Apa yang kamu pikirkan setiap baru membuka mata?
Tentang rencana hari ini?
Tentang mimpi yang ingin dicari?
Atau justru duka malam tadi?
Ini kisah acak tentang pikiran-pikiran yang muncul ketika menyesap teh, menghidu aroma kopi, menatap tetes huja...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aku rindu saat menulis untuk pertama kalinya. Ketika berumur sembilan tahun, kutuang kisah di buku tulis bergaris yang sampulnya sudah mau lepas dari steples. Waktu itu, tidak ada yang meminta. Tidak ada yang menilai. Ada sesuatu di dalam dada yang terlalu besar untuk terus-menerus disimpan diam-diam, dan buku itu kebetulan ada di laci meja. Ceritanya tidak masuk akal, tentang perempuan dan kekuatan sihir dari hutan tudra dan taiga. Namun, aku menulisnya dengan serius, dengan gigi menggigit bibir bawah seperti kebiasaanku waktu berkonsentrasi, tanpa sekali pun bertanya apakah ini bagus atau tidak. Rindu itu nyata.
Bertahun-tahun aku belajar bahwa tulisan punya harga. Soal berapa orang yang membaca, berapa komentar apa yang masuk, apakah algoritmanya berpihak hari ini atau tidak. Aku pernah menulis dengan satu mata di halaman dan satu mata di statistika. Tanpa sadar, dua hal itu tidak bisa dilakukan bersamaan dengan baik. Salah satunya selalu kalah dan yang kalah, ternyata, adalah tulisan. Aku tidak tahu apakah langkah ini akan membawaku pada kesuksesan atau justru pada kegagalan yang lebih dalam. Yang aku tahu, mimpi itu masih hidup di dada, menolak untuk mati meski berkali-kali dipukul realita.
Beberapa hari kemudian, aku menulis lagi. Satu paragraf. Tanpa tahu akan jadi apa, tanpa tahu akan dibaca siapa. Rasanya canggung. Seperti bertemu orang lama yang aku tidak yakin masih mengenalku atau tidak.
Aku ingin terus menulis. Pelan, tanpa target apa pun. Satu paragraf, lalu dua, lalu ketika aku mendongak, sudah satu bab ditulis tanpa beban. Seperti yang kulakukan sebelum follower-ku menginjak seribu. Aku bahkan lupa memeriksa notifikasi Wattpad dan hanya tenggelam dalam jalinan kata di hadapan.
Mungkin ini yang dulu aku rasakan. Saat cerita terasa penting karena aku ingin menuliskannya. Karena ada sesuatu di dalam dada yang terlalu besar untuk disimpan terus-menerus. Abai terhadap statistik juga pengakuan siapa pun.
Perjuangan ini belum selesai. Mungkin masih panjang dan berliku. Namun, selama napas masih terkandung, selama hati masih percaya, aku akan terus berjalan. Aku ingin kembali ke diriku ketika berusia sembilan tahun.
Aku belum kembali sepenuhnya ke sana. Mungkin tidak akan pernah persis sama, tetapi setidaknya aku masih menulis.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
[Baca dari paragraf pertama ke terakhir atau balik: dari paragraf terakhir ke pertama. Keduanya bercerita.]
070426
FICTOGEMINO PALING PANJANG YANG KUBUAT! Lagi-lagi isinya curhat