Happy reading guys!
__________________________________________________
Waktu berlalu begitu cepat. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tanpa disadari, sepuluh tahun telah berlalu. Anak-anak yang dulu berlarian di halaman rumah dengan canda tawa kini telah beranjak remaja.
Kini, Halilintar, Taufan, Gempa, Blaze, Ice, Thorn dan Solar telah menginjak usia 17 tahun dan kini telah menduduki kelas 12 SMA.
Namun, ada satu perubahan besar yang sangat terasa—Halilintar bukan lagi anak yang ceria dan hangat seperti dulu.
Dulu, dia selalu menjadi pusat perhatian saudara-saudaranya. Kakak yang ceria serta ramah pada orang sekelilingnya, pelindung mereka dan seseorang yang selalu membuat suasana lebih hidup. Tapi sekarang? Dia menjadi banyak berdiam diri dan sering menyendiri.
Banyak orang mengira Halilintar hanya tumbuh menjadi remaja yang lebih dewasa. Namun, bagi mereka tidak. Malah, mereka kini sangat merindukan sosok kakak mereka yang dulu.
Cahaya mentari pagi masuk melalui jendela besar ruang makan. Aroma kopi dan roti panggang menguar di udara.
Aisyah meletakkan piring berisi sarapan di atas meja. "Ayo, cepat makan sebelum kalian terlambat ke sekolah."
Taufan menguap lebar dan merebut sepotong roti dari piring, "Kak Hali belum turun?"
Aisyah menghela napas, netranya memandang tangga menuju lantai atas, "kakak kamu sudah pergi lebih awal."
Solar yang sedang mengoleskan selai ke rotinya ikut berkomentar, "aneh banget. Pagi-pagi udah pergi, pulang pun sering lewat dari kita."
Thorn menambahkan, "Iya, dan kak Hali jarang berbicara dengan kita sekarang."
Apa yang dikatakan Thorn dibalas anggukan kepala oleh yang lain. Mereka menyetujui dengan apa yang dikatakan Thorn dan Solar.
Aisyah terdiam. Ia juga menyadari perubahan anak sulungnya itu. Dulu, Halilintar selalu bersama saudara-saudaranya, bercanda, bermain, dan tertawa. Sekarang, dia lebih sering menyendiri di kamarnya atau pergi entah ke mana.
Kekadang anaknya itu akan pulang lewat, ada juga beberapa hari dia pulang ke rumah hingga larut malam.
Dia juga tidak mahu berpikir negatif tentang apa yang anaknya lakukan di luar sana, tapi berdoa saja agar Halilintar selalu baik-baik. Entah kenapa Aisyah terpikirkan sesuatu, harusnya ia tahu ini lebih awal tentang kepulangan Halilintar yang ketika itu diculik oleh musuh Amato.
Harusnya mereka menjaga kesihatan mental Halilintar ketika itu, namun mereka hanya menyembuhkan luka luaran tanpa tahu luka di dalam semakin membusuk.
Amato yang baru saja masuk ke ruang makan mendengar pembicaraan mereka. Dia duduk di kursinya dan menatap anak-anaknya satu per satu, "jangan paksa dia berbicara kalau dia belum siap. Semua orang berubah seiring waktu."
Gempa menatap ayahnya, "tapi ayah, kak Hali bahkan jarang bersama kami sekarang. Aku rindu kakak yang dulu."
Amato menghela napas panjang. Dia juga merasakan hal yang sama. Namun, dia memilih untuk tidak membahasnya lebih lanjut.
"Sudahlah, cepat selesaikan sarapan kalian. Sebentar lagi kalian akan terlambat ke sekolah."
"Baik," ucap mereka serentak.
SMA Garuda adalah sekolah elit di kota mereka. Gedungnya megah, dengan halaman luas dan fasilitas lengkap. Di sinilah Halilintar dan saudara-saudaranya bersekolah.
ANDA SEDANG MEMBACA
SISA HUJAN LUKA [end]
FanfictionCtass! Ctass! Ctass! "Ayah, sakit Yah, badan Hali sakit..hiks..hiks!" Bugh! "Akhh!" Suara jeritan kesakitan terkeluar begitu sahaja dari mulut anak kecil itu. Dirinya ditendang oleh orang yang dia sayang tanpa terbesit sedikit pun rasa bersalah dala...
![SISA HUJAN LUKA [end]](https://img.wattpad.com/cover/379880814-64-k984467.jpg)