Happy reading guys!
__________________________________________________
Matahari masih tinggi di langit saat Halilintar membuka pintu pagar rumah. Kakinya melangkah melepasi pagar rumah. Tangan terulur untuk membuka pintu depan yang tidak dikunci itu.
Ruang tengah rumah itu sunyi. Tidak ada suara televisi atau tawa saudara-saudaranya seperti biasa. Dan yang anehnya, hari ini dia pulang lebih awal.
Biasanya, dia memilih menghabiskan waktu di luar lebih lama. Sering kali dia pulang sampai tengah malam. Tapi hari ini tidak mengalami apa-apa halangan untuk pulang beristirihat.
Dia terlalu lelah dalam menghabiskan waktunya hari ini.
Karena tekaknya terasa kering, di memilih melangkah ke dapur untuk membasahi tekaknya. Namun, dia tidak menyangka bahwa kepulangannya yang tiba-tiba akan menarik perhatian keluarganya. Dan Halilintar lupa kalau sekarang waktu siang.
"Kak Hali?" kata Thorn yang lebih awal maklum dengan kehadiran kakaknya itu.
Karena suara Thorn itu, mereka yang lain segera melihat ke arah yang dipandang oleh Thorn. Di sana, Amato, Aisyah, Taufan, Gempa, Blaze, Ice, Thorn dan Solar duduk berkumpul. Mereka tampak terkejut melihatnya pulang lebih awal.
Taufan mengangkat alisnya, "tumben awal pulang Hali?"
Gempa menatapnya dengan curiga. "Iya, tumben banget. Biasanya kakak baru pulang malam."
Halilintar tidak menjawab. Dia tidak mempedulikan tatapan bingung mereka pada dirinya, dengan tenang dirinya berjalan, melewati mereka tanpa banyak bicara.
"Tunggu, Hali," suara Amato menghentikannya. "Kamu kenapa?" tanyanya karena merasa pelik anaknya pulang awal.
Pertanyaan tersebut membuatkan Halilintar berhenti, tapi tidak menoleh. "Ga ada apa-apa." balasnya. Dia hanya sibuk menuangkan air ke dalam gelas.
"Apa aku berbuat salah?" soalnya semula.
Amato memperhatikan wajah anaknya dengan lamat. "Ga ada, cuman ayah heran, biasanya kamu pulang lewat sampai ke malam."
Aisyah ikut berbicara dengan suara lembut miliknya. "Hali, ayo makan." ajaknya.
"Kalian lanjut saja makan, aku lagi ga nafsu makan," balasnya. Menolak ajakan makan bersama mereka.
Setelah selesai menghabiskan tegukkan terakhir, Halilintar menelan ludah. Dia bisa merasakan mata semua orang tertuju padanya.
"Kalau begitu, kak Hali bisa ikut kita sembang di sini," ucap Gempa dengan senyuman di wajahnya.
Netra Halilintar menatap sekilas adik keduanya lalu berpaling semula. "Aku lelah." ucapnya. Lalu, tanpa menunggu jawaban, dia melangkah keluar dari dapur lalu menuju ke kamarnya. Hal itu membuat mereka semua saling bertukar pandang.
Gempa menyilangkan tangannya. "Aku yakin ada sesuatu yang terjadi."
Solar mengangguk setuju. "Kak Hali nggak pernah pulang lebih awal."
"Kecuali ada alasan lain," sahut Taufan.
Aisyah menghela napas panjang. "Aku khawatir dengan Hali, Amato."
"Gapapa, nanti aku bicara dengan Halilintar," kata Amato akhirnya.
Barusan tadi sebelum Halilintar menghilang dari balik dinding, Amato dapat isyarat kalau anak itu memanggilnya, seolah ada yang ingin ia katakan. Jadi dia berinisiatif untuk menjumpainya setelah ini.
"Aku mau jumpa kak Hali," ucap Gempa, namun, sebelum dia berdiri, Taufan menggeleng.
"Jangan sekarang, Gem" hentinya yang mengundang pertanyaan mereka. Mereka semua menatapnya.
ANDA SEDANG MEMBACA
SISA HUJAN LUKA [end]
Fiksi PenggemarCtass! Ctass! Ctass! "Ayah, sakit Yah, badan Hali sakit..hiks..hiks!" Bugh! "Akhh!" Suara jeritan kesakitan terkeluar begitu sahaja dari mulut anak kecil itu. Dirinya ditendang oleh orang yang dia sayang tanpa terbesit sedikit pun rasa bersalah dala...
![SISA HUJAN LUKA [end]](https://img.wattpad.com/cover/379880814-64-k984467.jpg)