendengar nada usiran itu membuat Sauqy mendelik tak terima "Ye, yaudah nih gue pulang" Ujarnya menggunakan helm kembali.
Baru saja ingin menancapkan gasnya, ada sebuah tangan dilengannya yang membuat ia akhirnya mematikan motornya kembali.
"Kenapa? Tadi lo ngusir gue. Sekarang nahan-nahan"
"Itu-em lo bisa stop panggil gue "sayang" dan juga-em stop untuk ngaku-ngaku jadi pacar gue?"
"Kenapa sih emang? Lagian kayaknya nggapapa latihan dulu sebelum emang beneran official"
KAMU SEDANG MEMBACA
Rumah, apa itu?
Novela JuvenilBagi sebagian orang, pulang ke sebuah "rumah" adalah tujuan ketika sudah capek dari segala hal. Disambut hangat, adalah sebuah mimpi yang ia inginkan ketika usianya makin beranjak dewasa. Ntah salah apa yang ia perbuat, hingga rasanya ia berfikir ba...
