Happy reading guys!
__________________________________________________
Malam semakin larut. Rumah itu terasa hening karena penghuni rumah yang lain sudah berlabuh ke alam mimpi, tapi hati Aisyah tidak bisa tenang. Dia kemudian pergi ke bilik Halilintar, memastikan anak itu baik-baik saja.
Sesampainya di sana, dia masih berdiri di luar kamar Halilintar, indera pendengarannya tidak sengaja terdengar suara tangisan putranya yang berusaha ditahan.
"Masih menangis yah?"
Hatinya terasa berat.
"Haruskah aku masuk?"
Tapi dia tahu… jika dia masuk sekarang, Halilintar hanya akan menutup diri lebih rapat.
"Aku perlu berbicara dengan Amato tentang ini."
Dengan langkah pelan, Aisyah meninggalkan pintu kamar putranya dan berjalan ke kamar mereka.
Di dalam kamar, Amato sedang duduk di kursi dekat jendela. Dia menatap keluar, ke langit malam yang dipenuhi bintang. Namun pikirannya tidak tenang.
Begitu Aisyah masuk, Amato menoleh dan netranya langsung disuguhi ekspresi istrinya yang sendu.
"Ada apa?" tanyanya pelan.
Aisyah berdiri di depan suaminya, terdapat beberapa bulir mutiara di sudut mata sang isteri.
"Aku mendengar Halilintar menangis," katanya lirih.
Mata Amato menyipit, "kapan?"
"Baru saja."
Amato menghela napas panjang. "Dia mimpi buruk lagi?"
Aisyah mengangguk, air matanya mulai menggenang. "Aku ingin masuk ke kamarnya, tapi… pasti anak kita akan semakin berdiam diri."
Amato diam sejenak, tangannya mengepal di atas pahanya.
"Dia gs seharusnya menangis sendirian."
"Tapi Hali selalu begitu, Amato, aku pasti... anak itu ga tidur lagi malam ini," suara Aisyah bergetar. "Dia selalu menahan semuanya sendiri. Bahkan kita sebagai orang tuanya ga bisa membantunya agar ga terluka."
"Apa kita ga melakukan apa-apa?"
Amato menatap istrinya dalam-dalam. "Aku akan berbicara dengannya."
Aisyah menggigit bibirnya, mata coklatnya menatap wajah sang suami. "Tapi bagaimana kalau dia menolak?"
Amato menghela napas berat, "aku akan tetap bicara sampai dia buka mulut."
"Tapi, kalau dia semakin menutup diri pada kita gimana?"
Amato berdiri dari kursinya, berjalan mendekati Aisyah. Terlihat perbezaan yang ketara pada tinggi keduanya. Dia menangkup wajah istrinya dengan lembut.
"Aku tahu kami risau. Tapi kita ga bisa terus biarkan Halilintar terus menderita sendirian."
"Dia putra kita."
Aisyah mengangguk pelan, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan, "aku cuman ga ingin kehilangan dia, Amato."
Amato mengecup kening istrinya. "Aku juga."
Dia menggenggam tangan Aisyah erat. "Besok pagi, aku akan bicara dengannya. Jika dia ga mau bicara, aku akan mencari tahu sendiri."
Aisyah menatap suaminya dengan harapan yang bercampur dengan perasaan khawatir.
ANDA SEDANG MEMBACA
SISA HUJAN LUKA [end]
FanfictionCtass! Ctass! Ctass! "Ayah, sakit Yah, badan Hali sakit..hiks..hiks!" Bugh! "Akhh!" Suara jeritan kesakitan terkeluar begitu sahaja dari mulut anak kecil itu. Dirinya ditendang oleh orang yang dia sayang tanpa terbesit sedikit pun rasa bersalah dala...
![SISA HUJAN LUKA [end]](https://img.wattpad.com/cover/379880814-64-k984467.jpg)