DWC - 19 - Mandul

10 2 0
                                        

# DAY 19

> **Buat karakter cerita kalian tidak bisa memiliki anak. (Sesuai dengan gender karakter utama kalian)**

💜💜💜💜

Ujung pulpen itu akhirnya berhenti menari. Tinta hitam telah menggoreskan sebuah tanda tangan persetujuan di atas kertas putih, menyegel jiwaku dalam daftar panjang manusia-manusia korup yang memakan hak anak-anak yang kurang mendapat pendidikan layak di luar sana.

Pak Joko tersenyum puas, menarik map plastik itu, lalu menyerahkan sebuah amplop cokelat tebal yang terasa begitu kotor di tanganku. Tidak ada waktu untuk meratapi kehancuran nurani. Dengan napas memburu dan langkah gemetar, aku bergegas meninggalkan ruangan pengap itu menuju rumah sakit.

Setibanya di ruang rawat intensif yang dingin, memori dari tubuh yang kurasuki ini berangsur menjadi semakin jernih dan utuh. Gadis kecil yang terbaring lemah dengan selang ventilator menancap di tenggorokannya itu adalah adik bungsuku.

Kepergian kedua orang tua kami akibat kecelakaan membuatku mengambil alih peran ibu seutuhnya. Bagiku, dia segalanya. Adik yang harus kuhidupi, meski dengan cara yang paling hina sekalipun.

Aku menjatuhkan diri di kursi plastik sebelah ranjangnya. Saat menatap wajah pucatnya, sebuah nyeri mendadak berdenyut hebat di perut bagian bawahku. Aku meraba perutku yang rata, merasakan rasa mual yang bersarang di dalam sana. Muak pada perbuatanku sendiri.

Aku, di dimensi ini, adalah seorang wanita yang tidak akan pernah bisa memiliki anak.

Air mata kepahitan menetes, membuka kembali luka lama dari ingatan tubuh ini. Tiga tahun yang lalu, ketika kemiskinan mencekik leher kami jauh lebih erat dari sekarang, aku pernah terpuruk di atas sajadah usang pada sepertiga malam. Kala itu, adik baru dinyatakan sakit kanker, beras hanya tersisa debu di dasar wadahnya, dan aku baru saja dipecat dari pekerjaan serabutan.

Dalam isak tangis keputusasaan yang buta, aku menengadahkan tangan dan melontarkan sebuah doa yang terlampau berani.

"Ya, Allah," isakku malam itu, "aku tidak sanggup jika harus memiliki anak. Kemiskinan ini terlalu kejam untuk diwariskan pada jiwa yang baru. Jangan beri aku keturunan. Biarkan aku melajang saja. Aku hanya ingin fokus merawat adikku hingga ia dewasa."

Tuhan Maha Mendengar. Ia adalah Dzat yang sangat presisi dalam mengabulkan permintaan hamba-Nya. Namun, aku lupa betapa rapuhnya manusia dalam merangkai diksi di hadapan Sang Pencipta. Aku lupa bahwa Allah memiliki cara kerjanya sendiri yang sering kali berada di luar nalar pendek manusia.

Hanya beberapa bulan setelah doa keputusasaan itu terucap ke langit, perutku perlahan membesar. Awalnya aku mengira itu adalah kelaparan yang menumpuk gas, tetapi rasa sakitnya meledak tak tertahankan. Ketika dokter rumah sakit umum memeriksaku, vonis itu jatuh bagaikan palu godam: ada sebuah kista ovarium raksasa bersarang di sana. Kista itu tumbuh dengan ganas, mengakar dan merusak dinding rahimku.

Satu-satunya cara untuk menyelamatkan nyawaku agar tetap bisa merawat adikku adalah dengan melakukan histerektomi, pengangkatan rahim secara total.

Di atas ranjang pesakitan kala itu, setelah sisa pengaruh bius menghilang dan dokter menyatakan bahwa aku resmi mandul seumur hidup, aku menangis meraung-raung. Doaku terkabul. Aku benar-benar tidak akan pernah memiliki anak, dan aku bisa fokus seratus persen merawat adikku.
Namun, harganya adalah sebuah kehancuran fisik dan trauma mental yang tak akan pernah pulih.

Aku mengusap wajahku yang basah di ruang ICU ini, menatap tajam pada ironi kehidupan yang menamparku berulang kali. Peristiwa ini menjadi sebuah renungan paling menakutkan yang menembus lintas dimensi. Doa adalah pedang bermata dua yang teramat tajam. Kita sering kali begitu lancang mendikte Tuhan tentang apa yang kita inginkan, tanpa menyadari keterbatasan akal kita sendiri.

Kita menangis meminta agar masalah dihilangkan, tanpa tahu dengan skenario apa masalah itu dicabut. Kita memohon dijauhkan dari sesuatu, tanpa tahu jalan memutar mana yang akan memotong daging kita sendiri.

Kini aku sadar, hal yang paling krusial dari sebuah doa bukanlah semata-mata pada pengabulannya. Berdoalah agar setiap permintaan yang terkabul senantiasa dibarengi dengan afiyah. Keselamatan, kesehatan, dan cara yang baik tanpa membawa kebinasaan. Sebab, tanpa afiyah, sebuah doa yang terkabul bisa jadi adalah bentuk ujian yang paling mengerikan.

Kugenggam jemari adikku yang masih terasa hangat, meresapi sisa napas kami di dunia yang penuh ujian ini. Aku telah kehilangan rahimku karena sebuah doa yang keliru, dan hari ini, aku baru saja kehilangan nuraniku demi uang korupsi.

Jika ada satu doa yang berani kupanjatkan hari ini, aku hanya meminta agar Tuhan mengampuni kelancanganku sebagai manusia yang penuh khilaf dan dosa.

💜💜💜💜

19 April 26
Ceritanya makin ke mana-mana.

Bertunas Setiap HariCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang