Apa yang kamu pikirkan setiap baru membuka mata?
Tentang rencana hari ini?
Tentang mimpi yang ingin dicari?
Atau justru duka malam tadi?
Ini kisah acak tentang pikiran-pikiran yang muncul ketika menyesap teh, menghidu aroma kopi, menatap tetes huja...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bikin interpretasi dari lagu random karena top song 2024 ga ada.
💜💜💜💜
Ruang pengemasan Satuan Pelayanan Program Gizi sore itu terasa lebih pengap dari biasanya. Udara seolah berhenti mengalir, terjebak di antara tumpukan kardus cokelat yang menjulang hingga nyaris menyentuh langit-langit berjamur. Kipas angin tua di sudut ruangan hanya berputar malas, menyebarkan aroma yang membuat perutku terus-menerus bergejolak.
Selain kesadaran pada kejahatan yang aku tercebur di dalamnya, bau tengik minyak goreng curah yang dipaksa bekerja melampaui batas waktunya. Di hadapanku, terhampar ribuan donat berukuran kerdil. Warnanya pucat pasi, dengan tekstur yang lebih menyerupai karet busa murah daripada roti. Taburan gula halusnya terasa kasar seperti serbuk kapur yang dicampur pemanis buatan berdosis tinggi. Inilah wujud nyata dari anggaran seribu lima ratus rupiah. Inilah rupa dari tanda tangan yang kugoreskan di atas kertas putih tempo hari.
Dari HP butut penjaga gudang yang diletakkan di atas kulkas rusak, sayup-sayup terdengar hentakan musik country-pop bernada riang. Melodinya begitu ceria, mengentak, dan penuh semangat. Dia berharap menceriakan suasana dapur busuk ini.
Suara khas Shania Twain mengalun jernih membelah kesunyian gudang yang muram ini.
Namun, di balik nada yang mengundang kaki untuk mengetuk lantai itu, liriknya menamparku dengan kejam.
"We live in a greedy little world... That teaches every little boy and girl... To earn as much as they can possibly... Then turn around and spend it foolishly..."
Tanganku terhenti di udara. Donat ke sekian ratus yang hendak kumasukkan ke dalam mika mendadak terasa seberat timah.
Dunia kecil yang serakah.
Lirik itu bergema berulang-ulang di dalam batok kepala, menertawakan seragam dinas yang kukenakan. Aku memejamkan mata, membiarkan alunan musik itu menguliti setiap lapis pembenaran yang kubangun sejak keluar dari ruang ICU.
Shania Twain benar. Kita hidup di dunia kecil yang teramat serakah, sebuah sistem yang dikendalikan oleh rasa lapar yang tak pernah bisa dipuaskan. Anak-anak kecil, seperti anak-anak SMP malang yang esok hari akan menerima kotak-kotak donat beracun ini, diajarkan sejak dini untuk melihat dunia sebagai arena perlombaan. Mereka dipaksa percaya bahwa kesuksesan hanya diukur dari seberapa banyak angka di rekening, seberapa tinggi jabatan yang didapat, dan seberapa besar porsi dunia yang bisa mereka keruk untuk diri sendiri.
Pak Joko, atasanku, adalah produk sempurna dari dunia serakah itu. Para petinggi di atasnya yang memotong anggaran MBG menjadi remah-remah ini adalah monster yang sesungguhnya. Mereka mengais pundi-pundi kekayaan dari hak anak-anak yang perutnya berbunyi nyaring di kelas, lalu menggunakan uang kotor itu untuk membeli kemewahan yang pada akhirnya akan hancur menjadi debu.
Spend it foolishly.
Lalu... bagaimana dengan diriku? Aku membuka mata, menatap telapak tanganku yang mengilap oleh minyak murahan. Amplop cokelat tebal yang kuterima dari Pak Joko telah berpindah ke kasir rumah sakit. Uang itu kini melebur menjadi cairan infus, obat pereda nyeri, dan sewa mesin ventilator yang membuat dada adikku tetap bergerak naik turun.
