DWC - 21 - Snape

11 2 12
                                        

Pilih satu karakter dari cerita orang lain yang kamu suka (bisa berupa novel terbit/tidak, film, series) lalu deskripsikan dia dari sudut pandang karaktermu.

SNAPE

💜💜💜💜

Hari berganti, tetapi udara di gudang pengemasan Satuan Pelayanan Program Gizi ini tidak pernah sudi berubah. Pengap, berdebu, dan terus-menerus dilumuri aroma tengik dari ribuan donat murahan yang harus kususun.

Tanganku bergerak secara otomatis bak tarian monoton yang terlahir dari keputusasaan. Ambil mika, masukkan donat pucat bersalut pemanis buatan, rekatkan, lalu lemparkan ke dalam kardus bertuliskan Makanan Bergizi Gratis.

Semalam, saat aku duduk terjaga di sebelah ranjang ICU, rungu ini menangkap suara napas adikku yang berembus pelan dari balik selang ventilator. Mataku yang lelah tanpa sengaja menangkap sebuah buku tebal bersampul lusuh yang tergeletak di atas nakas rumah sakit.

Harry Potter and the Deathly Hallows.

Itu adalah novel fantasi yang sering kubacakan untuknya sebelum vonis kista merenggut rahimku, jauh sebelum kemiskinan memaksa tanganku menandatangani kontrak dengan iblis birokrasi.

Di tengah tumpukan donat beracun ini, pikiranku tiba-tiba melayang pada satu nama dari buku itu. Nama sebuah karakter yang paling dibenci, sekaligus paling tragis dalam seluruh kisah megah dunia sihir tersebut. Severus Snape.

Aku menghentikan pergerakan tanganku sejenak, membiarkan sebuah renungan asing merayap masuk. Snape adalah pria yang dibalut jubah kegelapan. Ia menerima Tanda Kegelapan di lengannya, berdiri di barisan para Pelahap Maut, dan melayani Pangeran Kegelapan yang kejam.

Di mata dunia, di mata orang-orang yang berusaha ia lindungi, Snape adalah pengkhianat berdarah dingin. Ia menelan semua kebencian, cacian, dan tatapan jijik tanpa pernah repot-repot membela diri.

Namun, sejarah mencatatnya sebagai pahlawan yang paling berani. Ia adalah agen ganda. Snape berada di dalam lingkaran setan bukan untuk ikut berpesta pora di atas penderitaan, melainkan untuk menghancurkan sistem itu dari dalam, tepat di titik butanya.

Kutatap telapak tanganku yang terbalut sarung tangan plastik berminyak. Kemarin sore, saat aku menggoreskan tinta pada dokumen fiktif yang disodorkan Pak Joko, aku mengira jiwaku telah mati sepenuhnya. Aku meratapi diriku sebagai monster kanibal yang memangsa masa depan anak-anak miskin demi menebus biaya napas adikku sendiri. Aku mengira, dengan menerima suap itu, aku telah sah menjadi salah satu pelahap maut di dunia nyata.

Namun ... bagaimana jika goresan tinta itu bukanlah sebuah akhir?

Bagaimana jika berada di dalam perut monster adalah satu-satunya cara untuk merobek ususnya?

Pak Joko kini memercayaiku. Para petinggi birokrasi yang memotong anggaran gizi itu mengira aku adalah pion yang aman karena aku miskin, putus asa, dan bisa dikendalikan oleh ancaman kelaparan. Mereka berpikir jerat kemiskinan telah membungkam nuraniku untuk selamanya.

Namun, mereka lupa satu hal, seseorang yang tidak lagi memiliki apa-apa untuk dipertahankan jika adikku tiada, seseorang yang tidak lagi memiliki rasa takut pada apa pun.

Aku menghela napas panjang, dan anehnya, udara gudang yang pengap ini tiba-tiba terasa sedikit lebih bisa dihirup. Mataku menatap tumpukan kuitansi fiktif, nota pembelian bahan baku kualitas rendah, dan daftar nama vendor bodong yang tergeletak sembarangan di atas meja kerjaku. Bukti-bukti kejahatan itu berserakan dengan arogan, karena para koruptor ini merasa terlalu kebal hukum.

Aku bisa menjadi Snape. Aku akan memakai jubah pelahap maut ini setiap hari dari pukul delapan pagi hingga lima sore. Aku akan tersenyum menunduk saat Pak Joko menyodorkan amplop cokelat di akhir bulan. Aku akan membiarkan mereka mengira jiwaku telah terbeli murah.

Namun, secara diam-diam, aku akan menyalin setiap dokumen fiktif itu. Aku akan memotret nota-nota asli dari pabrik tepung apek dan minyak curah. Aku akan mencatat setiap aliran dana yang mengalir ke kantong-kantong pejabat tamak tersebut. Akan kukumpulkan semuanya, menyusun kepingan teka-teki busuk ini sedikit demi sedikit dalam keheningan yang mematikan.

Aku memasukkan satu donat terakhir ke dalam mika dengan gerakan yang jauh lebih mantap dari sebelumnya.
Aku mungkin tidak memegang tongkat sihir, dan dunia ini tidak bisa diselamatkan hanya dengan merapal mantra. Namun, aku memiliki ketekunan dan akses ke banyak tempat.

Biarlah untuk sementara waktu aku menanggung dosa karena menyalurkan donat-donat murahan ini. Biarlah tanganku kotor oleh pelumas korupsi. Pada saatnya nanti, ketika semua bukti telah lengkap dan tak terbantahkan, aku akan meledakkan sistem Program Gizi yang culas ini tepat dari jantungnya.

Pintu besi gudang ditarik ke atas, membiarkan cahaya matahari menerobos masuk bersama para kuli angkut. Aku menatap kardus-kardus itu, dengan harapan baru yang siap meruntuhkan sebuah kekaisaran palsu.

💜💜💜💜

21 April 26

Wakakak udah makin bingung sama temanya

Bertunas Setiap HariCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang