Apa yang kamu pikirkan setiap baru membuka mata?
Tentang rencana hari ini?
Tentang mimpi yang ingin dicari?
Atau justru duka malam tadi?
Ini kisah acak tentang pikiran-pikiran yang muncul ketika menyesap teh, menghidu aroma kopi, menatap tetes huja...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Musim semi datang tanpa permisi. Aku sadar pertama kali dari cahaya yang masuk melalui celah tirai, lebih hangat dari kemarin, lebih kuning, seolah matahari sedang belajar tersenyum lagi setelah sekian lama hanya diam membisu.
Aku duduk di beranda rumah kayu tua yang warisan dari nenek. Di depanku, kebun kecil yang selama musim dingin tampak seperti kerangka mayat. Pohon-pohon gundul, tanah retak, rerumputan kering yang menunggu sesuatu yang tak kunjung tiba. Namun pagi ini, ada kelopak kecil berwarna putih di ujung dahan sakura. Hanya satu.
Tanganku menggenggam cangkir teh yang perlahan menghangatkan telapak. Uapnya naik tipis, bercampur dengan udara dingin yang masih enggan pergi.
Aku mengembuskan napas bersama dengan jatuhnya dua tetes air mata. Luka itu kembali menusuk. Keduanya datang dari tempat yang sama di mana harapan dulu pernah tinggal, lalu pergi tanpa pamit.
Aku ingat, tiga tahun lalu, di musim semi yang sama, aku berdiri di tempat ini bersama seseorang. Kami berjanji akan menanam seratus bibit bunga di kebun ini. Dia tertawa ketika tanganku kotor oleh tanah.
Katanya, "Kau terlihat seperti anak kecil yang baru belajar berkebun."
Aku menjawab, "Karena bersamamu, aku ingin memulai semuanya dari awal."
Namun, musim semi berikutnya, dia pergi. Dia pergi dengan alasan yang terlalu dewasa untuk ditolak.
"Aku tidak lagi tumbuh ke arah yang sama denganmu."
Dan aku membiarkannya pergi karena kupikir itulah arti cinta dewasa. Melepaskan ketika peta perjalanan kami mulai berbeda.
Namun, kebun itu tetap kosong. Seratus lubang yang kami gali bersama, hanya sepuluh yang sempat kami tanami. Sisanya aku biarkan terbuka, seperti luka yang tak pernah kujahit. Aku pikir dengan membiarkannya tetap terbuka, suatu hari dia akan kembali dan kami akan menyelesaikannya bersama.
Akan tetapi musim berganti, rumput liar tumbuh di lubang-lubang itu, dan aku hanya bisa menatap dari kejauhan, takut untuk menutupnya sendiri.
Pagi ini, di musim semi yang baru, aku melihat sesuatu yang berbeda. Tidak hanya di atas pohon, tetapi di tanah—di salah satu lubang yang dulu kami gali—tumbuh sehelai rumput hijau.
tanaman tangguh yang berhasil tumbuh dari tempat yang kubiarkan mati.
Aku meletakkan cangkir. Berdiri. Kaki telanjangku menyentuh lantai kayu yang dingin, lalu aku melangkah turun ke kebun. Tanahnya masih lembab. Aroma tanah basah dan akar-akar yang mulai bangun dari tidur panjangnya menyergap hidung. Aku berlutut. Menyentuh helaian rumput itu dengan ujung jari. Kecil. Hijau segar. Tidak meminta izin untuk tumbuh. Ia hanya tumbuh karena memang sudah waktunya.
Aku menangis. Kali ini lebih deras.
Selama tiga tahun, aku menunggu orang yang sama kembali ke kebun yang sama. Padahal, musim semi tidak pernah menunggu. Ia datang dan pergi dengan atau tanpa izinku. Bunga mekar karena itu kodratnya, bukan karena ada yang berjanji akan menyiraminya setiap pagi. Rumput tumbuh di tanah yang terluka karena alam lebih tahu cara menyembuhkan daripada aku yang hanya pandai meratapi.
Lalu aku sadar. Musim semi ini bukan tentang dia. Bukan tentang orang yang pergi. Bukan tentang janji-janji yang belum sempat ditepati.
Musim semi ini adalah tentang aku. Tentang apakah aku akhirnya berani menanam lagi, menuai lagi, membiarkan sesuatu yang baru tumbuh di tanah yang sama yang dulu kupersembahkan untuk seseorang yang tidak lagi di sini.
Aku mengambil sekop kecil yang tersandar di dinding beranda. Sekop itu sedikit berkarat. Gagangnya sudah retak, tetapi masih bisa digunakan. Aku mulai mencangkul tanah di lubang pertama. Tidak menunggu. Tidak merencanakan. Tidak berdoa agar dia kebetulan lewat dan melihatku. Aku hanya mencangkul karena tanah ini lembab dan hangat dan rasanya seperti memulai sesuatu yang seharusnya sudah lama kumulai.
Setelah sepuluh lubang selesai kugali ulang, aku berjalan ke dapur. Di lemari, masih tersimpan bungkusan biji bunga yang dulu kami beli bersama. Labelnya sudah pudar, tapi aku masih bisa membaca tulisannya. Belum kadaluarsa.
Cosmos : Mekar di akhir musim semi.
Aku membuka bungkusan itu. Biji-biji kecil kecoklatan jatuh ke telapak tanganku. Jumlahnya tidak seratus lagi. Mungkin hanya empat puluh atau lima puluh. Tidak masalah. Aku tidak perlu seratus. Aku hanya perlu memulai.
Satu per satu, kutanam biji itu ke dalam lubang. Tidak dengan terburu-buru. Tidak dengan tangis. Aku menanamnya seperti orang yang sudah lelah berlari dan memilih untuk berjalan perlahan, menikmati setiap langkah, menyadari bahwa tujuan bukanlah segalanya.
Saat ini, aku masih punya tanah untuk ditanami, tangan untuk menggali, dan hati yang meski pernah pecah, masih cukup utuh untuk percaya bahwa sesuatu akan tumbuh.
Sore harinya, aku duduk lagi di beranda. Kali ini tidak sendiri. Seekor burung kecil hinggap di pagar kayu, memiringkan kepalanya seperti ingin bertanya apa yang sedang kulakukan. Aku tersenyum. "Aku sedang belajar," kataku pelan. "Bahwa melepaskan tidak selalu berarti kehilangan. Kadang, melepaskan adalah cara untuk memberi ruang bagi sesuatu yang baru."
Burung itu terbang. Meninggalkan bulu kecil berwarna abu-abu yang tertiup angin dan jatuh tepat di atas tanah yang memeluk biji cosmos. Aku mengambilnya, menyimpannya di saku baju, dan berjanji pada diriku sendiri. Musim semi ini, aku akan membiarkan diriku mekar lagi. Pelan-pelan, cukup bergerak karena memang sudah waktunya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
040426
Habis baca buku Mati Di Yogjakarta yang penuh orang patah hati. Jadi kebawa. Wkakakak