Happy reading guys!
__________________________________________________
"Ih, lepasin Fan! Sesak tahu!" Halilintar mencoba melepaskan rangkulan Taufan, meski wajahnya yang biasanya kaku kini memerah karena menahan tawa.
Amato yang sejak tadi menyimak interaksi anak-anaknya merasa beban berat di pundaknya perlahan terangkat. Melihat bagaimana putra-putranya menerima kondisi Kakak mereka dengan begitu terbuka adalah hal yang paling ia syukuri malam ini. Ia berdehem pelan, menarik perhatian semua orang di meja makan.
"Sudah, habiskan makannya. Setelah ini kalian semua segera istirahat," ujar Amato tegas namun lembut. "Besok pagi-pagi sekali kita harus ke rumah Leisya untuk sesi konsultasi lanjutan."
"Semuanya ikut, Yah?" tanya Solar sambil merapikan piringnya.
"Iya, semuanya ikut," jawab Amato. "Di sana akan ada Doktor Ardi."
"Baik Ayah!" Serentak mereka mengangguk.
Di kamar, Halilintar berbaring di tempat tidurnya, ia menatap langit-langit kamar yang gelap.
“Tar... lo denger kan?” batin Halilintar sambil memejamkan mata. “Besok kita ketemu Tante Leisya. Jangan bikin rusuh ya. Mereka semua... Ayah, Gempa, Taufan, semuanya... mereka mau bantu kita.”
Tidak ada jawaban suara yang keras, tapi Halilintar merasakan sensasi geli yang samar di ujung jemarinya, seolah ada aliran listrik statis yang lembut. Itu cara Lintar memberikan tanda bahwa dia mendengarkan dan mungkin, dia juga sedikit merasa lega.
Setelah memastikan keenam anaknya sudah masuk ke kamar masing-masing dan suasana rumah mulai tenang, Amato perlahan menutup pintu kamar utama. Di dalam, Aisyah sedang duduk di tepi tempat tidur, jemarinya sibuk merapikan selimut, namun pandangannya tampak kosong, sepertinya pikirannya jauh menerawang.
Amato menghela napas panjang, melepas jam tangannya dan meletakkannya di atas nakas. Ia duduk di samping istrinya, merasakan keheningan.
"Kamu memikirkan makan malam tadi?" tanya Amato lembut, memecah kesunyian.
Aisyah menoleh, matanya terlihat sedikit berkaca-kaca. "Amato... aku masih nggak percaya. Selama ini kita menganggap perubahan sikap Hali hanya karena dia sedang tertekan atau fasa puber. Tapi melihat dia berubah menjadi sosok lain di depan mata kita sendiri..." Ia menjeda kalimatnya, suaranya bergetar. "Hali... dia terlihat sangat terluka, Amato."
Amato merangkul bahu Aisyah, menariknya ke dalam pelukannya yang hangat. "Aku juga merasakannya, Aisyah. Tadi, saat aku berterima kasih padanya, dia nggak tahu harus bereaksi seperti apa."
Aisyah menyandarkan kepalanya di dada Amato. "Tadi dia makan jagung bakar pemberian Thorn dengan sangat lahap. Hali biasanya sangat pemilih dan makan dengan rapi, tapi Lintar... makannya lahap banget." Aisyah tertawa kecil bila mengingat itu.
Ternyata sosok lain dalam diri Halilintar sangat suka makan seperti Ice.
Amato tertawa kecil, suara beratnya mengisi keheningan kamar. "Tapi kamu lihat nggak tadi? Waktu Thorn kasih jagung bakar itu, Lintar sempat melotot galak, tapi tangannya langsung nyambar jagungnya cepet banget."
Aisyah ikut tertawa, bayangan wajah "Halilintar" yang biasanya jaim tapi mendadak makan dengan bar-bar itu memang sangat kontras. "Iya, Amato. Aku hampir mau ambil tisu buat lap mulutnya, tapi takut dia malah makin galak. Lucu banget, dia berusaha kelihatan sangar tapi pipinya kembung gara-gara ngunyah terus. Benar-benar mirip Ice kalau lagi nemu makanan enak."
"Dan yang paling bikin aku mau ketawa itu pas Taufan godain dia," tambah Amato sambil menggelengkan kepala. "Lintar cuma mendengus, terus buang muka, tapi aku lihat telinganya merah padam. Ternyata si Lintar yang galak itu nggak tahan digodain adik-adiknya sendiri. Dia kayak... apa ya? Kayak anak kucing yang mau dicabut kukunya tapi malah dikasih usapan di kepala. Bingung tapi seneng."
Aisyah menyeka sudut matanya yang sedikit basah karena tawa. "Ternyata sosok yang selama ini kita takuti itu punya sisi menggemaskan juga ya. Dia protektif sekali sama Hali, tapi ternyata dia juga butuh kasih sayang."
Amato mengangguk, sorot matanya melembut. "Sepertinya besok-besok kita harus sedikit membelanjakan wang untuk makanan karena dilihat-lihat, kita sudah punya dua orang yang lahap makanan."
Aisyah tersenyum tulus, merasa hatinya jauh lebih ringan sekarang. "Nggak apa-apa, Amato. Berapapun wang dibelanjakan, selama itu bisa bikin dia merasa kalau mereka berdua benar-benar punya rumah yang menerima mereka apa adanya."
"Yah, begitulah tugas kita sekarang," gumam Amato sembari merebahkan punggungnya di sandaran tempat tidur, menatap langit-langit kamar dengan perasaan yang jauh lebih lega dari malam-malam sebelumnya. "Menunjukkan pada Lintar bahwa dia nggak perlu selalu berdiri di depan pintu untuk menjaga Hali dari ancaman. Dia juga boleh masuk ke dalam rumah, duduk di meja makan, dan menikmati hangatnya keluarga."
Aisyah mengangguk setuju, ia mematikan lampu tidur di sisinya, menyisakan keremangan yang menenangkan. "Aku jadi nggak sabar pengen lihat interaksinya dengan Doktor Ardi besok. Semoga Lintar tidak terlalu galak pada beliau."
"Iya semoga saja," gurau Amato yang memicu tawa kecil terakhir dari Aisyah sebelum mereka berdua akhirnya terlelap dalam doa untuk kesembuhan putra sulung mereka.
ANDA SEDANG MEMBACA
SISA HUJAN LUKA [end]
FanfictionCtass! Ctass! Ctass! "Ayah, sakit Yah, badan Hali sakit..hiks..hiks!" Bugh! "Akhh!" Suara jeritan kesakitan terkeluar begitu sahaja dari mulut anak kecil itu. Dirinya ditendang oleh orang yang dia sayang tanpa terbesit sedikit pun rasa bersalah dala...
![SISA HUJAN LUKA [end]](https://img.wattpad.com/cover/379880814-64-k984467.jpg)