Apa yang kamu pikirkan setiap baru membuka mata?
Tentang rencana hari ini?
Tentang mimpi yang ingin dicari?
Atau justru duka malam tadi?
Ini kisah acak tentang pikiran-pikiran yang muncul ketika menyesap teh, menghidu aroma kopi, menatap tetes huja...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Prequel Fathiya
Lintang
Ada suara letupan halus air mendidih di dalam panci. Aroma gurih kuah kaldu semerbak di dapur kedai. Dengan cekatan aku menarik mi dari wadah, menyelupkannya ke kaldu mendidih sejenak sebelum kuletakkan ke mangkok, lalu kutimbun dengan aneka isian.
Menu utama kedai Mi Ayam Bang Lintang!
Kedai luas yang didominasi warna hijau, menjadi saksi bisu dedikasiku dan kerja keras dalam memuaskan selera pelanggan. Lantai yang mengilap, meja kayu dengan sentuhan warna hijau, dan lampu gantung dengan cahaya hangat menciptakan suasana yang nyaman dan menarik bagi siapa saja yang melangkah masuk.
Aroma khas mi ayam, perpaduan dari kaldu ayam gurih, minyak bawang yang harum, dan daun bawang segar, menguar, mampu memenuhi setiap sudut ruangan. Menggoda setiap indera yang ada.
Aku yang menyiapkan semua setiap malam. Memotong ayam segar untuk dipotong dadu dan direndam dalam campuran bumbu sedap. Dibiarkan meresap semalam dan empuk hingga alhamdulillah bisa membuat penikmatnya ketagihan.
Kedai mie ayamku Qadarullah mulai terkenal di seantero Depok. Sejak promosi videoku viral, kedai ini selalu ramai dikunjungi pelanggan, terutama di malam hari seperti ini, ketika udara dingin menyentuh kulit. Dinginnya malam membuat kedai semakin ramai, orang-orang mencari kehangatan dalam semangkuk mie ayam.
Melihat kedai penuh dengan pengunjung yang bercengkerama, tertawa, dan menikmati masakan, mampir memberikan rasa bahagia yang luar biasa dalam diriku. Impian yang sejak dulu sering diremehkan orang kecuali ibuku.
Hari itu, aku memiliki firasat kuat bahwa sesuatu yang baik akan terjadi. Firasat itu semakin kuat saat aku mengimami salat di musala tadi. Saat itulah, aku merasakan ketenangan batin yang mendalam, sebuah intuisi yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Jika memang aku akan segera mendapatkan kebahagiaan, aku pun berdoa untuk kebahagiaan semua orang. Bukankah mendoakan orang lain juga akan kembali pada diri kita sendiri?
Saat membantu pegawai mengeluarkan pesanan ke meja kasir, mataku tertuju pada sosok berjilbab panjang yang tampak muram di meja paling ujung. Dia dikelilingi teman-temannya yang ceria, tapi tetap ada aura kesedihan yang mengitari wajahnya.
Fathiya Khairinidda.
Cinta pertama yang pernah mengisi masa remajaku kala SMA. Dia masih cantik seperti dulu. Masih selalu muram seperti dulu.
Melihatnya setelah sekian lama, perasaan yang dulu pernah kubendung kembali muncul. Detak jantungku berpacu, dan kenangan lama kembali berputar tanpa bisa dihalangi.
Haruskah aku menyapanya?
Atau aku harus pura-pura kembali tak tahu dan menghilang dari kehidupannya seperti dulu?
Tiba-tiba aku kembali teringat isyarat baik yang kurasa tadi.
Tidak!
Kali ini aku tidak akan menyesal seperti dulu.
"Fathiya?" Suaraku tercekat kala memastikan benar dia yang ada di depanku. Bukan halusinasi impian dari tumpukan mimpi-mimpiku setiap waktu. "Kamu, Fathiya Khairinidda, kan?"
Dia pun mendongak.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Punya tetangga 🤣🤣🤣
Buatlah cerita dengan tema, makanan/minuman favorit kalian dengan tokoh utama kebalikan dari gender kalian
Btw, ini prequel ceritaku yang Fathiya.
Tunggu, yaaa!!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.