DWC - 25 - Day 18

9 2 0
                                        

# DAY 25

> **Buat cerita yang diawali dengan kalimat terakhir cerita day ke-18.

💜💜💜

Aku memejamkan mata, membiarkan setetes air mata keputusasaan jatuh menetes, dan ujung pulpen itu mulai menari, menandatangani kesepakatanku dengan kegelapan.

Blitz kamera berkedip liar, menyilaukan pandanganku di ruang konferensi pers yang terasa sedingin es. Aroma pengharum ruangan disemprotkan secara berlebihan, berusaha keras membunuh sisa bau kotoran sapi dan kerbau yang masih membekas di pelataran marmer gedung Dewan Perwakilan Rakyat semenjak aksi gila kami minggu lalu.

Tahun 2040 baru menginjak pertengahan, tetapi bagiku, kiamat tiba lebih awal.

Kertas tebal berstempel resmi di bawah tanganku adalah surat pernyataan permohonan maaf secara terbuka kepada negara. Sebuah lembar menjijikkan yang menuduhku sebagai provokator pemberontakan, perusak stabilitas nasional, dan penghasut rakyat. Di sebelahku, seorang pejabat tinggi pemerintah dengan setelan sutra mahal tersenyum penuh kemenangan ke arah lensa puluhan jurnalis yang menyorongkan mikrofon mereka layaknya senjata.

Seandainya aku hanya hidup sebatang kara, aku berani bersumpah akan merobek kertas ini dan meludahinya tepat di depan wajah mereka. Aku pernah mati tertusuk belati perunggu di tepian Kali Gomati demi menentang korupsi Tarumanegara. Kematian fisik adalah hal yang sangat mudah. Sayangnya, para penguasa tirani di era krisis energi ini telah belajar dari sejarah.

Mereka jauh lebih licik!

Mereka tidak lagi membidik jantung para pemberontak, melainkan menyandera kelemahan yang paling berharga.

Tadi malam, sepasukan aparat tak berseragam mendobrak pintu rumahku, menyeret suami dan anak-anakku ke sebuah ruangan interogasi tanpa jendela. Ultimatum itu dijatuhkan tanpa ampun!

Baca surat permohonan maaf ini dan nyatakan bahwa aksi protes tersebut ditunggangi pihak asing! Kalau tidak mau, maka seluruh keluargamu akan dijebloskan ke penjara blok bawah tanah tanpa pengadilan. Terlebih dari itu, seluruh aset properti, tabungan, dan jatah pangan kalian akan disita negara. Kalian akan dibuang ke jalanan berdebu tanpa identitas digital, dibiarkan kelaparan hingga menjadi tulang belulang.

Pemberontakanku mungkin terlihat gagah saat mengepung gedung dewan, namun saat napas orang-orang yang kucintai berada dalam cengkeraman taring penguasa korup, aku tidak lebih dari seorang manusia biasa yang rela mengorbankan harga diri hingga hancur berkeping-keping.

Goresan tintaku selesai merangkai tanda tangan di atas kertas tersebut. Aku menarik napas yang terasa merobek paru-paru, lalu dengan suara gemetar yang disiarkan langsung ke seluruh penjuru negeri, aku menundukkan kepalaku dalam-dalam di hadapan para monster berdasi itu.

"Saya memohon ampun, saya mengaku bersalah," bisikku getir, meresapi kekalahan paling hina yang pernah kutelan sepanjang sejarah pengembaraan jiwaku di semesta ini.

💜💜💜

25 April 26

Kayaknya ini bakalan jd karya satir banget ya 😭

Namun, Allah Maha Adil

Bertunas Setiap HariCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang