DWC - 2 - Almost Confession

14 4 17
                                        

# DAY 2

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

# DAY 2

Buat cerita dari Trope "Almost Confession"

Malam ini, kata-kata itu sudah ada di ujung lidah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Malam ini, kata-kata itu sudah ada di ujung lidah. Rasanya begitu berat, seolah ada batu besar yang mengganjal tenggorokan. Di samping, istriku tidur dengan tenang. Napasnya teratur, naik turun seiring gerakan dada yang tertutup selimut tipis. Wajahnya bersih, tanpa kerut kekhawatiran, percaya sepenuhnya bahwa aku adalah sandaran hidupnya.

Aku menatapnya lama. Ada keinginan kuat untuk mengguncang bahunya pelan, membangunkannya, lalu mengucapkan segala sesuatu yang selama ini kusimpan rapat di dasar dada. Aku ingin berkata jujur. Bahwa ada bagian dari diriku yang berjuang keras setiap hari. Bahwa ada ketertarikan pada sesama laki-laki yang masih singgah di hati, meski tidak pernah sekali pun kujadikan tindakan. Aku ingin mengaku bahwa aku bukan laki-laki sempurna sebagaimana yang ia bayangkan.

Mulutku terbuka sedikit, udara hendak keluar membawa suara. Namun, tiba-tiba teringatlah aku pada sebuah prinsip yang selama ini kupegang teguh. Perintah Allah untuk menutupi aib. Bahwa siapa yang menutupi aib saudaranya, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Apalagi ini menyangkut istriku sendiri. Apa gunanya kejujuran yang justru menghancurkan ketenangan hatinya? Apa gunanya keterbukaan yang mengubah pandangan cintanya menjadi rasa ngeri?

Aku menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Kata-kata itu kutelan kembali.

Selama ini, aku memang berjuang.  Perjuangan yang hanya terlihat oleh Allah. Pergulatan sunyi antara nafsu dan iman.

Aku tidak pernah menyentuh laki-laki, tidak pernah melakukan perbuatan yang akan menyebabkan diriku dilempar dari bangunan tinggi untuk membersihkan dosanya. Aku memilih untuk mengurung keinginan itu, lalu mengarahkan seluruh energiku untuk mencintai wanita di sampingku ini.

Aku belajar.

Aku mempelajari tubuhnya, caranya tersenyum, dan apa yang membuatnya bahagia. Aku berusaha menjadi suami yang bertanggung jawab, yang tidak hanya menggugurkan kewajiban, tetapi juga memberi kepuasan lahir dan batin.

Aku memuliakannya. Aku pastikan ia tidak merasa kurang dalam pelukanku. Setiap kali bayangan lain datang mengganggu, aku segera mengalihkannya dengan mengingat wajah istriku. Aku jadikan ibadah sebagai benteng, dan istriku sebagai motivasi untuk tetap lurus.

Jika aku mengaku malam ini, mungkin aku akan merasa lega karena beban terangkat. Aku tidak lagi berjuang sendiri. Ada dirinya yang tahu perjuanganku selain Sang Pencipta.

Namun, dia?

Dia akan menanggung beban yang jauh lebih berat. Dia akan mempertanyakan setiap sentuhan kasih sayang yang pernah kuberikan. Kebahagiaan yang selama ini kubangun bisa retak hanya karena satu malam kejujuran yang egois.

Aku sadar, menutupi ini bukan berarti berdusta pada Allah. Ini adalah bentuk perlindungan. Ini adalah caraku menjaga martabatnya sebagai istri, dan menjaga kehormatan rumah tangga kami.

Allah tahu apa yang ada di dalam hati manusia. Allah tahu seberapa keras aku berusaha melawan arus yang salah demi tetap berada di jalan yang benar bersama istriku.

Perlahan, aku membungkuk dan mengecup keningnya. Ia bergerak sedikit dalam tidur, lalu kembali lelap. Aku menarik selimutnya lebih rapat, memastikan ia hangat.

"Maafkan aku," bisikku pelan, hampir tak terdengar. "Semoga aku bisa membentuk keluarga samara sampai ke surga firdaus. Aamiin."

Aku kembali bersandar, memejamkan mata. Malam ini, aku tidak mengaku.

Pasti akan datang hari di mana aku kembali bimbang. Namun, aku selalu berdoa dalam setiap sujudku agar Allah menjagaku dan keluargaku dari api neraka.

Namun, aku berjanji, besok dan seterusnya, aku akan semakin berusaha menjadi suami yang lebih baik. Aku akan mengubur keinginan yang salah itu lebih dalam, dan menumbuhkan cinta pada istriku semakin besar.

Karena kadang, cinta tertinggi bukan tentang mengatakan semua kebenaran, melainkan memilih kebenaran yang paling menjaga hati orang yang kita cintai.

Karena kadang, cinta tertinggi bukan tentang mengatakan semua kebenaran, melainkan memilih kebenaran yang paling menjaga hati orang yang kita cintai

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

2 April 2026

Lelaki yang mencintai sesama jenis, lalu menikah, tetapi sungguh2 menjalankan kewajibannya sebagai suami, tidak berzina, tetap lurus, menurutku pejuang jihad yang luar biasa!!!

Tidak terlihat, tapi pasti berat.

Semoga Allah membalas kebaikan mereka berlipat2. Aamiin

Bertunas Setiap HariCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang