Apa yang kamu pikirkan setiap baru membuka mata?
Tentang rencana hari ini?
Tentang mimpi yang ingin dicari?
Atau justru duka malam tadi?
Ini kisah acak tentang pikiran-pikiran yang muncul ketika menyesap teh, menghidu aroma kopi, menatap tetes huja...
Apa yang membuat suara masuk ke kepala? Rambatan gelombang? Atau perasaan yang ditumpahkan dari bibir manusia?
Mengapa kadang rasanya menyayat hingga ke dada? Susunan huruf seolah nyata yang menusuk melalui lubang telinga dan terus meluncur hingga ke hati.
Nyeri ... Seperti luka yang menganga dan terus-menerus disirami garam.
Aku menutup kedua telinga dengan telapak tangan rapat-rapat, lalu meringkuk di sudut kasur. Menghalau semua bayangan gelap yang terus menerjang.
Kadang, aku hanya ingin kesunyian. Di mana telinga tak menangkap getaran sekecil apa pun. Dalam kamar gelap, mengenakan headphone tanpa bunyi. Hanya demi menghalau sindiran bising yang menganggu. Bersembunyi ... Tak peduli.
Namun, cacian sengau itu tetap merasuk. Mengendap sebelum kemudian mengerak hingga susah dibersihkan.
Mengapa ada yang tega memuntahkan rasa tidak suka? Menjelma menjadi monster yang kemudian melahap rasa bahagia.
Mengapa ada yang tega menusukkan kalimat penuh dusta? Menjelma menjadi raksasa pemakan kepercayaan juga cinta.
Sampai mana suara bisa membuat hati nestapa? Bahkan ketika aku menutup telinga, huruf-huruf itu tetap melayang di depan mata, menanti aku lengah sebelum kembali berjejalan menerobos semua pertahanan.
Napasku tercekat.
Harusnya, suara dari luar tak boleh merasuk ke kepala. Harusnya, hanya suara jiwaku yang boleh bergelora.
Akan tetapi, dunia tak seindah wacana. Meski kepala berusaha tegar, tapi hati tak urung terluka.
Aku pun membuka mata. Ejekan-ejekan itu masih terus menusuk di dada. Saatnya menegakkan posisi dudukku.
Sebuah tarikan napas yang panjang dan lama untuk membuat kalimat-kalimat busuk itu berputar dalam dada dan berharap bisa kumuntahkan kembali bersama suara debas yang nyaring.
Ya ... rasanya sudah lebih baik.
Aku harusnya bisa memutuskan mana yang bisa melukai dan mana yang harus kubuang tanpa peduli!
Aku harusnya bisa menepis semua ocehan sengau yang merusak!
Aku harusnya bisa menutup kedua telingaku dengan apa pun!
Kalaupun suara sumbang itu menusuk ke hati, aku pun harusnya bisa melemparnya keluar melalui embus napas atau teriakan pelepasan.
Ya ... Aku memang tak bisa menjahit mulut mereka, tapi aku bisa mengenakan headphone dan membungkam suara yang masuk ke jiwa.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“We can’t control the filters that others choose when they look at us.” ― Rachel Wolchin
090123
Image Source : Tokopedia
Kalau nggak update, artinya aku updatenya di Blog Shireishou.com