Aku merasa diriku adalah pahlawan bagi adikku. Aku mengorbankan rahimku, aku mengorbankan harga diriku, aku mengorbankan surga yang mungkin kumiliki, demi mempertahankan satu-satunya nyawa yang tersisa dalam garis keluargaku.
Namun, bukankah Arthur, sang kanibal di dimensi lalu, juga menggunakan logika yang sama? Arthur membunuh manusia lain karena ia menganggap kematian mereka memberikan 'manfaat' bagi kehidupannya. Ia melahap nyawa orang lain agar ia tetap hidup.
Lalu, apa bedanya diriku dengan Arthur? Aku menyelamatkan adikku, tetapi tanganku sendirilah yang meracuni ribuan anak-anak lain. Aku menukar ginjal, hati, dan masa depan ribuan anak malang di luar sana yang dipaksa menelan minyak curah dan pemanis buatan, hanya demi menebus napas adikku sendiri. Aku adalah Arthur dalam wujud staf pengadaan. Kami sama-sama kanibal, hanya saja aku memakan daging korbanku melalui birokrasi dan stempel resmi.
Pinsel usang itu kembali menyuarakan lirik berikutnya, kali ini diiringi bunyi mesin kasir yang melengking riang.
Ka-ching! Can you hear it ring? It makes you wanna sing... It's such a beautiful thing, Ka-ching! Ka-ching!
Suara denting itu terasa seperti paku yang dipalu tepat ke ulu hati.
Uang. Kertas bernilai yang disepakati oleh peradaban manusia ini ternyata memiliki daya hancur yang jauh lebih mengerikan dari laser bertenaga plasma di gurun keemasan. Jika di sana, nyawa dicabut secara instan oleh letusan peluru, di dimensi ini nyawa dicabut secara perlahan, terstruktur, dan disahkan oleh negara.
Aku kembali melanjutkan pekerjaanku. Menyusun donat-donat itu ke dalam kotak dengan dada yang terasa sesak luar biasa.
All we ever want is more... A lot more than we had before...
Lagu itu berlanjut, seolah menolak memberiku jeda untuk bernapas. Lebih banyak dari yang kita miliki sebelumnya.
Keserakahan tidak pernah memiliki garis akhit. Awalnya, aku mungkin hanya mengambil suap ini demi biaya rumah sakit adikku hari ini. Namun, besok?
Adikku masih membutuhkan perawatan lanjutan. Kontrakan harus dibayar. Utang-utang di warung harus dilunasi. Celah kemiskinan itu terlampau besar untuk ditambal oleh gaji bulananku yang dipotong sana-sini.
Dan ketika Pak Joko kembali menyodorkan map plastik fiktif di bulan depan, akankah aku menolaknya? Tidak. Sistem ini tahu cara menjerat mangsanya. Setelah kau mencicipi satu gigitan dari bangkai korupsi, darahmu akan terkontaminasi selamanya. Kau akan selalu membutuhkan lebih, karena rasa takut akan kemiskinan telah menjadi tuan baru yang mencambuk punggungmu setiap hari.
Sebuah air mata lolos dari pertahananku, jatuh menetes tepat di atas lapisan mika plastik bening pelindung donat. Setitik air mata penyesalan yang tidak akan pernah bisa mencuci dosa di dalamnya.
Dunia ini memang tidak membutuhkan iblis bertanduk untuk menghancurkan manusia. Ketiadaan rahimku membuatku tidak bisa melahirkan kehidupan baru, tetapi tanganku yang gemetar ini rupanya jauh lebih mahir dalam membunuh kehidupan yang sudah ada.
Aku menatap telapak tanganku untuk yang terakhir kalinya hari ini. Semoga Tuhan, benar-benar mengampuni keputusasaan ini. Atau setidaknya, mengutukku dengan cara yang sepadan.