DWC - 24 - BBM dan Hewan

6 2 0
                                        

# DAY 24

> Buat cerita dimana BBM sudah langka dan pemerintah meminta warga untuk menggunakan hewan sebagai alat transportasi.

💜💜💜

Kegelapan yang merengkuhku setelah tusukan belati perunggu di Tarumanegara ternyata hanyalah sebuah jeda singkat. Mataku kembali dipaksa terbuka, langsung disambut oleh sengatan matahari yang jauh lebih terik dan udara yang terasa kotor oleh debu polusi.

Tidak ada lagi hamparan lumpur sungai dan sabetan rotan punggawa kerajaan. Kini, gedung-gedung pencakar langit yang kusam dan berkarat menjulang rapat mengepungku.

Sebuah kalender digital raksasa di sisa videotron jalanan berkedip lemah, menampilkan angka merah yang menyala: Tahun 2049.

Aku menatap tanganku yang kini terasa lebih kasar, menggenggam seutas tali kekang usang. Di ujung tali itu, seekor sapi perah kurus tengah mengunyah rumput liar di tepi trotoar dengan malas. Bersamaan dengan itu, memori tubuh ini mengalir masuk membawa dentuman pening yang familier.

Identitasku telah berganti seratus delapan puluh derajat menjadi seorang wali murid—seorang ibu yang terjepit di era krisis energi terburuk dalam sejarah manusia.

Bahan Bakar Minyak telah menjadi legenda masa lalu. Bensin lebih langka dari tetesan air mata. Merespons kepanikan global ini, pemerintah merilis kebijakan yang terdengar seperti hasil racauan orang mabuk. Warga diwajibkan menggunakan hewan peliharaan dan ternak peliharaan peliharaan sebagai alat transportasi resmi.

Ketiadaan mesin sungguh menyulitkan, tetapi hal yang sukses membuat darahku benar-benar mendidih hingga ubun-ubun adalah proyek mega korupsi ini rupanya berumur terlampau panjang.

Alasan penghematan emisi membuat pihak sekolah mewajibkan para orang tua untuk datang menjemput kotak-kotak MBG sialan itu setiap siang, menunggangi hewan mereka masing-masing.

Aku memandang sapi kurus ini, lalu membayangkan siksaan menempuh jarak berkilo-kilometer di bawah suhu ekstrem hanya demi menjemput sekotak makanan. Aku sangat yakin kualitas isinya tak jauh berbeda dari donat berminyak curah yang pernah kukemas di kehidupanku yang lain.

Pejabat terus saja duduk nyaman di dalam gedung berpendingin ruangan bertenaga surya, membiarkan kami, rakyat biasa, disuruh kembali ke peradaban zaman batu.

Naluri pemberontakku yang sempat terputus oleh maut di tepian Kali Gomati kini menyala kembali. Aku berani mati tertusuk belati demi melawan korupsi di masa lalu, tentu aku tidak sudi tunduk pada kebijakan konyol di tahun 2040 ini. Melalui grup komunikasi para wali murid, aku menyalakan sumbu perlawanan dan mengoordinir sebuah pergerakan gila.

Keesokan harinya, jalanan aspal menuju gedung wakil rakyat yang megah berubah wujud menjadi lautan hewan ternak. Ratusan wali murid berbaris rapat. Banyak yang menunggangi sapi, menuntun kerbau, mengendarai kuda pacu, hingga menarik gerobak reyot dengan kambing bandot. Kami membiarkan tangan kami kosong tanpa spanduk protes. Kami juga mengabaikan orasi dan yel-yel yang hanya akan menghabiskan tenaga. Kami sepenuhnya memilih mengepung halaman depan gedung dewan itu dengan keheningan.

Lalu, kami membiarkan alam bekerja.
Ratusan tumpukan kotoran hewan berjatuhan bebas, berceceran di atas pelataran marmer wakil rakyat yang mengilap. Pemandangan itu disusul oleh bau busuk yang menguar pekat ke udara panas. Para petugas keamanan dan pejabat berdasi kelabakan menutup hidung, merasa jijik dan tak berdaya menghadapi lautan kotoran segar.

Aku tersenyum tipis dari atas punggung sapiku. Aksi ini adalah puisi protes kami yang paling murni dan memuaskan. Mereka selama ini memaksa kami menelan kebijakan-kebijakan birokrasi bernilai sampah, dan hari ini, sudah sepantasnya mereka menerima tumpukan kotoran itu tepat di depan hidung mereka sendiri.

💜💜💜💜

24 April 26
Katanya, kalau di Islam, ga boleh melawan pemerintah. Ga boleh makar.

Cuma, kalau zalimnya terlalu gimana, ya?

Apa sabar hanya satu2nya solusi?

Bertunas Setiap HariCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang