DWC 26 - Tangisan Terakhir

38 7 2
                                        

Biru Harmonika Jendela

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Biru Harmonika Jendela

---

Aku terbangun pada suatu pagi yang terasa berbeda. Mataku masih bengkak sisa menangis semalaman. Duka yang berkedut terus bahkan ketika pagi telah tiba.

Tersaruk perlahan aku bergerak ke arah jendela yang tertutup gorden berwarna cokelat gelap. Mataku menangkap bias cahaya menerobos masuk tanpa ragu.

Langit di luar terlihat sangat BIRU. Tak semendung hatiku yang masih berkabung. Harusnya warna itu bisa menenangkan, tapi air mataku kembali jatuh.

Ini bukan tentang tangis yang tertumpah berhari-hari, setiap malam, tapi tentang bagaimana aku kembali mampu menata hati yang berantakan.

Di sudut kamarku, tergeletak sebuah HARMONIKA tua, pemberian dari kakekku sebelum ia meninggal. Aku belum pernah benar-benar memainkannya, takut akan memecahkan kenangan yang melekat padanya.

Satu-satunya keluargaku. Yang dengan tubuh ringkihnya tetap mendorong gerobak cimol berjualan berkeliling kampung. Demi memberiku makan. Demi menjamin diriku bersekolah setinggi mungkin.

Kala pulang berjualan, Kakek acap kali memainkannya sambil menemaniku belajar mengejar semua ketinggalan. Kakek hanya ingin aku fokus belajar. Menjadi orang sukses dan mendapat pekerjaan yang layak kelak. Keluar dari kemiskinan yang menurutnya membuatku menderita.

Padahal, tidak!

Aku sama sekali tidak bersedih hidup serba kekurangan.

Asal bisa makan, cilok bumbu kacang buatan Kakek sudah membuatku kenyang dan bahagia.

Tidak ada orang lain yang menerimaku. Ayah dan ibuku membuangku. Membuang Kakek.

Kakek hidup untukku, aku pun hidup demi membahagiakan Kakek.

Namun, kini semua sudah menghilang.

Matahariku sudah menutup mata selamanya.

Di tengah kesunyian yang kini merajai setiap sudut rumah, aku terduduk lesu di tepi JENDELA, memandangi langit yang ceria. Begitu bertolak dengan perasaanku.

Dua minggu telah berlalu sejak kakek meninggalkan dunia ini, tapi tangisku tak kunjung berhenti.

Kuatir napas dan mulai mengembuskan ya pada kenangan Kakek yang tersisa.

Melodi yang tercipta terdengar bergetar memancarkan kesedihan dan kerinduan yang mendalam. Melalui not-not yang terbentuk acak, aku merasakan kedekatan dengan Kakek, seakan ia masih di sini. Mendengarkan.

Aku sadar bahwa kematian memang selalu memisahkan, tapi kenangan dan kasih sayang yang ditinggalkan akan selalu menyatukan.

Di pagi yang bersinar, aku menghapus air mata terakhirku. Aku akan berjuang untuk tetap berdiri tegar. Mewujudkan impiannya. Menjadi manusia yang lurus dan jujur. Perempuan yang akan membahagiakan banyak orang di sekitarku. Berbagi dan menjaga seperti Kakek menjagaku selalu.

Hidup memang tidak pernah mudah. Dan hidupku sama menyedihkannya seperti banyak orang di dunia. Khususnya ketika aku kehilangan satu-satunya orang yang mencintaiku.

Apa aku akan menemukan orang yang tulus mencintaiku seperti Kakek?

Aku tidak tahu.

Namun, aku percaya, dalam setiap kepergian, ada pelajaran yang bisa diambil. Kakek telah mengajarkan tentang kekuatan, tentang ketabahan, dan tentang pentingnya mencintai serta diingat dengan baik.

Di luar, langit akan terus berubah. Berputar dalam melodi indah penuh misteri. Dan di dalam siklus itu, aku harus terus bergerak maju, menghargai setiap cuaca, dan menjadikan kebaikan sebagai kompas hidupku.

Aku menaruh kembali benda mungil itu di tempatnya.

Aku mungkin akan menangis sedih ketika mengenang Kakek. Namun, aku akan semakin memperpendek waktu tangisku. Aku tak ingin ia tersiksa di alam kubur.

Karena dalam setiap eembusan napas, dalam setiap detak jantung, aku tahu cinta kakek selalu di sini.

Dalam kenangan, dalam pelajaran, dan dalam kasih sayang yang abadi.

Dalam kenangan, dalam pelajaran, dan dalam kasih sayang yang abadi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

MINIMAL 500 IS HARD!!!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


MINIMAL 500 IS HARD!!!

Bertunas Setiap HariCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang