Happy reading guys!
__________________________________________________
Halilintar hampir tersandung masuk ke dalam kamar mandinya, nyaris menabrak pintu karena penglihatannya yang mulai mengabur. Ia segera membungkuk di depan wastafel, mencengkeram pinggirannya dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Huekk...!"
Cairan bening dan sisa es krim tadi sore keluar begitu saja. Namun, yang membuat Halilintar semakin tersiksa bukanlah rasa mual, melainkan rasa amis dan anyir yang seolah-olah menyumbat tenggorokannya. Setiap kali ia mencoba menarik napas, bau besi yang tajam itu kembali menyerang inderanya.
"Pergi... pergi dari kepala gue!" rintih Halilintar sambil menyalakan keran air dengan kasar. Ia meraup air berkali-kali, membasuh wajahnya, dan berkumur dengan rakus seolah-olah air bisa menghapus rasa aneh itu.
"Hali! Hali, berhenti! Sudah, cukup!" Amato segera menerjang masuk dan menangkap kedua pergelangan tangan Halilintar yang terus-menerus menggosok lidahnya dengan jari secara kasar, seolah-olah ingin menguliti rasa amis itu dari mulutnya.
Halilintar memberontak dalam dekapan Ayahnya. Matanya memerah, napasnya memburu pendek-pendek. "Lepas!" teriaknya. Ia bahkan mencoba menggosokkan mulutnya ke bahu baju Ayahnya, berusaha keras membuang sensasi yang sebenarnya hanya halusinasinya.
"Hali, tenang! Lihat Ibu, Sayang!" Aisyah memegang wajah Halilintar dengan kedua tangannya, memaksa putranya untuk menatap matanya. "Enggak ada apa-apa di mulut kamu.. Lihat Ibu, tarik napas..."
Di ambang pintu kamar mandi, Taufan dan yang lain berdiri mematung. Mereka belum pernah melihat Halilintar begini.
"Kak Gem... Kak Hali kenapa?" bisik Thorn sambil memegang erat ujung baju Gempa. Air mata sudah mengalir di pipi bocah hijau itu.
Gempa tidak menjawab, ia segera mendekat membawa segelas air hangat. "Ibu, ini airnya."
Amato perlahan melonggarkan cekalannya, membiarkan Aisyah membantu Halilintar minum. Halilintar melakukannya dengan tubuh yang masih bergetar hebat.
Setelah beberapa tegukan air hangat yang diberikan Aisyah, Halilintar mulai bisa mengendalikan napasnya. Gemetar di bahunya perlahan mereda, digantikan oleh rasa lemas yang luar biasa. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Amato, menutup matanya rapat-rapat seolah mencoba mengusir hal-hal yang mengganggunya tadi.
"Hali... sudah mendingan?" bisik Aisyah lembut sambil mengusap sisa air mata di pipi putranya dengan ibu jari.
Halilintar mengangguk lemah. Ia menjauhkan wajahnya dari bahu Amato, lalu menatap wastafel yang kini sudah bersih dari air yang mengalir. Rasa amis itu tidak benar-benar hilang sepenuhnya, namun kehangatan dari air putih dan sentuhan Ibunya jauh lebih nyata sekarang.
"Lapar..." gumam Halilintar pelan. Suaranya serak, namun cukup jelas untuk membuat seisi ruangan bernapas lega.
Amato tersenyum tipis, merasa bersyukur putra sulungnya sudah kembali sadar sepenuhnya. "Ayo, kita kembali ke meja makan. Supnya masih hangat."
Dengan dibantu Taufan dan Gempa, Halilintar berjalan keluar dari kamar mandi. Langkahnya masih sedikit goyah, namun ia bersikeras untuk turun ke bawah. Saat ia melewati ambang pintu, Blaze, Ice, Thorn dan Solar langsung memberikan jalan dengan masih terpampang gurat kekhawatiran di wajah mereka.
"Kak Hali... beneran gapapa?" tanya Thorn pelan, tangannya ragu-ragu ingin menyentuh lengan kakaknya.
Halilintar memaksakan sebuah senyum tipis. "Gapapa, Thorn. Sudah mendingan kok."
ANDA SEDANG MEMBACA
SISA HUJAN LUKA [end]
FanfictionCtass! Ctass! Ctass! "Ayah, sakit Yah, badan Hali sakit..hiks..hiks!" Bugh! "Akhh!" Suara jeritan kesakitan terkeluar begitu sahaja dari mulut anak kecil itu. Dirinya ditendang oleh orang yang dia sayang tanpa terbesit sedikit pun rasa bersalah dala...
![SISA HUJAN LUKA [end]](https://img.wattpad.com/cover/379880814-64-k984467.jpg)