# DAY 18
> **Buat cerita seram yang tidak membahas tentang paranormal, alien, atau psikopat.**
--------
Cahaya putih yang teramat menyilaukan dari pintu rumah Arthur meledak dan menelan kesadaranku. Namun, cahayanya tidak membawaku pada keabadian yang damai. Pijar itu meredup kasar, berganti dengan pendar lampu neon yang berkedip rusak di sebuah langit-langit berjamur. Bau anyir daging panggang menguap, tergeser oleh aroma pengap ruangan sempit, kopi saset yang diseduh air termos, dan tumpukan kertas buram yang berdebu.
Aku mengerjapkan mata. Kengerian meja makan sang kanibal lenyap, digantikan oleh aroma busuk makanan yang jauh lebih menusuk tulang. Aku terduduk di depan meja besi reyot. Sebuah tanda pengenal menggantung di leherku dengan tali biru pudar: Staf Pengadaan MBG - Satuan Pelayanan Program Gizi.
Di hadapanku, berdiri seorang pria paruh baya bernama Pak Joko, atasanku. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda psikopat. Ia tidak memegang pisau bedah atau kapak berdarah. Ia mengenakan seragam dinas rapi, perutnya sedikit membuncit, dan bibirnya menyunggingkan senyum kebapakan yang anehnya terasa memuakkan.
"Ini daftar pesanan donat untuk MBG minggu depan," ucapnya pelan, nyaris seperti berbisik, seraya menggeser sebuah map plastik ke dekat tanganku. "Anggarannya sudah turun. Tiga ribu lima ratus rupiah per porsi untuk tiga ribu anak."
"Lalu... apa masalahnya, Pak? Saya sudah dapat vendor yang cocok." Aku bingung karena ingatan di tubuh ini menjelaskan kalau semua sudah beres.
Pak Joko mencondongkan tubuhnya. Senyumnya tidak luntur, tetapi matanya sedingin pualam nisan. "Masalahnya, kau harus mencari vendor yang mau membuatnya dengan harga seribu lima ratus rupiah saja. Sisanya... kau paham kan? Ada 'jalur' yang harus kita amankan ke petinggi."
Nalarku tersentak hebat. Seribu lima ratus rupiah? Donat macam apa yang bisa diproduksi dengan harga segitu di zaman sekarang? Terigu kualitas paling bawah yang apek, minyak goreng curah yang sudah menghitam dipakai berulang kali, pemanis buatan, tanpa susu, apalagi gizi. Ini adalah program Makan Bergizi, tetapi yang akan disuapkan ke mulut anak-anak kurang mampu itu hanyalah sekeping racun pelan-pelan.
"Pak, itu tidak manusiawi. Kualitasnya pasti sangat buruk. Kalau anak-anak SMP itu keracunan—"
"Manusiawi?" potongnya tajam. Nada suaranya tetap pelan, tetapi mengiris leherku. "Kalau kau nggak bisa, kau kupecat sekarang juga."
Kupecat.
Kata itu menghantam gendang telingaku, dan seketika itu juga, memori yang amat menyiksa dari tubuh ini membanjiri kepalaku. Aku teringat adik perempuan dari di tubuh ini yang terbaring lemah di rumah petak, napasnya berbunyi karena asma dan butuh biaya tebus resep ventilator hari ini juga. Aku melihat tagihan kontrakan yang sudah menunggak tiga bulan, dengan ancaman pengusiran besok pagi.
Di sinilah aku menyadari wujud horor yang sesungguhnya. Cerita seram tidak butuh monster dari luar angkasa, entitas gaib, atau pembunuh berantai. Horor sejati adalah ketidakberdayaan yang mutlak.
Horor sejati adalah saat nuranimu diinjak hingga hancur oleh sistem birokrasi yang korup, dan kau tidak bisa melawan karena jerat kemiskinan mencekik lehermu terlalu kuat.
Namun di kursi kantor ini? Pemberontakanku berarti membiarkan anakku sendiri mati perlahan demi menyelamatkan perut anak-anak orang lain.
Tanganku bergetar hebat saat meraih pulpen tinta hitam itu. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur lambat di pelipisku. Aku menatap kertas buram di hadapanku layaknya menatap surat perjanjian dengan iblis. Aku tahu, dengan satu goresan tanda tangan ini, aku telah mengeksekusi nuraniku sendiri.
Inilah neraka dunia, tempat di mana monster-monsternya memakai kemeja rapi dan tersenyum ramah membagikan anggaran. Dan yang paling mengerikan dari semua ini?
Siang ini, demi selembar uang untuk menebus obat, aku resmi menjadi salah satu dari monster itu.
Aku memejamkan mata, membiarkan setetes air mata keputusasaan jatuh menetes, dan ujung pulpen itu mulai menari, menandatangani kesepakatanku dengan kegelapan.
--------
18 April 26
Semoga para koruptor lekas dapat hidayah or Azab sekalian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bertunas Setiap Hari
General FictionApa yang kamu pikirkan setiap baru membuka mata? Tentang rencana hari ini? Tentang mimpi yang ingin dicari? Atau justru duka malam tadi? Ini kisah acak tentang pikiran-pikiran yang muncul ketika menyesap teh, menghidu aroma kopi, menatap tetes huja...
