[21 + ] DWC - 17 - Kematian

11 4 9
                                        

> **Buat cerita dengan tema “Kematian” Tidak boleh Angst.**

****

Ketika cincin melingkar di jari, cahaya menyilaukan kembali menerjang. Tubuhku kaku seolah tak pernah bergerak.

Aroma kafe yang menenangkan menguap, tergeser oleh aroma tajam zat besi yang mengental dan bau daging yang dipanggang lambat.
Aku tersentak, membuka mata.

Lagi-lagi aku berpindah.

Ya, Tuhan! Aku baru saja beristirahat.

Kehangatan dan ketenangan lenyap mutlak. Kini, aku duduk di sebuah kursi kayu ek yang berat, mengitari meja makan panjang bercat gelap. Ruangan itu remang-remang, hanya diterangi oleh pendar lilin-lilin tinggi yang diletakkan di tengah meja. Di sekeliling kami, bayangan patung-patung kecil tanpa busana bermain di dinding batu yang dingin.

Di hadapanku, seorang pria duduk dengan tegak. Wajahnya tampan, dengan rahang tegas dan sepasang mata kelam yang memancarkan teror menakutkan. Ia mengenakan setelan jas malam yang rapi, senada dengan gaun malam sutra hitam yang kini membalut tubuhku.
Bersamaan dengan kesadaranku, arus memori dari tubuh yang kurasuki kembali mengalir, membawa nama pria itu. Arthur, pasanganku. Namun, ingatan ini tidak terasa manis seperti ingatan di dimensi sebelumnya. Ingatan ini dipenuhi oleh kepatuhan yang dipaksakan dan rasa takut yang diredam.

Arthur tersenyum, senyum yang mengintimidasi dan membuat bulu kudukku meremang. Ia meraih pisau dan garpu perak yang berkilau di bawah pendar lilin, lalu menunjuk ke arah piring porselen di hadapanku.

"Makanlah, Sayang. Hidangan malam ini sangat spesial," suaranya mengalun rendah, berwibawa, tetapi menyimpan nada ancaman yang halus.

Aku menunduk menatap piringku. Di sana, di atas tumpukan sayuran akar panggang, terletak sepotong daging tebal berwarna kecokelatan, disiram saus gelap yang kental. Aromanya memang lezat, gurih dan begitu menggoda. Namun, ada sesuatu yang salah. Serat dagingnya terlampau halus, teksturnya aneh, dan warna darah yang tersisa di sela-selanya memiliki rona merah yang berbeda.

Sebuah realitas mengerikan mendadak menghantam nalar logisku, jauh lebih mengerikan dari moncong pistol Koboy berkuda mesin. Aku mengenali aroma ini. Ini bukan daging binatang. Ini adalah daging manusia.

Perutku mual seketika. Rasa pening yang luar biasa menghantam, bukan karena perjalanan dimensi, melainkan karena kengerian murni. Aku berusaha menjaga napas tetap teratur, mengendalikan otot-otot wajah agar tidak memancarkan kepanikan yang meronta di dalam dada. Tanganku bergetar saat meraih garpu, pura-pura bersiap memotong daging itu.

Arthur menyesap anggur merah dari gelas kristalnya,
"Kau tahu, Sayang. Dunia ini terlalu banyak membuang manfaat. Kematian... itu cuma masalah selesai memberi manfaat. Manusia hidup, mereka mengonsumsi energi, mereka mengambil dari bumi. Namun, saat mereka mati secara normal, dikubur di dalam tanah, mereka tidak memberikan apa-apa kembali. Itu adalah keegoisan yang nyata."

Ia memotong daging di piringnya dengan gerakan elegan, lalu menyuapkannya ke dalam mulut dengan santai.

"Tapi kalau mereka dibunuh... mereka masih memberi manfaat. Bagi kita." Arthur mengunyah daging itu dengan perlahan, matanya menatapku lekat-lekat, menikmati setiap detiknya.

"Kematian mereka menjadi sumber kehidupan kita. Energi mereka berpindah. Ini adalah siklus yang efisien. Sebuah pengorbanan suci yang menghormati keberadaan mereka dengan menjadikannya bagian dari kita. Tanpa ketertiban seperti ini, manusia hanya akan membusuk sia-sia di bawah tanah."

Aku mendengarkan ocehannya dengan darah yang terasa membeku di nadiku. Ternyata, kebebasan murni di Space Westernyang kutakuti masih memiliki koridor kejujuran. Di sini, di balik peradaban yang tinggi, justru bersemayam kebiadaban yang paling hakiki. Kanibalisme yang didandani dengan jubah kepalsuan dan senyum penuh dusta.

