Buat cerita dengan seting Tarumanegara
💜💜💜
Cahaya matahari senja yang menembus debu gudang itu perlahan berubah menjadi terlampau terang. Pijarnya bukan lagi rona jingga keemasan, melainkan putih yang membutakan dan membakar retina. Kardus-kardus donat beracun, bau tengik minyak curah, dan deru mesin truk logistik menguap begitu saja ke udara kosong.
Saat mataku kembali terbuka, aku tidak lagi berdiri di atas lantai semen yang keras. Kakiku terperosok hingga sebatas mata kaki di dalam lumpur kecokelatan yang pekat. Udara terasa sangat lembap, panas, dan dipenuhi oleh aroma tanah basah bercampur keringat ribuan tubuh manusia.
Aku menunduk. Seragam dinasku telah lenyap. Tubuhku kini hanya dibalut oleh lembaran kain tenun kasar yang dililitkan menutupi dada hingga lutut. Di sekelilingku, hamparan tanah yang sangat luas tengah dikeduk secara massal. Ribuan laki-laki bertelanjang dada mengayunkan cangkul dan mengangkut keranjang-keranjang bambu berisi tanah liat di bawah terik matahari.
Dari kejauhan, seorang pengawas berpakaian jauh lebih mewah dengan hiasan emas di lengan, berteriak lantang dengan bahasa yang terdengar asing, tetapi entah bagaimana mampu dipahami oleh ingatan di kepalaku.
"Cepatkan kerjamu! Penggalian Kali Candrabhaga dan Gomati ini harus selesai sebelum bulan purnama berikutnya! Ini adalah titah langsung dari Paduka Maharaja Purnawarman!"
Nalarku tersentak hebat. Kali Candrabhaga? Gomati? Purnawarman?
Aku terlempar ke Tarumanegara. Sebuah kerajaan kuno di tatar Pasundan yang berdiri belasan abad sebelum donat murahan dan kertas birokrasi ditemukan.
Tubuhku lemas. Kakiku nyaris tidak sanggup menopang berat badanku sendiri di atas lumpur ini. Baru saja, di dimensi sebelumnya, aku memantapkan tekad. Aku bersumpah untuk menjadi agen ganda layaknya Severus Snape, menghancurkan sistem korupsi Makan Bergizi Gratis dari dalam untuk menyelamatkan anak-anak miskin. Namun, mengapa Tuhan justru melempar jiwaku ke masa lalu yang teramat jauh?
Apa karena aku berniat mencabut akar korupsi, sehingga Tuhan mengirimku langsung ke tanah tempat akar itu mula-mula ditanam?
Pikiranku berkecamuk. Selama ini, narasi sejarah selalu melukiskan kerajaan-kerajaan kuno Nusantara dengan warna kejayaan, keagungan, dan kemakmuran yang mutlak. Namun, apakah korupsi benar-benar absen di masa ini?
Mataku mulai mengawasi sekeliling, dan jawabannya tersaji tepat di depan hidungku.
Di sudut area penggalian, di bawah tenda jerami yang teduh, beberapa punggawa kerajaan tengah mengawasi jatah makanan untuk para pekerja. Titah Raja Purnawarman tentu saja mengalokasikan hasil bumi yang melimpah—beras kualitas terbaik, ikan asin, dan palawija—agar para penggali sungai memiliki tenaga yang cukup.
Namun, apa yang kulihat? Para punggawa itu diam-diam memisahkan karung-karung beras putih yang bersih untuk dibawa ke kereta kuda mereka sendiri. Sebagai gantinya, mereka menanak gabah sisa yang sudah bercampur sekam dan kutu untuk dibagikan kepada para pekerja yang kelelahan.
Darahku mendidih melihatnya. Terjawab sudah pertanyaanku. Korupsi bukanlah produk modern. Mentalitas memperkaya diri sendiri dengan menindas yang lemah telah mengakar kuat sejak zaman nenek moyang. Jauh sebelum ada anggaran negara berbentuk triliunan rupiah, keserakahan manusia telah mewujud dalam bentuk pencurian jatah makan rakyat jelata.
Para pejabat kuno ini, demi memuaskan gaya hidup dan gengsi di lingkaran kerajaan, tega membiarkan rakyatnya kelaparan di tengah mega proyek kebanggaan sang raja.
Ironi ini begitu menyakitkan. Di abad ke-21 aku dipaksa menjadi saksi donat tengik untuk anak sekolah, dan di abad ke-5, aku harus menyaksikan nasi sekam untuk para pekerja sungai. Wajah pelakunya berbeda, pakaiannya berbeda, eranya terpaut ribuan tahun, tetapi monster keserakahan yang bercokol di dalam dadanya adalah entitas yang persis sama.
Seorang wanita tua di sebelahku jatuh tersungkur. Keranjang tanahnya tumpah berantakan. Ia terlalu lapar dan kelelahan. Para punggawa yang melihatnya justru tertawa dan bersiap mengayunkan rotan hukuman.
Naluri pertahananku bangkit. Jiwa yang pernah menentang kejamnya kanibalisme dan menolak tunduk pada koboi luar angkasa kini kembali mendidih. Aku menancapkan kakiku kuat-kuat ke dalam lumpur Tarumanegara ini.
Jika Tuhan mengirimku ke sini untuk melihat dari mana segala kebusukan ini bermula, maka aku tidak akan hanya berdiri menjadi penonton. Aku tidak peduli jika hukum Majapahit di masa depan nanti akan menghukum mati para pejabat korup; aku berada di Tarumanegara hari ini, dan aku akan memastikan keadilan ditegakkan sekarang juga.
Kuusap peluh di keningku, lalu melangkah maju menerobos barisan pekerja. Aku akan menghadap langsung pada pengawas itu. Jika perlu, aku akan mencari cara untuk berdiri di hadapan Maharaja Purnawarman dan membongkar tikus-tikus yang menggerogoti lumbung kerajaannya.
Perlawananku melawan korupsi tidak jadi dimulai dari ruang arsip yang pengap, melainkan dari hulu sungai Candrabhaga.
💜💜💜💜
22 April 26
Nyambung yg disambung-sambungin 😭
KAMU SEDANG MEMBACA
Bertunas Setiap Hari
Fiksi UmumApa yang kamu pikirkan setiap baru membuka mata? Tentang rencana hari ini? Tentang mimpi yang ingin dicari? Atau justru duka malam tadi? Ini kisah acak tentang pikiran-pikiran yang muncul ketika menyesap teh, menghidu aroma kopi, menatap tetes huja...
