41

102 19 1
                                        

Happy reading guys!

__________________________________________________



Halilintar menarik napas panjang, mencoba meredam gejolak di dadanya. Kehadiran Amato yang begitu tenang di hadapannya perlahan mulai meruntuhkan tembok pertahanan yang dibangunnya. Namun, rasa takut itu masih ada, takut akan apa yang mungkin ditemukan oleh psikolog di dalam kepalanya, dan takut akan apa yang mungkin dilakukan oleh Lintar jika dia merasa terancam.

"Kapan... kapan aku harus mulai, Yah?" suara Halilintar nyaris tak terdengar, namun cukup jelas untuk membuat Amato mengulas senyum lega yang tulus.

"Secepatnya, Hali. Tapi Ayah ga akan maksa kamu pergi sendirian. Kita akan cari waktu yang pas, dan Ayah akan temani kamu sampai kamu merasa nyaman," jawab Amato.

Gibran, yang merasa suasananya sudah mulai mencair, akhirnya melonggarkan postur tubuhnya yang kaku. "Baguslah kalau kamu paham. Maaf kalau kata-kataku tadi kasar, Hali. Tapi terkadang, kebenaran yang pahit lebih baik daripada kebohongan yang manis."

Halilintar hanya mengangguk kecil, masih merasa sedikit canggung dengan pria itu.

"Ayo, kita kembali ke dalam. Kamu masih ada jam pelajaran, kan?" tanya Amato.

"Ada satu jam lagi, Yah. Tapi... aku rasanya udah ga fokus," jujur Halilintar.

"Gapapa. Ayah akan bicara dengan Miss Leila untuk memberimu izin pulang lebih awal hari ini. Kamu butuh istirahat," ujar Amato.


Mereka bertiga berjalan kembali menuju gedung sekolah. Saat melewati koridor, mereka berpapasan dengan Leila yang sepertinya memang sedang menunggu mereka. Leila melihat wajah Halilintar yang tampak lebih tenang meski masih terlihat lelah.

"Gimana?" tanya Leila singkat pada Amato.

"Dia setuju, Leila. Terima kasih atas bantuanmu tadi," jawab Amato.

Leila tersenyum lembut ke arah Halilintar. "Itu keputusan yang berani, Hali. Tante bangga sama kamu."

Mendengar sebutan 'Tante' yang keluar secara alami, Halilintar merasa sedikit hangat. Ternyata, selama ini dia tidak benar-benar sendirian. Orang-orang yang dulu menyayanginya di masa gelap itu kini berkumpul kembali untuk menjaganya.

Sore harinya, Amato membawa Halilintar pulang. Sepanjang perjalanan di mobil, Halilintar hanya menatap keluar jendela, melihat gedung-gedung yang berlalu. Pikirannya melayang pada sosok Leisya.

"Yah... Tante Leisya sekarang ada di mana?" tanya Halilintar tiba-tiba.

"Dia ada di tempat yang aman, Hali. Gibran menjaganya dengan sangat ketat. Kamu mau bertemu dengannya?"

"Mau banget. Aku kangen dia."

"Besok kita ke sana. Hari ini, kamu istirahat dulu. Ibumu sudah masak makanan kesukaanmu di rumah," kata Amato sambil mengemudi.

Sesampainya di rumah, Halilintar disambut dengan pelukan hangat dari ibunya. Sang ibu tertanya-tanya, kenapa Halilintar lebih dulu pulang. Namun dia yang memahami pandangan Amato akhirnya dia hanya menuntun Halilintar ke meja makan dan menyajikan makanan.


Malam harinya, saat Halilintar sedang berbaring di tempat tidur, suasana kamar yang sunyi kembali memancing kemunculan Lintar.

"Halilintar... "

Halilintar yang memejamkan mata berdehem untuk menanggapi panggilan Lintar. Kini dia menatap langit-langit kamarnya. Namun beberapa saat menunggu, Lintar masih diam.

SISA HUJAN LUKA [end]Cerita yang buat anda obses. Terokai sekarang