DWC - 29 - Lantai teratas

10 2 0
                                        

Buat cerita karakter kalian merupakan penghuni baru di sebuah rumah susun. Namun, karakter kalian dilarang untuk pergi ke lantai paling atas.

---------------

Pendar cahaya neon yang berkedip sekarat di atas kepala memaksaku membuka mata. Bau pesing, lumut basah, dan beton lapuk seketika menyergap rongga dada, menggantikan aroma kertas dan tinta dari dimensi sebelumnya.

Aku terbaring kaku di atas matras kapuk tipis yang melesak di bagian tengahnya. Di genggaman tanganku, terdapat selembar kertas buram yang terlipat sembarangan. Aku memicingkan mata, membaca deretan kalimat di bawah cahaya yang temaram. Itu adalah sebuah dongeng peninggalan dimensi antah berantah, kisah tentang Tutu si Kancil dan Sasa si Siput di New Earth City. Sebuah fabel tentang kesombongan yang dihancurkan oleh ledakan jetpack, berakhir dengan penyesalan dan kedamaian.

Aku mendengus pelan, lalu meremas kertas itu dan melemparnya ke sudut ruangan yang berdebu. Dongeng dengan akhir bahagia dan moral yang rapi tidak berlaku di duniaku. Takdir tidak bekerja seindah kisah hewan purba dan robot. Takdir ini  terasa kejam, liar, dan gemar melemparku ke dalam pusaran penderitaan yang tak berujung. Aku masih belum menemukan hikmah terbesarnya, tapi kekejaman ini banyak memberiku pelajaran.

Dengan tulang persendian yang berderit, aku memaksakan diri bangkit. Ruangan ini tidak lebih dari sebuah kotak korek api yang pengap. Dindingnya mengelupas, menampilkan plesteran semen yang berjamur. Aku melangkah gontai menuju pintu kayu yang engselnya sudah karatan, lalu menariknya terbuka.

Udara dingin yang membawa aroma karat dan sampah membelai wajahku. Aku berdiri di sebuah lorong panjang yang temaram, memanjang tanpa ujung di sebuah rumah susun (rusun) yang tampak seperti ditinggalkan oleh peradaban.

Di dinding beton tepat di seberang pintuku, sebuah poster besar tertempel dengan lakban hitam yang sudah mengelupas. Tulisannya tidak dicetak rapi, melainkan ditorehkan dengan cat merah kental yang menetes ke bawah, menyerupai noda darah segar yang baru saja digoreskan:

PERINGATAN UNTUK PENGHUNI BARU!

DILARANG KERAS NAIK MENGGUNAKAN TANGGA KE LANTAI 13 (LANTAI TERATAS).

KESELAMATAN PENGHUNI AKIBAT PELANGGARAN TIDAK MENJADI TANGGUNG JAWAB PENGELOLA.

Aku menatap peringatan itu dalam keheningan yang mencekam. Keselamatan? Dulu, ancaman semacam itu mungkin akan membuat lututku gemetar dan memaksaku mengunci pintu kamar rapat-rapat. Namun, sekarang? Jiwaku telah mati berkali-kali. Aku telah ditusuk belati perunggu di Tarumanegara, dibedah hidup-hidup tanpa obat bius pelumpuh saraf, dan hangus dilebur plasma di gurun antariksa. Kematian bukan lagi monster yang menakutkan bagiku; ia hanyalah kondektur stasiun yang akan memindahkan lokomotif penderitaanku ke rute yang baru.

Rasa lelah yang teramat sangat tiba-tiba membebani kedua pundakku. Lelah berlari. Lelah berpindah. Lelah diuji oleh moralitas dan ketakutan.

Satu-satunya jangkar yang menahan kewarasanku agar tidak hancur berkeping-keping adalah tujuanku yang belum tuntas: Ibu. Aku harus menemukan Ibu. Aku harus bersimpuh dan meminta maaf atas segala kelemahan dan dosaku.

Biasanya, sebuah peringatan mutlak di tempat terkutuk seperti ini adalah bentuk kesungguhan. Sebuah pintu yang menyembunyikan anomali. Bagaimana jika lantai paling atas rusun ini adalah jalan pintas? Bagaimana jika di balik bahaya yang dijanjikan poster itu, terdapat portal yang akan merobek labirin dimensi ini dan mengantarkanku pulang ke dunia ibuku?

Tanpa ragu sedikit pun, aku memalingkan wajah dari poster itu dan berjalan menuju tangga darurat di ujung lorong. Aku memilih mengabaikan lift besi yang pintunya menganga gelap seperti mulut buaya.

Begitu kakiku menginjak anak tangga pertama menuju ke atas, atmosfer rusun ini berubah drastis. Udara mendadak anjlok menjadi sedingin es. Suara derap langkahku memantul ke dinding beton, bergema berkali-kali lipat lebih keras, seolah ada entitas lain yang ikut melangkah tepat di belakangku. 

Keringat mulai bercucuran ketika aku naik lebih dari lima lantai. Mengapa dilarang naik dengan tangga? Apa ada ritual khusus di baliknya? Aku pun memilih mencoba naik dari lantai pertama.

Aku menelan ludah, memaksakan diri terus menaiki anak tangga beton yang lembap. Lantai 11... 

Setiap kali aku melewati bordes tangga, lampu neon di plafon berkedip liar, memancarkan bunyi dengungan listrik yang menyayat telinga. Di lantai 12, lampu mati total. Kegelapan mutlak menelan pandanganku.

Ketegangan mulai mencekik leherku. Dari arah lorong lantai 12 yang gelap gulita, terdengar suara gesekan yang mengerikan. Sesuatu yang berat sedang diseret di atas lantai beton, diiringi bunyi napas basah yang menggeram rendah. Bulu kudukku meremang. Naluri purbaku menjerit menyuruhku turun, kembali ke kotak korek api yang aman.

Namun keputusasaan selalu lebih kuat dari ketakutan. Aku menggigit bibir bawahku hingga terasa anyir darah, meraba pegangan tangga yang berkarat, dan mempercepat langkahku dalam kegelapan menuju lantai terakhir.

Sedikit lagi. Pasti ada jalan keluar di atas sana.

Di ujung tangga, sebuah pintu besi raksasa menghadang. Gembok rantainya telah putus, menyisakan rantai berkarat yang menjuntai lemas. Bau ozon yang sangat pekat dan aroma bunga melati yang menusuk hidung menguar dari celah bawah pintu. Kombinasi bau yang mustahil.

Suara seretan dari lantai 12 terdengar semakin cepat, seolah makhluk di bawah sana menyadari bahwa aku hampir menembus batas larangan. Suara geramannya kini berubah menjadi lengkingan yang memekakkan telinga, menggema menaiki lorong tangga.

Dengan sisa tenaga penghabisan dan jantung yang berdegup layaknya genderang perang, aku mendorong tuas pintu besi itu sekuat tenaga. Engselnya menjerit keras melawan karat, dan pintu itu pun terayun terbuka, menumpahkan cahaya abu-abu ke wajahku saat aku menerobos masuk ke lantai terlarang.

--------

290426

Bismillah semoga besok temanya masih bisa disambungin wakakakak

Btw, larangan naik tangga ke lantai 13 tuh wajar ga sih? Kan capek. wakakakak

Bertunas Setiap HariCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang