# DAY 26
> Pilih satu Music Video favoritmu (artis bebas, dari negara mana saja) lalu buat cerita yang diinspirasi dari Video tersebut.
Kupilih karena zaman itu kayak wow banget efeknya.
💜💜💜💜
Suara jepretan kamera dan cecar pertanyaan para jurnalis di ruang konferensi itu perlahan membaur menjadi gemuruh guntur yang membelah langit. Kilatan blitz yang menyilaukan mata berubah wujud menjadi sambaran petir di tengah kegelapan pekat.
Lantai marmer tempatku menundukkan kepala mendadak menjelma menjadi tanah berlumpur yang basah dan dingin. Udara yang kaku oleh pengharum ruangan berganti dengan kabut tebal beraroma pinus basah dan lumut.
Aku tersentak berdiri. Setelan formal yang mengikatku tadi telah menguap, berganti dengan sehelai gaun biru tipis yang menjuntai kotor hingga ke mata kaki. Di sekelilingku, pepohonan raksasa menjulang rapat bak raksasa yang tertidur, membentuk kanopi gelap yang menghalangi cahaya rembulan.
Lalu, lolongan itu terdengar.
Dari balik semak belukar yang pekat, sepasang mata serigala menyala menatapku. Bukan hanya satu, melainkan sekawanan binatang buas yang memamerkan taring-taring kelaparan. Mereka kini menjadi manifestasi dari ketakutanku sendiri. Ini ilusi, atau kenyataan hakiki? Monster-monster penguasa dari dimensi sebelumnya yang masih memburuku di alam bawah sadar.
Aku membalikkan badan dan berlari membabi buta.
Hutan ini sangat liar dan menolak kehadiranku. Akar-akar pohon yang mencuat dari tanah bergerak hidup, melilit pergelangan kakiku seperti sulur-sulur keputusasaan yang berusaha menghentikan langkahku. Aku memberontak, merobek akar itu hingga telapak tanganku berdarah, dan memaksakan kaki terus membelah lebatnya hutan.
Tuhan seolah mempermainkan kewarasanku. Hanya dalam hitungan detik, pepohonan pinus itu membeku. Hutan yang lembap berubah menjadi padang tundra bersalju. Angin badai menerjang, membekukan keringat dan sisa air mata kekalahan yang belum sempat jatuh dari pelipisku. Gaun biruku kaku oleh kristal es.
Aku merangkak di atas hamparan salju yang membutakan mata. Inilah manifestasi dari rasa dingin yang menampar jiwaku saat aku menandatangani surat pengakuan palsu di tahun 2040. Rasanya hatiku membeku sendirian dalam isolasi nurani.
Belum sempat dadaku menyesuaikan diri dengan hipotermia, pijakan es di bawahku retak. Aku terperosok, tidak jatuh ke dalam air beku, melainkan ke atas tanah yang hangus.
Kobaran api menjilat-jilat dahan pohon yang mengering. Hutan ini sekarang terbakar hebat, memuntahkan abu vulkanik dan bara yang menyengat kulit. Penderitaan ini terasa seperti siklus tak berujung.
Dalam kepanikan yang memuncak menahan sesak asap, aku berlari menuju tepi tebing curam dan melompat, berharap menemukan dasar yang mengakhiri siksaan beruntun ini.
Air laut yang gelap dan teramat dingin menelan tubuhku.
Suara bising api dan lolongan serigala seketika senyap, digantikan oleh keheningan samudra yang menulikan.
Aku tenggelam. Gaun biruku melayang seperti kepakan ubur-ubur di kedalaman air yang pekat. Begitu damai rasanya untuk menyerah. Begitu mudah rasanya untuk membiarkan diriku tenggelam ke dasar kegelapan, merelakan diri menjadi pecundang.
Namun, aku belum boleh mati! Aku belum bertemu ibu walau aku dipenuhi rasa bersalah akibat kelemahan diri sendiri. Aku mengayunkan kaki, berenang menantang arus bawah laut, menggapai permukaan air yang membiaskan seberkas cahaya rembulan. Dengan sisa tenaga penghabisan, aku menembus ombak, meraup udara dengan rakus, dan membiarkan deburan gelombang membawaku terdampar di sebuah pantai yang sangat sunyi.
Aku terbatuk memuntahkan air asin. Pasir putih yang lembut menempel di kulitku yang menggigil. Matahari perlahan terbit dari ufuk timur, mengusir kabut dan bayang-bayang monster dari masa laluku.
💜💜💜💜
26 April 26
Apakah masih akan pindah?
KAMU SEDANG MEMBACA
Bertunas Setiap Hari
Fiksi UmumApa yang kamu pikirkan setiap baru membuka mata? Tentang rencana hari ini? Tentang mimpi yang ingin dicari? Atau justru duka malam tadi? Ini kisah acak tentang pikiran-pikiran yang muncul ketika menyesap teh, menghidu aroma kopi, menatap tetes huja...
