[21+] DWC - 9 - 12 Tender Killers

15 3 2
                                        

Buat cerita di mana sosok serial killer terkenal merupakan seorang polisi yang ikut menginvestigasi kasus tersebut.


TRIGGER WARNING!! 21+ ADULT STORY

Ruangan ini gelap, hanya diterangi cahaya bulan yang menyelinap melalui celah tirai

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ruangan ini gelap, hanya diterangi cahaya bulan yang menyelinap melalui celah tirai. Di meja kerjaku, berkas-berkas kasus pembunuhan berantai tersebar berantakan. Foto-foto korban dengan luka yang sama. Setangkai mawar besi menancap di tubuh mereka. Mirip seperti senjata salah satu tokoh anime lawas legendaris. Pisces no Aphrodite.

Aku melepas kacamata, mengusap pelipis yang berdenyut. Setiap kali melihat foto korban, rasa sakit yang sama menusuk tubuhku. Nyeri itu menusuk di dada, menyebarkan sakitnya sampai ke ujung-ujung jemari. Tubuh mungil mereka yang terkulai setelah digunakan dengan keras. luka menyanga di tempat yang seharusnya paling pribadi, tanpa bukti DNA sama sekali. Bersih. Rasanya ingin muntah. Empati yang terlalu dalam hingga tubuhku benar-benar merasakan apa yang korban alami. Itu adalah kutukan sekaligus berkah yang kumiliki.

"Kau masih lembur, Tsushima-san."

Suara rekanku, Keiichi Mukai, memecah kesunyian. Detektif muda itu menatapku dengan khawatir.
"Aku baik-baik saja. Kasus ini... ada yang berbeda," gumamku tanpa menoleh.

Aku bisa mendengar Mukai menghela napas. "Ini sudah korban ketujuh. Semua anak dibunuh dengan cara yang sama. Pembunuh ini benar-benar gila! Tidak ada kesamaan korban sama sekali. Kita tidak bisa menautkan hubungan apa pun."

Aku tersenyum tipis di balik topeng ekspresi datarku. "Atau mungkin... dia merasa membersihkan sampah masyarakat." Sama sepertiku.

Tiba-tiba aku mengernyit. Rasa membakar itu menghunjam punggung kiriku. Tato bintang kembali membakar. Bintang melalui Yusuke-san pasti memberikan perintah padaku.

Aku melirik Mukai yang mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"

"Tidak ada. Aku akan segera pulang."

Setelah Mukai pergi, aku membuka laci meja. Di sana, tersimpan sebuah topeng berwarna putih yang menutupi separuh wajah. Topeng yang kukenakan setiap kali 'bekerja' di malam hari.

Aku teringat kasus pertama yang kutangani sepuluh tahun lalu. Seorang gadis kecil menjadi korban penculikan dan pembunuhan. Aku merasakan setiap detik rasa sakit yang dialami gadis itu. Rasa takut, putus asa, dan akhirnya ... kematian.

Sejak saat itu, sesuatu dalam diriku berubah. Aku sadar bahwa tidak bisa menangkap semua penjahat melalui jalur hukum. 

Terlalu banyak celah, terlalu banyak korupsi, terlalu banyak kejahatan yang lolos dari keadilan. 

Maka, aku mengambil keputusan. Jika hukum tidak bisa memberikan keadilan, aku akan menjadi hakim itu sendiri.

Lalu bintang memanggilku, Mengumpulkanku bersama sebelas pria lain dengan keahlian yang sama.

Bertunas Setiap HariCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang