DWC - 27 - The Way of the Damned

9 2 1
                                        

*Pergi ke website https://blog.reedsy.com/book-title-generator, pastikan dalam "Any Genre", klik "I've written a book and need a title", lalu klik "generate title" satu kali.*

-----

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

-----

Matahari yang merangkak naik dari garis ufuk timur perlahan mengusir sisa-sisa kabut ilusi yang sempat mencekikku. Namun, sinarnya yang jatuh menimpa kulitku sama sekali tidak membawa kehangatan. Aku masih terduduk di atas hamparan pasir putih, memeluk lututku yang gemetar hebat, dengan gaun biru basah yang kini menempel ketat bak kulit kedua yang compang-camping.

Kutatap kedua telapak tanganku yang berkerut dan pucat. Tangan ini... tangan yang sama yang mengemas ribuan porsi donat beracun untuk anak-anak malang, tangan yang berlumur lumpur Tarumanegara, dan tangan yang dengan pengecutnya menggoreskan tinta kepatuhan pada rezim korup di tahun 2040. Keselamatan fisikku mungkin telah kembali, aku telah lolos dari serigala, salju, api, dan lautan. Namun, keselamatan jiwa adalah perkara yang sama sekali berbeda.

Sebuah rasa bersalah yang teramat pekat mengendap di dasar dadaku. Kepengecutan itu membusuk, mengeluarkan aroma penyesalan yang lebih menyengat daripada bangkai. Aku belum mati karena satu alasan yang terus menerus meronta di kepalaku saat air laut nyaris merenggut napasku tadi: Aku belum bertemu Ibu.

Ibu. Kata itu adalah jangkar kewarasanku. Sosok yang selalu menanamkan benih keberanian dalam diriku sejak aku masih kecil. Bagaimana aku bisa menatap wajahnya di ujung perjalanan dimensi ini jika yang kubawa hanyalah jiwa seorang pecundang yang menyerah pada rasa takut?

Aku memaksa kakiku yang kaku untuk berdiri. Di belakangku, hamparan samudra tampak tenang, seolah menyembunyikan maut yang baru saja kumuntahkan. Di hadapanku, daratan ini ternyata bukanlah surga tropis yang damai. Pasir putih ini berujung pada sebuah tebing karang hitam yang menjulang tinggi, membelah langit. Tepat di tengah karang tersebut, terdapat sebuah celah sempit, sebuah jalan setapak yang terbuat dari pecahan batu obsidian yang tajam dan bergerigi.

Angin laut yang berembus melewati celah karang itu menghasilkan suara siulan yang terdengar seperti sebuah teriakan nyaring di kepala: The Way of the Damned. Jalan Para Terkutuk.

Aku menelan ludah. Tidak ada jalan lain. Daratan ini adalah pulau transisi, dan satu-satunya rute untuk terus melangkah mencari Ibu adalah dengan menembus jalan karang tersebut.

Kulepaskan alas kaki rusak yang sedari tadi memberatkanku. Bertelanjang kaki, aku melangkah mendekati mulut tebing. Langkah pertama di atas The Way of the Damned langsung disambut oleh sayatan tipis di telapak kakiku. Batu-batu hitam itu setajam bilah pisau. Sakitnya menyengat, merambat naik hingga ke ubun-ubun.

Namun, aku tidak mengaduh. Rasa sakit ini justru terasa pantas.

Bukankah ini yang dinamakan dengan kutukan sejati? Menjadi terkutuk bukanlah tentang dibakar di dalam kawah api neraka yang dijaga iblis. Menjadi terkutuk adalah ketika kau harus berjalan maju dengan kesadaran penuh atas setiap dosa dan pengkhianatan nurani yang pernah kau lakukan. Menjadi terkutuk adalah dipaksa menelan kenyataan bahwa kau pernah memilih bungkam saat kebenaran menuntut suaramu, dan kini kau harus memikul ingatan memalukan itu di setiap pijakan kakimu.

Aku terus melangkah menyusuri lorong karang yang temaram. Darah mulai menetes dari telapak kakiku, meninggalkan jejak merah yang kontras di atas batu hitam.

Di sepanjang dinding tebing, aku mulai melihat bayangan-bayangan yang dipantulkan oleh cahaya matahari yang masuk melalui celah karang. Bayangan itu bukan pantulan ragaku saat ini. Itu adalah pantulan diriku yang memakai seragam SPPG, tertawa getir sambil memegang amplop cokelat. Pantulan diriku yang sedang menunduk di depan puluhan mikrofon wartawan. Pantulan diriku di depan meja makan Arthur sang kanibal, berpura-pura tidak tahu demi keselamatan diri sendiri.

Bayangan-bayangan hanya mengikuti, diam menatapku dengan tatapan kosong yang menghakimi. Inilah teman perjalananku di The Way of the Damned. Penyesalan dan rasa malu tidak akan pernah bisa ditinggalkan di samudra. Mereka bayang-bayang yang menghantui hingga aku tuntas membayar harga sebuah kelemahan.

"Aku akan terus berjalan," bisikku parau, suaraku memantul di dinding tebing. "Kalian boleh mengutukku, jalanku mungkin penuh darah, tetapi aku tidak akan berhenti sebelum aku menemukan Ibu. Aku akan membawa jiwa yang kotor ini dan bersimpuh di kakinya."

Setiap sayatan di kakiku kini terasa seperti sebuah penebusan. Gaun biruku semakin robek tersangkut dinding karang, mengelupas kepalsuan yang selama ini membungkusku. Di jalan para terkutuk ini, aku akhirnya belajar, penebusan dosa tidak pernah datang dari langit dengan rupa cahaya suci yang lembut dan hangat. Penebusan dosa harus direnggut dengan kaki yang berdarah, air mata yang kering, dan keberanian untuk terus berjalan meskipun tahu betapa hinanya diri ini di masa lalu.

****

270426

kok masih bisa nyambung? wakakakak

Bertunas Setiap HariCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang