DWC - 6 - Kalimat Pertama

14 4 6
                                        

Buka buku cerita fiksi terdekat kalian, buka halaman 12. Gunakan kata pertama sebagai kata awal cerita kalian.

Halaman 12 - Membunuh itu Mudah : Agatha Chritie

"Anda bertanya apa yang sebaiknya Anda lakukan sekarang?"

Kamera HP-ku masih rusak. Tidak bisa foto.

ANDA mungkin akan menganggapku aneh, duduk sendirian di tepi danau ini sambil menatap layar ponsel yang gelap tanpa bisa melakukan apa-apa

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

ANDA mungkin akan menganggapku aneh, duduk sendirian di tepi danau ini sambil menatap layar ponsel yang gelap tanpa bisa melakukan apa-apa. Kamera HP-ku masih rusak. Tidak bisa menyalakan kamera. Hardware problem

Padahal, di depan mata, alam sedang menggelar pertunjukan paling memukau yang pernah aku saksikan tahun ini. Langit berwarna ungu lembayung, bercampur merah jambu lembut dan cyan yang menjadi kesukaanku. Tuhan sedang memberikan rahmat indah-Nya. Melukis langit yang memancarkan kilau indah ke permukaan air yang tenang. Tidak ada satu pun awan yang berani mengganggu kemegahan senja ini.

Dulu, refleks pertamaku selalu sama. Mengangkat ponsel, mengarahkan lensa, menekan tombol, dan menyimpannya sebagai bukti. Seolah keindahan yang tidak terabadikan adalah keindahan yang sia-sia. Seolah aku tidak percaya pada mataku sendiri kecuali ada fail digital yang tersimpan di memori. 

Namun hari ini, alam seolah memaksaku berhenti. Setelah sekian bulan aku hanya bisa bertahan dengan ponsel tanpa kamera, aku sadar betapa aku ketergantungan mengabadikan segalanya.  Aku memang bukan penggila media sosial yang kerap mengunggah foto. Tetap saja, ratusan foto ada di galeryku setiap hari.

Bisa jadi ini adalah cara Allah menegurku. Aku hidup untuk mengabadikan masa lalu, bukan fokus pada saat ini dan merasakannya jauh dalam kalbu. Kali ini, aku dipaksa untuk berdiri diam, hanya sebagai saksi, bukan sebagai pengabadi momen.

Aku belajar bahwa ada keindahan yang memang dirancang untuk dinikmati, bukan untuk dimiliki. Ada takdir yang memang dirancang untuk berlalu, bukan untuk dikurung dalam kamera dan kita justru melupakan momen istimewa itu dan hanya membayangkan lewat foto yang didapat. 

Ketika aku menerima bahwa ponselku tidak akan bisa merekam ini hingga akhir tahun nanti, ada beban berat yang terangkat dari pundakku. Beban untuk mengabdikan segala hal. Layar hitam di tanganku ini adalah cermin dari hatiku yang sering kali gelap karena ketidakikhlasan. 

Aku marah pada keadaan. Aku kecewa pada takdir yang membuat ponsel ini rusak tepat di saat yang paling penting. Rusak ketika anak bungsuku hendak masuk SD. Namun, semakin aku memaksakan kehendak, semakin jauh aku dari ketenangan. 

Aku sadar kalau Qonaah mengajarkan aku untuk memeluk keterbatasan ini. Bahwa tidak memiliki foto kenangan bukanlah sebuah kehilangan yang fatal. Kehilangan momen karena terlalu sibuk mengabadikannya, itulah kehilangan yang sebenarnya. 

Aku sadar, aku hampir kehilangan senja ini hanya karena terlalu sibuk mengurus cara menyimpannya kemudian marah ketika lensa kameraku tidak mampu menangkap turquois yang membias di langit sana.

Angin sore berhembus lembut, membelai wajah dan membawa aroma tanah basah. Aku menutup mata, mencoba menyimpan pemandangan di relung hati yang paling dalam. Di sana, tidak ada batasan resolusi. 

Takdir memang sering kali datang dalam bungkus yang tidak kita inginkan. Rusaknya barang berharga, hilangnya kesempatan, atau sakit yang tiba-tiba datang. Namun, di balik semua itu, ada pesan halus yang menunggu untuk dipahami. Pesan untuk berhenti sejenak, bernapas, dan menerima bahwa kita tidak mengendalikan segalanya. 

Aku jadi memikirkan berapa banyak hal yang sudah lewat begitu saja. Percakapan yang setengah kudengar karena mataku di layar. Makan malam yang habis tanpa benar-benar merasa rasa terbaiknya karena sibuk memotret hingga hangat pun lenyap. Momen-momen kecil yang datang lalu pergi sementara aku masih sibuk mempersiapkan diri untuk menikmatinya.

Allah menciptakan momen untuk dihuni. Aku yang sering mengubahnya jadi rekam jejak.

Kelopak bunga kertasan jatuh di telapak tanganku yang terbuka. Kecil sekali. Lebih tipis dari yang kubayangkan. Kubiarkan ia di sana sebentar. Angin datang dan mengambilnya, dan ia pergi ke tempat yang tidak bisa kuikuti.

Langit tetap sama. Burung-burung gereja kembali terbang ke sarang saat azan Magrib berkumandang.

Di dalam dada ada sesuatu yang lebih ringan. Satu genggaman yang tanpa sadar sudah terlalu lama menggenggam, pelan-pelan terbuka.

Di depan pintu mobil, aku kembali menoleh ke arah taman. Dari sini pohon-pohon itu terlihat lebih kecil. Biasa saja.

Namun, aku tahu tadi aku duduk di bawahnya. Aku tahu kelopak itu sempat hinggap di telapak tanganku.

Tidak ada yang bisa membuktikannya. Tidak ada foto, tidak ada video.

Hanya aku yang tahu dan kusimpan dalam buku harianku malam nanti.

Hanya aku yang tahu dan kusimpan dalam buku harianku malam nanti

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

060426

Malah curhat kamera wakakakak

Bertunas Setiap HariCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang