Happy reading guys!
__________________________________________________
Setelah memghabiskan sisa sore bersama, mereka mulai menyediakan tenda. Tenda berukuran sederhana ditempati oleh Amato dan Aisyah. Manakala, tenda satunya lagi ditempati oleh tiga tertua dan sisanya ditempati oleh Blaze, Ice, Thorn dan Solar. Siap sahaja memasang tenda, mereka juga mengganti pakaian yang basah itu dengan yang baru. Setelah itu barulah makan malam bersama.
Langit berubah menjadi warna jingga keemasan saat matahari perlahan tenggelam di cakrawala. Suasana di pantai dipenuhi tawa dan gurauan. Setelah seharian bermain air dan membangun istana pasir, keluarga Amato kini duduk melingkar di sekitar api unggun yang mereka buat di tepi pantai.
Angin pada waktu malam, berhembus lembut, membawa aroma laut dan kayu terbakar. Cahaya api unggun memantulkan kilauan hangat di wajah mereka semua.
"Wah, aku lapar banget!" seru Blaze, mengusap perutnya yang berbunyi.
"Untung Ibu sudah siapkan makanan," kata Solar sambil mengambil sebungkus makanan dari keranjang piknik.
Aisyah tertawa kecil. "Makan banyak-banyak, kalian pasti lelah main tadi."
Mereka mulai menikmati makanan sederhana, ikan bakar, jagung bakar, dan roti lapis yang sudah disiapkan oleh Aisyah dan dibantu oleh Gempa begitu juga dengan Amato yang sudah membantu memasang api unggun.
"Ini enak!" seru Thorn dengan mulut penuh makanan.
"Kak Hali harus coba ini!" tambah Thorn, menyodorkan jagung bakar ke arah kakaknya.
Semua mata tertuju pada Halilintar, yang duduk di antara mereka tapi tidak terlalu banyak bicara. Halilintar menatap jagung bakar itu sejenak, lalu mengambilnya.
"Makasih Thorn," katanya pelan.
Taufan, Gempa, dan yang lainnya saling bertukar pandang. Ini pertama kalinya Halilintar benar-benar menerima sesuatu tanpa menolak. Mereka gembira banget hari ini.
Setelah makan, mereka tetap duduk di sekitar api unggun, menikmati malam. Gempa tiba-tiba berbicara. "Hei, kalian ingat ga, waktu kecil dulu, kita pernah main perang lumpur di sawah belakang rumah?"
Blaze tertawa. "Oh iya! Dan Kak Hali kena paling banyak lumpur waktu itu!"
Halilintar yang sedang minum hampir tersedak. "Itu karena kalian semua menyerangku!"
"Loh, kau cepat larinya, jadi harus dihentikan!" jawab Taufan sambil tertawa.
Semua orang tertawa. Bahkan… Halilintar tersenyum kecil.
Langit malam yang tenang. Malam semakin larut. Bintang-bintang berkelip terang di langit. Suara deburan ombak terdengar lembut, berpadu dengan nyala api unggun yang masih menyala perlahan.
Beberapa dari mereka mulai merasa mengantuk. Thorn sudah bersandar di bahu Solar, matanya setengah tertutup. Ice dan Blaze menguap besar, lalu berbaring di atas tikar.
Aisyah mengusap kepala mereka. "Ayo kita tidur," ucapnya. Dia membangunkan anak-anaknya agar mereka bangun untuk pindah ke tenda.
Semua mulai masuk ke dalam tenda satu per satu. Hanya Halilintar yang masih duduk di tepi api unggun, menatap kobaran api yang sedikit demi sedikit mengecil. Amato memperhatikannya sejenak sebelum duduk di sampingnya.
"Senang main tadi sore?" katanya pelan.
Halilintar mengangguk kecil. "Iya." katanya.
Ada keheningan di antara mereka sebelum Amato akhirnya berkata, "Ayah senang lihat kamu tersenyum tadi."
Halilintar terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Namun, dia tidak merasa ingin melarikan diri dari kata-kata ayahnya. Dia hanya menatap api, membiarkan kehangatan malam ini mengisi sedikit kekosongan di dalam dirinya.
"Tidurlah, nanti badan kamu masuk angin," ujarnya.
Halilintar hanya menganggukkan kepala. Di kemudian berdiri dan menyapu celana pendek paras lututnya agar bersih dari pasir yang melekat. Baru selepas itu, dia melangkahkan kakinya menuju ke dalam tenda mereka bertiga. Di dalam terlihat Taufan dan Gempa yang sudah berlabuh ke alam mimpi. Kedua mereka saling pelukan
Di luar, Amato yang belum tidur dan terlihat sedang membalas mesej dari seseorang melalui ponsel miliknya. Tak lama kemudian, ponsel miliknya berdering tanda ada panggilan masuk dari orang yang dia kenal dan tanpa berlama-lama, dia segera mengangkat panggilan tersebut.
