DWC - 15 - Space Western

12 2 6
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Aku mengangkat cangkir keramik berat berisi seduhan herbal hangat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Aku mengangkat cangkir keramik berat berisi seduhan herbal hangat. Mataku menatap lurus ke sepasang mata ayah yang memancarkan pendar kebanggaan tiada tara. Gema tawa para Magister di aula masih berdenging merdu di telingaku. Puncak pencapaian seorang perempuan yang biasanya tertindas di abad pertengahan. Sebuah perayaan Inceptio yang memerdekakan Ela dari abu tungku perapian.

"Untuk ilmu yang memerdekakan," bisikku pelan, membiarkan cairan hangat itu mengalir melewati tenggorokan.

Namun, kepuasan itu hanya bertahan sekejap.

Dunia seolah retak. Saat aku meletakkan cangkir kembali ke meja, pendar lilin lebah di aula universitas mendadak padam total. Rasa pusing yang luar biasa menghantam, seolah jiwaku direnggut paksa dari raga yang baru saja merasa utuh. Jubah wol tebal yang baru kupakai terasa mendadak berat, lalu menguap, berganti dengan pakaian ketat berbahan sintetis yang asing dan kasar. Bau tinta oak dan kertas perkamen lenyap, tergeser oleh aroma tajam ozon, logam berkarat, dan mesiu yang baru saja meledak.

Kegelapan itu runtuh, berganti dengan cahaya bintang yang terlampau terang dan hamparan pasir keemasan tanpa ujung.

Aku terbatuk, meraup udara yang terasa tipis dan kering. Tidak ada lagi aula batu yang megah. Di hadapanku terbentang dataran gersang yang seolah dibakar oleh dua matahari sekaligus. Di kejauhan, sebuah bangunan jelek dari plat logam berkarat berderit tertiup angin kencang. 

Belum selesai keterkejutanku, aku melihat sesosok kuda. Akan tetapi, ada yang berbeda. Kuda itu tidak terlihat seperti makhluk hidup. Kulitnya terbuat dari pelat baja yang saling mengunci, mata lensanya bercahaya merah redup, dan uap mengepul dari sela-sela sendi hidroliknya. Di atas punggung kuda robot itu, seorang pria dengan topi cowboy usang dan jubah panjang kulit cokelat tua. Semua tampak tidak serasi dengan sarung pistol sinarnya apalagi kala menatapku dengan dingin dari balik kacamata pemindainya.

Dunia macam apa ini?

Aku bangkit perlahan, kakiku yang tadi hanya lembutnya rerumputan hutan, pasir pantai yang lembut, dan rumah batu yang hangat, kini berada di atas pasir merah yang menyengat. Rasa takut mulai merayap pada kekosongan yang tak terhingga di sekelilingku. Pada lelaki yang mungkin akan segera menghabisiku. Aku lelah berpindah-pindah dunia terus-menerus.

Melihat pria misterius itu perlahan menarik laras senjata aneh dari sarung di pinggangnya, sebuah pistol logam dengan tabung energi yang mendengung mengancam, aku disadarkan pada satu kenyataan yang menampar kesadaran. 

Ini dunia yang jauh dari kata damai.

"Apa yang bisa kau jual?" Lelaki itu mencibir. "Kurus, pucat, tidak ada harta. Tampaknya kau juga sakit-sakitan. Tidak layak dijual." Dia menimbang-nimbang.

Dijual? Aku?

"A-aku bukan barang dagangan!"

Dia tertawa. Suaranya lebih keras dari yang kuperkirakan. "Kau pikir di sini bisa tawar-menawar? Yang kuat akan menang dan yang lemah pasti akan mati. Itu hukum alam."

"A-aku akan lapor polisi!" ancamku takut-takut. Setidaknya, aku harus berpura-pura kalau aku berani!

Lagi-lagi dia mendengus. "Kau hidup di mana selama ini? Polisi tidak pernah ada. Hanya hukum rimba yang berlaku di sini! Dan kau adalah milikku. Aku yang menemukanmu dan aku berhak melakukan apa pun padamu!"

Aku menelan liur yang terasa semakin mencekik. Kebebasan tanpa batas, pada hakikatnya, adalah bentuk paling murni dari neraka.

Dunia yang sangat liar ini memamerkan kengerian nyata ketika peradaban dibiarkan berjalan tanpa aturan. Manusia sama sekali tidak mungkin bertahan hidup tanpa keberadaan hukum. 

Kita mendambakan keteraturan karena nurani kita sangat sadar, tidak ada jaminan bahwa setiap jiwa yang terlahir ke alam semesta dibekali dengan hati yang beradab ketika berkembang. Sebagian manusia mungkin dianugerahi empati mendalam dan lingkungan keluarga cemara. Namun sisanya adalah predator berdarah dingin yang siap memangsa siapa saja demi secuil wilayah atau bahkan sekadar hiburan semata.

Hukum hadir tepat untuk mengunci sisi liar dan biadab tersebut. Segala aturan diciptakan dengan tujuan mutlak memastikan manusia-manusia berhati culas tetap berjalan lurus di koridor yang semestinya. Hukum adalah pagar pembatas satu-satunya di tepi jurang kekejaman dan kekacauan. Tanpanya, yang berkuasa seutuhnya hanyalah dia yang memiliki senjata paling mematikan. Di alam seperti ini, dunia benar-benar kehilangan kemanusiaannya, hanya menyisakan syahwat dan keinginan untuk menang sendiri.

Pria di atas kuda besi itu sama sekali tidak peduli siapa diriku. Ia tidak repot-repot menerka dari dimensi mana aku terlempar, atau merenungkan rentetan kejadian gila yang membawaku kemari. Di sepasang mata pemburunya, aku hanyalah entitas asing. Seseorang yang dinilai apakah layak dijual, atau mungkin harus segera dihabisi.

Aku berbalik dan berlari menjauh. Mengeluarkan seluruh tenaga yang ada dalam diriku untuk kabur sejauhnya. 

"Ah... sayang sekali. Kau tidak berguna ternyata!"

Aku bahkan belum sempat meraup napas penuh apalagi menjerit minta tolong di tengah hamparan padang pasir emas ini. Sebuah kilatan laser biru berkekuatan tinggi melesat merobek udara. 

Sinar itu menghantam dadaku dengan daya ledak tak terbayangkan. Kesadaranku kembali direnggut habis-habisan. Tubuhku terlempar jauh ke dalam pusaran kekosongan yang gelap, terseret paksa ... meriap-riap pengap.

 meriap-riap pengap

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

150426

Robotnya... [plak]

Ndak, itu dr anime kesukaanku

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ndak, itu dr anime kesukaanku. Untung bukan figure dr tokoh kesukaanku. Kalau enggak, 2 juta mau nangis rasanya ga bs beli wakakakakakakak

Bertunas Setiap HariCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang