# DAY 12
Buat cerita karakter kalian terjebak pada time loop bersama Zoro One Piece.
💜💜💜💜
Napasku terentak, meraup udara dengan rakus seperti orang tenggelam yang baru menemukan permukaan. Menjejalkan oksigen ke paru-paru sebanyaknya.
Kematian di Lilliput ternyata bukan garis finish. Kegelapan memuntahkan tubuhku ke tanah yang keras dan dingin, di bawah naungan dinding-dinding batu setinggi tebing yang berlapis lumut tebal.
Ada aroma embun yang terlampau basah, kabut yang menggantung rendah, dan pendar matahari yang selalu tidak pernah melalui di ufuk barat.
Ini adalah labirin batu yang menelan waktu. Dan ini adalah kesekian kalinya aku terbangun di titik yang sama, dengan ngilu di persendian yang sama.
Aku menoleh ke sisi kanan. Di sana, seorang pria berambut hijau tengah mengikat bandana ke kepalanya. Tiga bilah pedang bertengger angkuh di pinggang.
Roronoa Zoro.
Nasib telah mengikat kami berdua dalam dimensi yang berputar tanpa ujung ini. Ada batu besar yang memiliki ukiran yang terpahat.
Cara keluar dari labirin laknat ini!
Aturannya sederhana: temukan pintu keluar sebelum matahari benar-benar tenggelam, atau kabut akan menelan segalanya dan mengembalikan kami ke titik awal.
"Dindingnya bergeser lagi," gumamku sembari mengusap debu dari pakaianku yang lusuh. Aku menatap lorong bercabang tiga di hadapan kami. Lorong yang seingatku, pada putaran sebelumnya, hanya bercabang dua.
Zoro mendengkus pelan. Ia tidak tampak terganggu oleh waktu yang terus mempermainkan kami.
"Jalan keluarnya ada di kanan," ucapnya dengan nada berat dan keyakinan yang absolut. Ia melangkah tegap. Ke lorong sebelah kiri.
"Itu kiri, Zoro," keluhku, memijat pelipis yang mendadak berdenyut.
"Kau yang buta arah. Kanan itu ke arah lenganku yang memegang pedang," bantahnya keras kepala, tanpa sedikit pun menoleh.
Aku hanya bisa menghela napas panjang dan mengekor di belakangnya. Di putaran-putaran awal, aku mencoba memimpin jalan. Aku membuat peta dari goresan batu, menghitung langkah, mengingat setiap belokan. Namun, labirin ini hidup. Ia menipu mata dan mempermainkan nalar. Logika tak bisa menembus dinding yang terus berubah wujud.
Jadi, aku membiarkannya memimpin. Khawatir ada monster di hadapa semesta tahu pria ini bisa tersesat di jalan lurus yang tidak bercabang, tetapi karena ia tidak pernah ragu pada langkahnya sendiri.
Kami terus menyusuri lorong demi lorong. Kadang berhadapan dengan jalan buntu yang membuatku nyaris menjerit frustrasi. Di saat seperti itu, Zoro hanya akan mendecak, menghunus salah satu pedangnya, dan mencoba menebas dinding batu tersebut.
Percuma.
Batu itu menyerap bilah pedangnya seperti air, memantulkan kembali kekuatannya, dan memaksanya menyarungkan pedang kembali.
"Jalannya yang salah. Kita putar balik," katanya santai, seolah menebas tebing buntu barusan hanyalah pemanasan.
Waktu terus berguguran. Matahari di ufuk barat semakin turun, menumpahkan warna darah ke atas dinding-dinding labirin. Bayangan kami memanjang, lalu perlahan memudar seiring kabut putih yang mulai merayap naik dari celah bebatuan.
Ujung labirin itu tidak pernah terlihat. Kami kembali gagal.
Aku menjatuhkan tubuh ke tanah bersandar pada dinding yang sedingin es. Kabut mulai melilit pergelanganku, menandakan waktu akan segera diputar ulang.
Rasa lelah yang teramat sangat menggigit tulang. Terjebak dalam kesia-siaan ini, menyusuri jalan yang tidak menuju ke mana-mana bersama seseorang yang bahkan tidak bisa membedakan utara dan selatan.
Namun, saat aku menatapnya, Zoro masih berdiri tegak. Ia membersihkan debu dari gagang pedangnya, menatap tajam ke arah lorong buntu yang perlahan ditelan kabut.
Tidak ada penyesalan di wajahnya.
Tidak ada keputusasaan karena ia mengambil ratusan belokan yang keliru hari ini.
Dalam kesesatannya yang paling parah, ia terus berjalan maju. Ia tidak pernah dikalahkan oleh arah, karena tujuannya bukanlah sekadar menemukan pintu keluar, melainkan menaklukkan setiap jalan yang ia pijak.
Mengalahkan setiap monster yang muncul di hadapan.
Kabut putih akhirnya menelan kami sepenuhnya. Pandanganku menggelap.
Namun, kali ini, saat embun basah dan bau lumut itu kembali menyapa penciumanku, aku tidak lagi mengeluh.
Aku bangkit, menepuk debu di lututku, dan menatap tiga percabangan lorong di depan sana.
Zoro berjalan mendahuluiku. "Jalan keluarnya di utara." Ia melangkah ke selatan.
Aku tersenyum tipis, menyamakan langkah di sisinya. Biarlah kami tersesat seribu kali lagi. Labirin ini mungkin mengunci waktu kami, tetapi ia tidak akan pernah bisa mengunci arah langkah yang kami yakini sendiri.
Sebab selagi kaki ini menolak untuk diam, tidak ada lorong buntu yang benar-benar menjadi akhir.
---------
12 April 26
Entah kapan aku keluar dari labirin ku. Semoga berujung surga. Aamiin
KAMU SEDANG MEMBACA
Bertunas Setiap Hari
General FictionApa yang kamu pikirkan setiap baru membuka mata? Tentang rencana hari ini? Tentang mimpi yang ingin dicari? Atau justru duka malam tadi? Ini kisah acak tentang pikiran-pikiran yang muncul ketika menyesap teh, menghidu aroma kopi, menatap tetes huja...
