DWC - 13 - Cinderella

10 3 14
                                        

Buat ending cerita Cinderella di mana sang ayah ternyata selama ini masih hidup.

💜💜💜💜

Mataku terbuka. Kabut labirin yang menyesakkan dan dengusan napas Zoro menguap tanpa sisa. Dinginnya dinding batu berganti dengan kehangatan dari perapian yang menyala kemerahan. Aroma lumut basah pun lenyap, tergeser oleh wangi khas perkamen tua, tinta oak, dan lilin lebah.

Aku bangkit perlahan, meraba selimut wol tebal yang menutupi tubuhku. Di sudut kamar berdinding bata ini, sebuah jubah panjang dari kain hitam tebal tergantung rapi. Aku pernah melihatnya di museum sebagai pakaian resmi seorang cendekiawan.

Pintu kayu berderit pelan. Ayah melangkah masuk membawa aura ketenangan yang selalu kurindukan. Wajahnya yang dihiasi guratan usia memancarkan senyum penuh kebanggaan. Ia meletakkan sepotong roti gandum hangat dan secangkir seduhan daun herbal di atas meja belajarku.

"Lekaslah bersiap, Ela Sayang. Para guru besar sudah berkumpul di aula bawah," suaranya mengalun dalam dan hangat. "Malam ini kita merayakan Inceptio-mu."

Aku tercenung. Kalau tidak salah, inceptio adalah Hari pengukuhan. Kelulusan. Hari ini, kerja keras berujung pada gelar Magister yang resmi disematkan di depan nama orang yang tubuhnya kurasuki.

Memori perempuan bernama Cinderela ini juga kuketahui dengan baik.

Sepuluh tahun lalu, ayah mematahkan segala kutukan takdir. Ia selamat dari badai lautan, pulang ke rumah, dan menarikku keluar dari tumpukan jelaga.

Beliau mengabaikan undangan sayembara konyol dari istana yang mewajibkan gadis-gadis membalut diri dengan korset sesak dan gaun sutra berlapis demi menarik perhatian pangeran.

Ayah menghabiskan sisa hartanya untuk mengirim Ela ke Universitas. Ia mendobrak aturan usang yang mengunci perempuan di dapur dan ruang jahit. Di aula-aula batu kampus, aku menelan habis filsafat Trivium, menguasai tata bahasa, logika, dan retorika. Aku juga begadang di bawah cahaya lilin demi memecahkan kerumitan Quadrivium, menghitung pergerakan bintang dan mengurai angka-angka.

Aku meraih jubah wol itu dan mengenakannya. Kainnya berat, menapak pasti di bahuku, memberi sensasi jauh lebih nyaman dibandingkan bayangan gaun pesta yang menyiksa tulang rusuk.

"Kudengar kereta-kereta kencana para bangsawan masih antre menuju istana," gumamku seraya merapikan kerah jubah. "Apa adik-adikk tiriku juga ikut?"

Ayah tertawa renyah. Tawa seorang pria merdeka yang tak lagi tunduk pada standar kaum feodal. "Ya, mereka ikut. Biarkan mereka menari hingga kelelahan demi mahkota yang mungil. Kau memiliki jalanmu sendiri. Kecerdasanmu jauh lebih berharga dari sekadar menjadi pajangan berdampingan di singgasana raja."

Aku membalas senyumnya melalui pantulan cermin tembaga yang kusam. Jiwa yang lelah mengembara dari kehidupan bunga bangkai, memikul kutukan raksasa, dan tersesat dalam pusaran waktu kini telah menemukan pijakan paling kukuh.

Sebuah mahkota emas bisa saja dirampas dalam satu malam pemberontakan. Gelar permaisuri bisa memudar seiring hilangnya kecantikan. Ilmu yang terpatri kuat di dalam kepala ini adalah kerajaan abadi yang tak akan pernah bisa ditaklukkan siapa pun.

Aku melangkah mantap menuruni tangga batu menuju aula perjamuan, siap merayakan takdir yang kutulis dengan tanganku sendiri.
--------

130426

Apakah tema besok? Apakah si "aku" akan terbang ke dimensi lain? Wkakak

Bertunas Setiap HariCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang