Apa yang kamu pikirkan setiap baru membuka mata?
Tentang rencana hari ini?
Tentang mimpi yang ingin dicari?
Atau justru duka malam tadi?
Ini kisah acak tentang pikiran-pikiran yang muncul ketika menyesap teh, menghidu aroma kopi, menatap tetes huja...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pintu besi raksasa itu terbanting menutup di belakangku dengan suara dentuman yang memekakkan telinga, memutus mutlak lolongan mengerikan dari lorong lantai tiga belas. Napasku terengah-engah, dadaku naik turun dengan kasar saat aku menyandarkan punggung pada daun pintu yang dingin.
Aku memejamkan mata, bersiap menyambut siksaan dimensi berikutnya. Mungkin kawah berapi, ruang jagal, atau tiang gantungan. Namun, yang merayap masuk ke indra penciumanku bukanlah bau belerang atau anyir darah.
Itu adalah aroma masakan rumah. Wangi pandan dari nasi yang baru matang, berpadu dengan seduhan teh melati yang sangat familier.
Perlahan aku membuka mata. Udara kaku bersuhu es di tangga darurat tadi telah lenyap. Pandanganku kini tidak lagi terpaku pada dinding beton berlumut, melainkan pada ruang tengah yang diterangi cahaya matahari sore yang hangat, menembus dari balik gorden usang bermotif bunga krisan. Ini bukan lantai 14 sebuah rusun yang dikutuk. Ini adalah rumah masa kecilku. Surga kecil yang selama ini kucari hingga telapak kakiku berdarah di Jalan Para Terkutuk.
Di sudut ruangan, duduk di atas sofa tua, sosok itu berada di sana. Punggung yang rapuh, rambut yang mulai diselingi warna putih, dan tangan yang dengan telaten merajut sehelai syal wol.
Mendengar langkah kakiku yang bergetar, wanita itu menoleh. Senyumnya mengembang. Begitu hangat, begitu tulus, dan begitu memaafkan, seolah aku tidak pernah tersesat sejauh ini. Seolah aku baru saja pulang dari sekolah dan bukan dari pelarian melintasi kematian demi kematian.
"Ibu...?" suaraku pecah seketika.
Runtuh sudah seluruh pertahanan batinku. Pedang ego yang sempat kuasah, keberanian palsu yang kubangun, semuanya lebur menjadi air mata. Aku berlari menubruk tubuhnya, menjatuhkan diriku dan bersimpuh di lantai, memeluk erat lututnya. Aku menangis meraung-raung, meratapi setiap kebodohan yang pernah kulakukan.
"Maafkan aku, Bu..." isakku terisak hebat, membenamkan wajah basahku di pangkuannya. Tangan Ibu yang keriput namun selembut sutra turun membelai puncak kepalaku, menenangkan jiwa yang nyaris gila ini. "Maafkan kesombonganku yang hanya mencari pengakuan. Maafkan keegoisanku yang merasa paling menderita. Aku telah melihat dunia tanpa nurani, melihat manusia memakan manusia, melihat bagaimana rasanya terbaring tak berdaya di atas meja operasi, hingga dipaksa melacurkan kebenaran demi uang korupsi."
Aku mencengkeram kain roknya semakin erat. "Aku lelah memberontak, Bu. Aku janji... aku berjanji akan menjadi anak yang lebih baik. Aku akan menerima apa pun yang digariskan untukku. Aku tidak akan menuntut kehidupan yang sempurna lagi."
Ibu tidak menyalahkanku. Dia hanya diam dan terus mengusap rambutku, menghapus trauma dari pisau bedah, peluru plasma, dan belati perunggu yang pernah mengoyak ragaku.
"Syukurlah, Anakku," bisik Ibu dengan suara yang menggetarkan sanubariku. "Kau terus berlari mencari kebebasan mutlak, memaksakan kendali agar dunia berputar sesuai dengan skenariomu. Kau menolak takdir yang menyakitkan, tanpa sadar bahwa rasa sakit itu adalah rahim yang akan melahirkan kedewasaanmu."
Aku mendongak, menatap matanya yang teduh. Segala dimensi yang kulewati, segala penderitaan dan perpindahan wujud itu, ternyata hanyalah cermin raksasa dari jiwaku sendiri. Jiwa manusia yang angkuh, yang selalu merasa paling tahu skenario apa yang terbaik untuk hidupnya.
Aku akhirnya memahami esensi dari seluruh pengembaraan panjang yang absurd ini. Kita, umat manusia, kerap kali berdarah-darah mempertahankan kehendak bebas, memanjat tebing karang harapan yang tajam, dan merakit sayap-sayap angan yang rapuh. Kita menentang arus, mengutuk keadaan, dan meronta saat doa kita tidak dijawab sesuai dengan tenggat waktu yang kita tetapkan sendiri. Padahal, pandangan kita terlampau sempit untuk melihat bentangan kanvas semesta yang utuh.
Di ujung pencarian yang melelahkan ini, saat aku kembali ke pelukan Ibu, aku menyadari sebuah kepasrahan yang hakiki. Sebuah kesadaran bahwa kita tidak sekuat yang kita kira saat menantang kehendak Tuhan.
Kita kalah terhadap harapan.
Kita kalah terhadap semua keinginan.
Karena sejatinya, takdir yang membawa kita melintasi hari demi hari adalah yang terbaik.
Pada dasarnya melawan takdir terbaik, sering kali keinginan buruk kita kalah.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.