"Kau sudah menemuinya?"
"Sudah, dan aku dapatkan pastikan yang kau akan kaget mengetahuinya nanti." kata orang diseberang sana.
"Maksudmu apa, apa orang itu sudah ditemui?" tanyanya. Dia mengernyitkan keningnya.
"Iya, tapi... aku tidak tahu mau kata bagaimana selagi kau yang melihatnya dan medengarnya sendiri di sana," ucap lelaki itu sedikit tegang.
"Kalau begitu, aku akan datang ke sana nanti. Kalau sekarang tidak dapat," ujarnya.
"Ada sesuatu yang menghalang?" tanya orang itu.
"Nggak ada, cuman minggu ni aku bersama keluarga sekarang," katanya.
"Ouh baiklah, tapi minggu depannya kau harus datang ke sini, ada banyak benda aku mau beritahu pada kau," katanya.
"Iya," balas Amato.
Tut! Tut!
Panggilan diputuskan oleh sebelah pihak. Amato menghela napas, netranya menatap ke arah tenda yang ditempati oleh Halilintar. Dia jadi kepikiran bagaimana dengan kehidupan anak itu semasa bersama bersama Aqsa 10 lalu di luar sana. Tapi yang pasti, anaknya tentu menderita di sana.
"Ayah ga tahu apa saja yang telah kau lalui Halilintar, tapi Ayah harap kau baik-baik saja sekarang ini," ucapnya.
Kini kakinya melangkah menuju ke tenda yang ditempati dirinya dan isterinya itu. Memasuki ke dalam dan tak lupa menutupinya semula. Minggu ni dia ingin meluangkan bersama keluarganya. Tidak butuh waktu lama, dirinya sudah terlelap karena kantuk yang dari tadi dia tahan.
Beberapa minit setelah Amato memasuki semula ke tendanya, Halilintar terlihat keluar dari tempatnya.
"Cantik banget," gumam Halilintar. Dia berjalan di dekat gigi pantai lalu duduk di sana sambil menikmati pemandangan malam tersebut.
Cahaya menyinari laut malam karena malam adalah bulan penuh semakin menyerlahkan lagi pemandangan di pantai. Air laut yang bergerak dengan tenang dan langit malam dihiasi gugusan bintang membuat Halilintar terpaku di tempat. Tanpa sadar, mulutnya terbuka kecil melihat ke depan. Dia juga tidak peduli suhu dingin menyelimuti dirinya.
Halilintar menyunggingkan senyuman, "patutnya lo ajak gue ke sini tiap hari dong Halilintar," ucap Halilintar sendiri.
Berdiri dari duduknya, Halilintar perlahan berjalan menyusuri tepi laut. Sepanjang berjalan sambil melihat suasana malam, Halilintar tidak henti-hentinya bersenandung riang. Suasana hatinya sungguh baik malam ini. Dan terkadang Halilintar akan berlarian bermain, dia asyik memghindari dari terkena deburan ombak.
Namun dia terhenti dari keseronokannya sendiri. Netra ruby itu meredup memandangi sekitarnya yang sunyi sepi. "Kan asyik kalo punya sodara. Dengan begitu gue ga kesepian banget kek gini. Main sendiri ga asyik juga," ucapnya yang kini kembali semula di dekat tenda mereka.
Kakinya menendang pasir seperti melampiaskn sesuatu. "Arghh, gue pengen punya sodara kek lu!" Dia duduk sambil memeluk dirinya. "Ga adil lo, udah punya sodara dan ibu ayah yang sayang sama lo. Ada juga gue yang sayang lo."
"Tapi lo selalu anggap kewujudan gue sebagai penganggu lo, padahal lo yang cipta gue. Gue mohon jangan abaikan gue. Gue gini-gini juga punya perasaan loh," luahnya.
Netranya menatap hamparan laut di depan, sunyi seketika menyelimuti dirinya semula. Tiba-tiba Halilintar tersenyum, "karena lo masih ga ambilin semula hadiah dari gue ke lo, gue pastiin lo akan rasain akibatnya." Halilintar melangkah ke depan.
__________________________________________________
Tbc...
ANDA SEDANG MEMBACA
SISA HUJAN LUKA [end]
FanfictionCtass! Ctass! Ctass! "Ayah, sakit Yah, badan Hali sakit..hiks..hiks!" Bugh! "Akhh!" Suara jeritan kesakitan terkeluar begitu sahaja dari mulut anak kecil itu. Dirinya ditendang oleh orang yang dia sayang tanpa terbesit sedikit pun rasa bersalah dala...
![SISA HUJAN LUKA [end]](https://img.wattpad.com/cover/379880814-64-k984467.jpg)