Happy reading guys!
__________________________________________________
Tiba-tiba suara seseorang terdengar jelas dari luar, disertai langkah kaki yang perlahan mendekat.
"Ma? Mama ada di dalam?" panggil Amato saat ini di teras rumah.
Begitu mendengar suara Amato, wajah pucat Oma seketika berubah menjadi lega bercampur panik. Seolah baru saja dilepaskan dari cengkeraman maut, ia segera menarik tubuhnya mundur dengan cepat dan terhuyung-huyung menjauh dari Halilintar. Tanpa berani menatap wajah cucunya sedikitpun lagi, ia langsung berlari sekuat tenaga melangkah keluar dari dapur.
Amato terkejut melihat keadaan Mamanya yang tampak panik dan kacau seperti itu. Ia segera memegang bahu Mamanya dengan cemas.
"Ma? Ada apa? Kenapa muka Mama pucat begini?" tanyanya khawatir.
Namun Oma tidak menjawab dengan benar. "Enggak ada apa-apa kok," jawabnya seadanya, ia teringat kejadian tadi membuat dirinya takut untuk berkata apa-apa lagi tentang Hali.
Di dapur, Halilintar masih berdiri di tempatnya. Ia tidak berusaha mengejar atau menghentikan Oma yang lari ketakutan.
Saat Oma berbalik hendak pergi bersama Amato, ia tidak sengaja menoleh sejenak ke belakang, menatap ke arah sosok Halilintar. Dan saat itulah, matanya bertemu dengan netra merah milik Halilintar.
Pemuda itu berdiri tenang di sana, tubuhnya tegak, dan matanya menatap lurus ke arahnya. Di sudut bibirnya, terukir sebuah senyuman lebar yang begitu manis, namun terasa begitu menusuk dan penuh makna yang tersembunyi. Senyum itu sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah setelah berlaku kasar pada Omanya.
Malah senyum itu membuat punggung Oma kembali merinding hebat. Ia buru-buru memalingkan wajahnya kembali, tidak berani menatapnya sedetik pun lagi. Ia menarik tangan Amato agar segera pergi dari sana, menjauh dari sosok menakutkan yang kini membuatnya merasa terancam setiap saat.
Sementara itu, Halilintar perlahan menurunkan sudut bibirnya kembali menjadi ekspresi datar kayak biasa. Ia kembali menoleh ke arah lemari di depannya, lalu dengan tenang mengambil kaleng bubuk milo yang sedari tadi ingin diambilnya seolah tidak terjadi apa-apa. Hatinya masih terasa perih dan sakit hati mendengar semua kata-kata hinaan Omanya, tapi rasa sakit itu kini telah bercampur dengan rasa puas yang aneh. Ia senang melihat ketakutan di wajah Omanya.
Halilintar mulai menyeduh air milo dengan tenang, merasai apakah rasanya pas atau tidak. Sesekali netranya bergulir menatap keluar, tertanya-tanya apa yang jadi.
Oma masih terengah-engah dan jantungnya berdegup kencang karena rasa takut yang belum hilang sepenuhnya saat ia berjalan di sisi Amato menuju ke halaman depan rumah. Wajahnya masih pucat dan keringat dingin masih menetes di pelipisnya, pikirannya masih terus terbayang-bayang oleh senyum aneh Halilintar tadi. Ia sama sekali belum mengerti kenapa Amato memanggilnya dengan ekspresi serius dan mendadak seperti itu.
Sesampainya di depan, pemandangan yang dilihatnya membuatnya terdiam seketika. Ada dua orang petugas polisi yang berdiri dengan ekspresi serius di sana, sedangkan Aisyah berdiri tak jauh dari mereka dengan wajah yang terlihat sedih, matanya merah dan berkaca-kaca karena baru saja menangis sejak tadi. Bahkan Amato yang berdiri di sampingnya pun kini tampak menundukkan kepalanya dalam-dalam, bahunya sedikit gemetar menahan kesedihan yang mendalam.
Melihat suasana yang begitu berat dan menyedihkan itu, rasa takut Oma terhadap Halilintar tadi seketika lenyap berganti rasa bingung dan gelisah yang baru. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan dengan bingung, lalu menatap Amato yang perlahan mengangkat wajahnya menatapnya dengan tatapan penuh kesedihan.
ANDA SEDANG MEMBACA
SISA HUJAN LUKA [end]
Fiksi PenggemarCtass! Ctass! Ctass! "Ayah, sakit Yah, badan Hali sakit..hiks..hiks!" Bugh! "Akhh!" Suara jeritan kesakitan terkeluar begitu sahaja dari mulut anak kecil itu. Dirinya ditendang oleh orang yang dia sayang tanpa terbesit sedikit pun rasa bersalah dala...
![SISA HUJAN LUKA [end]](https://img.wattpad.com/cover/379880814-64-k984467.jpg)