DWC - 5 - Dusta

10 4 7
                                        


Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Matahari sore membakar kulitku yang semakin hari semakin tipis membungkus tulang

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Matahari sore membakar kulitku yang semakin hari semakin tipis membungkus tulang. Tangan kecil Rafi menggenggam erat jariku yang gemetar karena sudah tiga hari hanya diisi air putih dari keran masjid.

"Ibu punya banyak uang di rumah, Nak. Kita bisa makan enak hari ini," ucapku sambil tersenyum, meski perutku sendiri sudah lama sekali tidak merasakan nasi.

Kami berhenti di depan warteg sederhana. Asap mengepul dari panci besar, membawa aroma sayur dan lauk yang membuat air liurku hampir menetes. Rafi menatapku dengan mata berbinar. Sudah lama aku tidak melihat cahaya itu di matanya.

"Ibu mau makan ayam goreng yang besar, lho. Rafi mau apa?" tanyaku sambil membuka dompet kosong yang hanya berisi harapan kosong."Rafi mau telur dan tempe, Bu," jawabnya polos.Aku memesan satu porsi nasi, telur dadar, dua tempe goreng, dan sepotong ayam paha serundeng. 

Saat makanan kutaruh, dia heran saat melihat hanya ada satu piring yang terhidang. Namun, dengan alasan yang sudah kuhafal di luar kepala, aku mencomot satu tempe dari piringnya.

"Ibu sedang tidak lapar. Paling nyemil tempe aja. Ini semua untuk Rafi saja, ya," ujarku sambil mengusap perut yang keroncongan hebat. Semoga saja dia tidak mendengarnya.

Aku bisa melihat ada ragu di matanya. Namun, kecupanku di kening membuatnya tersenyum dan mulai menyantap. Rafi makan dengan lahap. Setiap suapan yang ia telan adalah pisau yang mengiris hatiku. 

Ada sesak menyadari kalau ini mungkin terakhir kalinya aku bisa melihatnya makan dengan tenang.

"Ibu sehat-sehat saja, kok. Tidak perlu khawatir. Besok kita jalan-jalan ke taman, ya," kataku sambil menahan batuk yang ingin sekali meledak dari dada yang sesak.

Dokter sudah memvonisku seminggu yang lalu. Penyakit itu sudah terlalu parah. PJS-ku menunggak sejak lama. Obatnya mahal, dan uang yang kumiliki hanya cukup untuk memastikan Rafi bisa makan beberapa hari sebelum aku benar-benar pergi. 

Aku memilih untuk tidak lagi berobat. Aku lebih menghabiskan waktu mencari panti asuhan, balai sosial, atau tempat tinggal yang layak untuk Rafi. Sebuah tempat yang bisa dia sebut rumah.

Bertunas Setiap HariCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang