Apa yang kamu pikirkan setiap baru membuka mata?
Tentang rencana hari ini?
Tentang mimpi yang ingin dicari?
Atau justru duka malam tadi?
Ini kisah acak tentang pikiran-pikiran yang muncul ketika menyesap teh, menghidu aroma kopi, menatap tetes huja...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ketika pria itu membuka mata, ia tidak berada di gudang tempat dia hendak menggantung legernya. Di depannya, makhluk-makhluk asing dengan mata besar dan kulit berkilauan menatap penuh ekspektasi. Suara mendengung aneh menggema di sekitar, seolah menuntut sesuatu darinya.
Apa ini akhirat?
Jantungnya berdegup kencang. Namun, rasa dingin di tangannya nyata. Napasnya tersengal saat seseorang—atau sesuatu—menyodorkan benda berbentuk mikrofon. Mereka ingin dia bernyanyi.
Ia menelan ludah. Suara berat dari makhluk setinggi dua meter mengaum dalam bahasa yang tidak ia mengerti, tapi gesturnya jelas: nyanyikan sesuatu, atau hadapi konsekuensinya!
Tangan pria itu gemetar saat ia menggenggam mikrofon. Ia mengeluarkan debas.
Aku nyanyi aja, deh! Toh, paling buruk mati. Aku memang sudah pengin mati. Di dunia nyata aku juga udah dibuang, pikirnya pahit.
Tidak ada lagi kontrak besar, tidak ada lagi penggemar yang menantinya. Kariernya hancur dan tak ada tempat yang benar-benar ingin menerimanya kembali. Mungkin, ini lebih baik daripada kembali ke dunia yang telah melupakannya.
Tidak ada panggung megah, tidak ada lampu sorot, hanya dirinya dan tatapan belasan pasang mata yang tak berkedip. Ia menutup mata sejenak, mencoba mengendalikan napas. Lagu pertama yang terlintas di pikirannya adalah lagu yang selalu ia nyanyikan untuk menenangkan diri—sebuah melodi sederhana yang ia ciptakan saat masih remaja.
Saat suara pertamanya mengalun, keheningan menyelimuti ruangan. Makhluk-makhluk itu membeku, beberapa bahkan terlihat bergetar halus. Ia membuka mata dan melihat sesuatu yang mengejutkan: kilauan lembut di sekitar mereka, seolah suara yang ia keluarkan memiliki efek menenangkan siapa pun yang mendengarnya.
Ketakutannya perlahan luruh. Ia terus bernyanyi, dan semakin lama, tubuhnya mulai rileks. Suaranya mengisi ruangan, menembus batas komunikasi yang berbeda. Mereka tidak bersorak, Mereka tidak meneriakkan namanya. Namun, yang dirasa justru kehangatan.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia benar-benar memahami kekuatan musik. Ini bukan soal popularitas atau seberapa besar dia dielu-elukan. Namun, bagaimana perasaannya tersampaikan pada pendengarnya.
Tidak perlu bahasa yang sama, tidak perlu kata-kata yang dimengerti—hanya emosi yang mengalir tanpa sekat.
Saat lagu itu berakhir, keheningan menggantung sesaat. Kemudian, gelombang suara aneh—mungkin tepuk tangan dalam bentuk lain—menggema di sekelilingnya. Ia tersenyum samar. Mungkin, hanya mungkin, ia bisa bertahan di tempat ini.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
13 Feb 25
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
KAGA PAHAM LAGI WAKAKAKAKAK Gimana bikin cerita Isekai tapi membawa Hikmah? Tolong terangkan? ahahah