Aku memotong sepotong kecil daging, membawanya ke dekat bibir, lalu meletakkannya kembali di piring. Aku tidak bisa. Jiwaku menolak. Kematian di Lilliput adalah tentang menyelamatkan nyawa, kematian di sini adalah tentang melahap nyawa demi kepuasan diri.
Arthur berhenti mengunyah. Ia meletakkan pisau dan garpunya dengan denting perak yang tajam, memecah kesunyian ruangan. Senyum palsunya lenyap, digantikan oleh tatapan dingin yang siap menerkam.

"Kenapa kau tidak memakannnya?" suaranya rendah, sarat dengan kekecewaan yang berubah menjadi amarah. "Kau tidak menghargai pengorbanan ini? Atau kau jijik pada 'manfaat' yang kuberikan?"

Aku menelan ludah, berusaha menyusun kata-kata dari memori tubuh ini yang ketakutan. "A-aku... perutku sedang tidak enak, Arthur. Mungkin anggurnya terlalu kuat."

Arthur bangkit dari kursinya perlahan, lalu melangkah mengitari meja panjang itu menuju ke arahku. Bayangannya memanjang di dinding, menyerupai monster yang siap menelan cahaya lilin.
"Hanya karena perutmu tidak enak?" Ia berdiri di belakang kursiku, meletakkan tangan besarnya di pundakku, mencengkeramnya dengan kuat hingga kuku-kukunya menusuk kulit. "Kutahu setiap jengkal tubuhmu, Sayang. Kutahu ekspresi wajahmu saat berbohong. Kau jijik. Kau menolak kebenaran ini."

Ia mendekatkan wajahnya ke telingaku, deru napasnya terasa dingin dan mengancam. "Kau bukan dia. Istriku yang patuh tidak akan pernah menolak daging ini. Setan mana yang merasukimu? Siapa kau sebenarnya?!"

Teriakannya meruntuhkan pertahanan ketenanganku. Arthur merenggut pundakku, memaksaku berbalik menghadapnya. Matanya liar, dipenuhi oleh kebencian pada sosok asing yang kini mendiami tubuh kekasihnya. Ia mengangkat pisau makan peraknya tinggi-tinggi di bawah pendar lilin, bersiap untuk mengakhiri 'perasukan' ini.

Naluri bertahan hidup mendadak bangkit. Aku mengabaikan gaun malam sutra yang menyiksa, lalu melayangkan tendangan keras tepat ke arah tulang kering Arthur.

Arthur mengerang kesakitan, pegangannya melonggar. Aku tidak membuang waktu. Aku melompat dari kursi, berlari menjauh menyusuri ruangan remang-remang itu. Meja panjang dengan hidangan kanibalisme itu menjadi rintangan yang menyiksa.
Aku berlari membabi buta ke arah bayangan yang kuyakin adalah pintu keluar. Dalam kepanikan, kakiku tersangkut karpet tebal. Aku menabrak sebuah lemari ek besar yang berisi porselen mahal. Suara pecahan piring yang hancur bergema keras di ruangan itu, mengiringi tubuhku yang tersungkur di atas lantai batu yang dingin.

Arthur pulih dengan cepat. Aku bisa mendengar derap langkahnya yang berat mendekat, jauh lebih cepat dari yang kubayangkan.

"Kau tidak akan bisa pergi!" teriaknya liar.

Aku merangkak di atas pecahan porselen dan sisa saus gelap yang tumpah, mengabaikan rasa perih yang menggores telapak tangan dan lututku. Di hadapanku, sebuah pintu kayu besar dengan pegangan besi tempa terlihat di bawah bayangan.

Aku mengerahkan seluruh sisa tenagaku untuk bangkit, meraih pegangan pintu itu dengan tangan yang gemetar berlumur darah. Kuputar pegangannya, lalu mendorong pintu itu sekuat tenaga.
Pintu itu berayun terbuka. Cahaya putih yang teramat menyilaukan meledak masuk dari balik pintu, menelan kegelapan ruangan, menelan lilin-lilin tinggi, menelan sosok Arthur yang mendekat, dan menelan jiwaku yang rontok dalam pusaran cahaya yang membutakan mata. Entah keabadian, neraka, atau penderitaan macam apa lagi yang sudah siap menungguku di balik cahaya ini!

****
27 April 2026

Kapan balik ke dunia nyata? 🤣🤣

Bertunas Setiap HariCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang