Apa yang kamu pikirkan setiap baru membuka mata?
Tentang rencana hari ini?
Tentang mimpi yang ingin dicari?
Atau justru duka malam tadi?
Ini kisah acak tentang pikiran-pikiran yang muncul ketika menyesap teh, menghidu aroma kopi, menatap tetes huja...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kilatan laser biru yang mematikan itu menembus dadaku, tetapi alih-alih menghanguskan raga dan meledakkan kesadaran, cahayanya perlahan memudar menjadi pendar merah muda yang teramat lembut. Sensasi terbakar dari plasma bertenaga tinggi itu menguap begitu saja, digantikan oleh belaian angin sejuk yang membawa aroma manis bunga sakura dan wangi buttercream dari panggangan kue.
Aku mengerjapkan mata, menyadari bahwa padang pasir keemasan yang gersang dan tatapan kejam sang koboi berkuda mesin telah sirna sepenuhnya.
Kini, aku duduk di sebuah kursi rotan bercat putih bersih, di sudut sebuah kafe estetik yang dihiasi warna-warna pastel. Alunan musik K-Pop mengudara dengan pelan, berpadu dengan denting sendok mungil yang mengaduk secangkir teh chamomile hangat di hadapanku.
Saat itulah, rentetan ingatan yang bukan milikku kembari membanjiri kepala. Semua terasa begitu akrab dan nyata. Ingatan dari tubuh yang--lagi-lagi--kini kurasuki. Bersamaan dengan itu, sebuah bisikan lembut menggema di hatiku, menyuarakan apa yang dirasakan oleh tubuh ini.
Kala di musim semi itu, aku melihat wajahmu. Sejuk, hangat, seperti angin yang membelai hati. Jiwaku tenang, senyumanmu meredakan kegundahan.
Aku menengadah. Di seberang meja, seorang pemuda dengan sweter rajut berwarna krem menatapku. Matanya melengkung menyerupai bulan sabit saat ia tersenyum, memancarkan ketulusan yang sama sekali tidak menuntut apa-apa. Tidak ada pedang yang harus diasah agar membantai para monster seperti milik Zoro. Tidak ada racun yang harus kutahan seperti di dunia Lilliput. Tidak ada kewajiban membuktikan kecerdasan, dan sama sekali tidak ada ancaman maut dari laras senjata.
Pemuda itu menggeser sepotong kue stroberi ke arahku, tatapannya penuh dengan puja dan ketulusan.
Bagi jiwa yang telah babak belur melintasi berbagai dimensi, peristiwa saat ini terasa seperti sebuah pelukan semesta. Aku tiba-tiba menyadari satu hal. Tuhan mungkin tengah memberiku jeda. Sang Pencipta tahu bahwa sang pengembara ini sudah terlalu lelah bertarung. Sudah terlalu berdarah lahir dan batin hingga akhirnya diberi tempat untuk beristirahat dan menarik napas lega walau hanya sejenak.
Aku menghidu aroma teh lamat-lamat, membiarkan otot-otot bahuku yang kaku akhirnya mengendur. Aku memutuskan untuk meletakkan pedang tak kasatmata yang selama ini kugenggam. Untuk kali ini saja, aku tidak perlu berjuang. Aku hanya perlu memainkan peranku dan meresapi kebahagiaan yang disajikan dengan begitu mudahnya.
Kala di musim semi itu, aku menjalin pertemanan denganmu. Manis, lucu, seperti makanan manis yang disajikan di kafe. Hatiku berbunga-bunga, kegiranganmu meredakan kesunyian.
Hari-hari di dimensi ini berlalu layaknya lembaran novel romansa picisan, dan aku menikmatinya dengan sepenuh hati. Pemuda itu kini membawaku menyusuri jalanan yang dipenuhi guguran kelopak sakura. Kami berbagi payung saat hujan gerimis turun, bertukar tawa atas lelucon-lelucon ringan yang sama sekali tidak membebani pikiran, dan menghabiskan sore demi sore tanpa perlu merisaukan tenggat waktu atau kejamnya dunia luar.
Aku membiarkan diriku hanyut dalam arus cerita yang berbunga-bunga ini. Kegundahan yang selama ini membelenggu jiwaku perlahan luruh, tersapu oleh hal-hal kecil yang manis. Bukankah manusia juga membutuhkan ini? Sebuah ruang yang aman, di mana kita diizinkan untuk menjadi rapuh dan dicintai tanpa syarat.
Hingga pada suatu senja, di bawah pohon sakura yang bunganya tengah mekar sempurna, langkah kami terhenti. Angin musim semi berembus, menjatuhkan beberapa kelopak merah muda ke atas bahuku.
Kala di musim semi itu, pertama kalinya kita bergenggam tangan. Malu, gugup, seperti ada kupu-kupu hinggap di perutku. Rasanya semuanya jadi lebih berwarna, kehadiranmu meredakan kesepian.
Ia meraih jemariku. Tangan itu terasa begitu hangat dan protektif. Benar saja, sensasi menggelitik yang disebut 'kupu-kupu' itu bergemuruh di dalam perutku. Namun kali ini, aku tidak menolaknya. Aku menyambutnya dengan senyum tulus yang memantulkan rona senja.
Pemuda itu menatapku dalam-dalam, senyum sabitnya memudar digantikan oleh kesungguhan yang menggetarkan hati. Perlahan, ia merogoh saku sweternya dan mundur selangkah, lalu berlutut dengan satu kaki di atas jalanan setapak yang bertabur kelopak bunga.
Dari balik telapak tangannya, ia membuka sebuah kotak beludru kecil berwarna biru tua. Di dalamnya, sebuah cincin perak dengan permata kecil yang memantulkan sisa cahaya matahari berkilau dengan indah.
"Kisah di musim semi ini tidak akan pernah usai," ucapnya pelan, suaranya mengalun seperti puisi yang selama ini diam-diam kurindukan. "Maukah kau menetap di sini, bersamaku?"
Aku menatap cincin itu, lalu menatap matanya. Di dimensi yang damai ini, pengembaraanku akhirnya menemukan tempat untuk berlabuh. Dan dengan air mata bahagia yang menggenang, aku berharap cerita ini pun berhenti di titik yang paling sempurna.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.