Apa yang kamu pikirkan setiap baru membuka mata?
Tentang rencana hari ini?
Tentang mimpi yang ingin dicari?
Atau justru duka malam tadi?
Ini kisah acak tentang pikiran-pikiran yang muncul ketika menyesap teh, menghidu aroma kopi, menatap tetes huja...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pergi ke website https://www.getrandomthings.com/list-20th-century-fox-films.php (DILARANG REFRESH) Pilih salah satu film yang muncul. Buat cerita dengan latar tempat dari film yang dipilih.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aku terbangun dengan rasa pusing yang luar biasa. Aku tidak lagi merasakan tanah tempat aku terakhir menancapkan tubuh sebagai bunga bangkai. Aku bisa melihat tonjolan hidungku sendiri di antara kedua mata. Kabar baik! Aku sudah kembali menjadi manusia. Akan tetapi, tubuhku tidak bisa digerakkan.
Saat itulah, aku menyadari sesuatu. Aku mendengar debur ombak cukup keras dari arah kanan. Aku menoleh dan melihat horizon biru yang cantik. pasir putih yang lembut. Akan tetapi. pasir di bawah tubuhku terasa berbeda, lebih halus, mirip tepung yang biasa diolah ibuku menjadi roti.
Ketika aku mencoba duduk, tanah bergetar. Teriakan samar terdengar dari segala arah. Ribuan manusia berukuran tidak lebih dari jari telunjukku berlarian ketakutan. Aku menyadari sesuatu yang gila: aku berada di Lilliput. Aku adalah raksasa!
Tubuhku terikat tali-tali yang membuatku tak bisa bergerak. Ah, ternyata besarnya tubuh ini membuat mereka khawatir. Menyedihkan. Padahal aku sudah bahagia tidak lagi menjadi bunya bangkai yang kesepian di tengah hutan.
Setelah aku mengatakan bahwa aku tidak bermaksud jahat, mereka melepaskanku.
Awalnya, egoiku membengkak lebih cepat daripada tubuhku. Dulu, di dunia nyata, aku selalu merasa paling benar. Paling pintar. Paling besar. Aku meremehkan teman sekolah, menganggap remeh pendapat orang lain, dan berjalan seolah dunia ini milikku sendiri. Kini, secara harfiah, dunia memang terasa kecil di bawah kakiku. Aku bisa melangkah melintasi desa mereka hanya dengan tiga kali injakan. Aku merasa seperti dewa.
Namun, euforia itu hanya bertahan sebentar.
Ketika aku mencoba berdiri, tanah ambles. Rumah-rumah kecil mereka hancur tertekan telapak kakiku tanpa sengaja. Teriakan panik semakin menjadi. Aku ingin membantu, tapi tanganku terlalu besar untuk mengangkat mereka tanpa menghancurkan tulang-tulang mungil mereka. Aku ingin berbicara, tapi suaraku menggelegar seperti petir yang membuat mereka pingsan karena ketakutan.
Di sinilah aku menyadari kesalahan fatal itu. Menjadi besar tidak berarti menjadi berkuasa. Menjadi besar justru berarti menjadi terisolasi.
Aku duduk kembali, memeluk lutut, dan menangis. Air mataku saja bisa menciptakan banjir kecil bagi mereka. Dulu aku sombong karena merasa "besar" di antara manusia biasa. Aku merasa berhak mendominasi. Sekarang, ketika aku benar-benar besar secara fisik, aku justru merasa sangat kecil di hadapan tanggung jawab ini. Aku takut bergerak. Bahkan aku takut bernapas terlalu keras.
Kekuatan adalah ujian. Aku rindu menjadi manusia biasa. Aku rindu bisa bersalaman tanpa khawatir meremukkan tulang seseorang. Aku rindu didengar karena kata-kataku, bukan karena volumenya yang menggelegar.
Penyesalan itu datang menghantam dada. Andai aku tahu bahwa menjadi "besar" yang sesungguhnya bukanlah tentang seberapa tinggi kita berdiri di atas orang lain, melainkan seberapa rendah hati kita untuk membantu siapa pun sebisanya.
Di negeri mungil ini, aku belajar bahwa raksasa yang paling menakutkan bukanlah yang tubuhnya setinggi gunung, melainkan ego yang tidak pernah mau mengecil untuk memahami sesama.
Aku hanya ingin pulang. Menjadi kecil kembali. Memeluk ibu. Dan kali ini, menjadi besar hanya dalam kebaikan, bukan dalam kesombongan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
100426
Masih transmigrasi si 'aku' dr bunga ke film. wakakakaka