DWC - 23 - Death

9 4 2
                                        

# DAY 23

>Bunuh karakter utama kalian hari ini di akhir cerita

💜💜💜💜

Aku melangkah menerobos kubangan lumpur pekat, membelah kerumunan pekerja yang menunduk gemetar. Saat rotan di tangan sang punggawa mengudara, bersiap membelah punggung kerempeng wanita tua yang tersungkur itu, aku melompat dan menangkap ujungnya. Telapak tanganku perih tergores serat rotan yang kasar, tetapi cengkeramanku tak mengendur sedikit pun.

"Hentikan!" suaraku menggelegar lantang, memecah bisingnya derik cangkul dan gemericik air di tepian Kali Gomati.

Punggawa berkalung emas itu terbelalak. Wajahnya merah padam mendapati seorang pekerja rendahan berani menentang otoritasnya di siang bolong.

"Lancang nian kau, budak kotor!" hardiknya berusaha menyentak rotan itu dari genggamanku.

"Kalian yang kotor!" balasku tak kalah tajam, menuding lurus ke deretan kereta kuda di bawah tenda jerami yang teduh. "Kalian merampas beras putih jatah para pekerja ini dan menukarnya dengan gabah busuk bercampur sekam! Paduka Maharaja Purnawarman menitahkan kemakmuran bagi rakyatnya, bukan kelaparan yang kalian ternakkan demi memperkaya diri sendiri!"

Hening seketika mencekik seluruh area penggalian. Ribuan pasang mata menatapku dengan nyalang. Aku lupa, menyuarakan kebenaran secara terang-terangan di era feodal adalah tindakan bunuh diri.

Aku sangat menyadari hal itu. Di dimensi sebelumnya, aku berencana menjadi agen ganda yang bergerak dalam bayangan untuk meruntuhkan korupsi. Namun di tanah leluhur ini, darahku mendidih terlalu cepat. Kebusukan ini terlalu telanjang untuk kubiarkan merajalela.

Sang punggawa mendengus sinis. Ia sama sekali tidak berniat berdebat dengan kaum papa. Ia melepaskan rotannya, lalu menarik sebilah belati perunggu yang berkilat kejam dari balik sabuknya. Matanya memancarkan niat membunuh yang pekat. Tatapan yang begitu familier, persis seperti Arthur sang kanibal di ruang makan itu. Monster yang serakah akan selalu melindungi hartanya dengan tumpahan darah.

"Orang mati tidak bisa mengadu pada raja," desisnya dingin.

Sebelum kakiku yang terjebak lumpur sempat mundur untuk menghindar, ia menerjang maju. Belati perunggu itu melesat kilat tanpa ragu, merobek kasar kain tenunku, dan menancap sangat dalam menembus ulu hatiku.

Napasku terputus seketika. Rasa sakit yang tajam meledak, memadamkan api perlawanan di nadiku. Tubuhku terhuyung ke belakang, lalu ambruk menghantam tanah liat Tarumanegara.
Darahku mengalir deras, mewarnai lumpur basah di tepian Gomati menjadi merah pekat. Memperjuangkan keadilan ternyata selalu menuntut tumbal pertama yang sudi mati untuknya.

Dan di bawah terik matahari abad kelima ini, aku membiarkan diriku menjadi tumbal itu. Aku tersenyum samar, lalu menutup mata untuk selamanya. Kegelapan mutlak pun merengkuhku tanpa sisa.

💜💜💜💜

230426

DISURUH MATIIII!!!!

Bertunas Setiap HariCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang