66. PASIEN RUMAH SAKIT JIWA

13.4K 253 16
                                        

Banyakin vote sama komentar nya ya guys. Lagi pengen baca komen kalian semua nih hehe😁

Bab satu ini penuh drama, gak drama gak seru ye kan🤧👍

Selamat membaca semua, semoga suka💗💞🌷

*
*
*

"Dimana Keisya, pah?" Damian bertanya-tanya saat tak menemukan perempuan itu disini. Begitu sampai dirumah, Damian langsung pergi ke kamar Keisya, namun kamar itu terlihat berbeda, dan tidak ada wanita itu disana. Ia semakin takut, ia semakin gelisah.

"Kamu belum bisa merelakan dia pergi, Damian?" Batin Daniel. Ia bingung harus berbuat apa. Haruskah ia berbohong? Atau berkata jujur? Namun jika ia mengucapkan sebenarnya, apa bisa menjamin histeria Damian tidak kambuh?

"Sebentar lagi dia datang." Daniel memilih berbohong, daripada melihat putranya kembali histeris, itu akan semakin menyakitkan dihatinya. "Istirahat kan diri kamu di kamar. Papa akan antarkan makanan buat kamu." Daniel tersenyum dan mengantarkan Damian ke kamarnya.

Sembari menunggu Daniel menyiapkan makanan. Damian disuruh istirahat di atas tempat tidur. Cowok itu memutarkan pandangannya ke sudut kamar miliknya yang masih sama. Emosinya sedang terkontrol baik, hal itu karena ia sudah meminum obat resep dari psikiater.

Matanya melirik kalung liontin kupu-kupu yang dikalungkan di leher lampu meja. Kalung cantik yang ia beli itu sebenarnya akan ia berikan untuk Keisya, namun Damian selalu lupa memberikannya dan berakhir terletak begitu saja di leher lampu meja

Damian mengambil kalung itu, menatapnya dengan sendu. Ia akan memberikan kalung ini kepada Keisya jika wanita itu pulang nanti.

"Kamu pasti cantik banget kalau pake kalung ini." Damian tersenyum, meraba liontin kupu-kupu itu sesekali kepalanya membayangkan indahnya kalung itu jika melekat di leher Keisya.

Pintu kamarnya dibuka oleh Daniel yang membawa sepiring makanan. Damian langsung menyembunyikan kalung itu dibalik bantal.

"Makanan dipenjara pasti membosankan. Papa udah masak buat kamu, kata Keisya kamu suka makanan yang manis ya?"

Damian mengangguk.

"Papa gak tau rasanya enak atau enggak. Kamu nilai sendiri lah nanti."

Daniel menyendokkan makanan itu, dan menyodorkannya kemulut Damian. Tanpa ragu, Damian melahap makanan itu, karena sedari tadi dirinya merasa lapar.

"Bagaimana?"

"Biasa aja." Ucap Damian datar. Sepertinya sikap cowok itu ke papanya sangat sulit untuk dirubah. Daniel hanya terkekeh, lalu menyuapi nasi sesendok lagi untuk Damian.

Tanpa Damian tahu, jemputan dari rumah sakit jiwa yang akan membawanya sedang dalam perjalanan. Daniel hanya menatap sendu, sebenarnya ia belum siap melihat sang putra dirawat ditempat itu. Hanya saja kondisi kesehatan Damian sudah pantas untuk dirujuk ke rumah sakit jiwa. Jika dibiarkan, akan semakin parah dan mungkin bisa mengancam keselamatannya bahkan orang lain pun dapat terkena dampak.

Percayalah, jika ada keajaiban yang bisa memindahkan segala penyakit dan beban dipundak Damian kepadanya. Kurang lebih dua detik Daniel langsung meminta keajaiban itu. Ia tak sanggup melihat hidup Damian yang semakin kacau. Meskipun tak terlepas dari hukuman Tuhan atas perbuatannya selama ini. Daniel tak mungkin membiarkan putranya terus-terusan menderita.

DAMIAN Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang