7

248 26 1
                                        

Happy reading guys!
__________________________________________________

Hari itu, suasana rumah begitu hening. Di ruang keluarga, keenam saudara Halilintar-Taufan, Solar, Blaze, Thorn, Gempa, dan Ice-duduk rapi di meja besar, tenggelam dalam tumpukan buku pelajaran. Aisyah, ibu mereka, dengan sabar mengawasi mereka sambil sesekali membantu menjawab pertanyaan yang sulit bagi mereka. Di sisi lain, Amato juga terlihat sibuk membimbing mereka, menjelaskan materi pelajaran dengan teliti. Tentu saja mereka melakukan ini kerana tidak lama lagi ujian pertengahan tahun akan diadakan di sekolah.

Di sudut ruangan, Halilintar duduk sendirian di meja terpisah, tak jauh dari mereka. Dia berusaha keras memahami buku yang ada di hadapannya, tetapi beberapa soal terasa sulit baginya. Setiap kali dia melirik ke arah Amato, hatinya terasa berat. Dia ingin sekali meminta bantuan ayahnya, namun sudah berkali-kali percobaan namun berakhir dengan penolakan.

Melihat kakaknya sendirian, Taufan mendekat dan berbisik.

"Kak, kalau kamu kesulitan, kamu bisa tanya ayah. Tadi ayah bantu aku memahami soal matematika, dan aku jadi ngerti banget."

"Aku udah coba, Fan, tapi kamu tahu kan, Ayah selalu nolak kalau aku minta tolong..." ucap Halilintar sambil tersenyum.

Gempa yang melihat percakapan mereka, ikut nimbrung, "Coba lagi, kak. Siapa tahu kali ini Ayah berubah pikiran."

Halilintar mengangguk pelan, dan dengan hati yang ragu, ia berjalan mendekati Amato yang sedang duduk bersama Thorn dan Solar. Sambil menggenggam buku di tangannya, Halilintar mengumpulkan keberanian untuk bicara.

"Ayah... maaf mengganggu, tapi bolehkah aku minta bantuan untuk soal ini? Aku agak kesulitan."

Sekilas, Halilintar merasakan tatapan dingin dari ayahnya, membuat Halilintar merasa semakin ragu untuk diajarkan.

Amato memandang sekilas Halilintar, "Belajar sendiri, Hali. Kamu bukan anak kecil lagi. Aku sudah cukup sibuk dengan adik-adikmu."

Halilintar terdiam sejenak, lalu mencoba meyakinkan ayahnya "Tapi, Yah... soal ini sulit sekali. Aku butuh penjelasan."

Aisyah, yang mendengar percakapan itu dari kejauhan, langsung menghampiri mereka.

"Amato, Halilintar juga anakmu. Dia berhak mendapatkan bantuan yang sama."

Amato menghela napas dengan enggan "Aisyah, Halilintar sudah cukup besar untuk belajar mandiri. Tidak perlu terus bergantung pada kita."

"Amato, semua anak butuh bantuan, tidak peduli berapa pun usianya. Aku mohon, bantu Halilintar."

Amato terdiam sejenak, tampak enggan melakukan itu. Setelah beberapa detik, ia akhirnya menyerah dan akhirnya membantu Halilintar, meskipun dengan wajah yang tetap menunjukkan ketidaksenangan.

"Baiklah, Halilintar. Bawa bukumu ke sini."

Halilintar menahan senyum kecilnya, merasa lega meskipun suasana tetap canggung. Dia duduk di sebelah Amato dan membuka soal yang sulit baginya.

"Ini Ayah. Hali belum paham cara menyelesaikannya."

Amato melihat soal dulu sebelum mulai menjelaskan. Setiap kali Halilintar tampak ragu atau lambat memahami, Amato menghela napas dengan kesal, membuat Halilintar semakin gugup.

"Apa kamu tidak bisa berpikir lebih cepat? Ini soal dasar! Bagaimana mungkin kamu tidak mengerti?" sentak Amato, dia menunjuk soal yang ia jelaskan namun tidak dimengerti oleh Halilintar.

Halilintar terdiam, "Maaf, Ayah... aku masih gak mengerti... aku butuh waktu sedikit."

Amato langsung mengambil cambuk kecil yang ia bawa, seolah mengancam. Namun, Halilintar mencoba tetap tenang, berusaha keras untuk tidak menunjukkan ketakutan di wajahnya.

SISA HUJAN LUKA [end]Cerita yang buat anda obses. Terokai sekarang