Apa yang kamu pikirkan setiap baru membuka mata?
Tentang rencana hari ini?
Tentang mimpi yang ingin dicari?
Atau justru duka malam tadi?
Ini kisah acak tentang pikiran-pikiran yang muncul ketika menyesap teh, menghidu aroma kopi, menatap tetes huja...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Buat cerita dengan memasukkan 3 emoji yang didapatkan (sesuai urutan).
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Malam ini aku duduk sendirian di teras rumah, menatap langit yang mulai gelap. Seekor tikus kecil berlari melintasi halaman, membawa butiran daging yang jatuh dari tempat makan kucing.
Nekat!
Aku memperhatikannya dengan saksama. Makhluk sekecil itu pun berjuang untuk hidup, mencari rezeki yang Allah berikan. Tidak pernah ia mengeluh tentang besarnya beban yang dipikul, tidak pernah ia membandingkan dirinya dengan makhluk lain. Ia hanya menjalani perannya dengan ikhlas walau kerap dinilai sebagai parasit dan dijadikan kiasan bagi penjahat korup.
Padahal, tikus juga pejuang keras. Dia hanya tahu bagaimana mencari makan. Cukup hanya sampai perut kenyang. Tidak perlu sampai menumpuk emas, harta, atau pelesiran ke negara tetangga ketika negara sedang tertimpa mara bahaya.
Tikus memang tidak sewangi bunga lili warna-warni dalam buket. Namun, aku percaya tikus juga tidak rela jika harus disamakan dengan para pencuri harta rakyat!
Aku teringat masa kecil dulu. Kakek pernah bercerita bahwa tikus di alam liar sebenarnya hewan yang pemilih. Mereka tidak sembarangan memakan apa saja. Tikus menyukai buah-buahan yang manis, terutama pir yang harum dan berair. Mereka bisa mencium aroma manis dari jarak jauh dan akan berusaha meraihnya dengan segala cara.
Tikus kecil itu kini sedang menggigit buah pir yang jatuh dari pohon di depan rumah. Aku memperhatikannya dengan saksama. Ia makan dengan lahap. Setelah perutnya kenyang, ia akan berhenti. Tidak ada hasrat untuk menguasai seluruh pir yang ada. Tidak ada niat untuk menimbun buah-buahan itu di sarangnya sementara tikus-tikus lain kelaparan.
Berbeda dengan para koruptor yang rakus. Mereka tidak pernah merasa cukup. Miliaran sudah di tangan, masih ingin miliaran lagi. Rakyat membutuhkan bantuan, tapi uang itu malah masuk ke rekening pribadi. Mereka tidak pernah berpikir tentang konsekuensi perbuatannya. Yang penting perut sendiri kenyang, keluarga sendiri sejahtera, sementara orang lain menderita.
Aku menghela napas panjang. Langit semakin gelap, dan tikus kecil itu pun menghilang ke dalam lubangnya, membawa sisa pir yang bisa ia bawa. Ia tidak kembali untuk mengambil lebih. Ia tahu batasnya.
Tikus sejati mengambil hanya apa yang ia butuhkan untuk bertahan hidup. Ia tidak menimbun. Ia tidak mencuri hak sesamanya. Ia tidak membangun gudang penyimpanan harta sementara rakyatnya kelaparan.
Alam mengajarinya cukup.
Dan ia patuh.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.