9

243 22 1
                                        

Happy reading guys!

__________________________________________________

Sinar mentari menerobos masuk di sebalik selah-selah langsir, suasana pagi yang damai disertai nyanyian dari unggas di pohon menambahkan lagi keharmonian pagi itu. Di dalam kamar, Halilintar terbaring lemah dengan badan penuh perban. Memar-memar di lengannya, punggungnya, dan kakinya
membuatnya sulit bergerak. Aisyah duduk
di samping tempat tidurnya, wajahnya
penuh dengan hibah. la menatap
putra sulungnya yang tampak begitu lemah, dan hatinya terasa remuk melihat
penderitaan yang dialami Halilintar.

"Hali... Maafkan Ibu. Seharusnya ini tidak terjadi padamu," ucapnya dengan lemah lembut. Tangan Aisyah mengusap surai legam milik anaknya itu.

"Padahal dia masih kecil." Aisyah meletak semula kotak p3k ke tempatnya.

Halilintar yang mendengar itu hanya tersenyum lemah, "Gapapa kok, lbu. Hali tahu lbu sudah berusaha."

Aisyah menahan air mata yang mulai
mengalir, merasa bersalah atas apa yang
terjadi pada putranya. Di sudut ruangan,
adik-adik Halilintar berkumpul,
masing-masing terlihat sedih dan khawatir
melihat kondisi kakak mereka. Taufan maju
mendekat, duduk di samping tempat tidur
Halilintar.

"Kak, maafkan kami juga.
Kami gak bisa apa-apa
untuk hentikan ayah."

Gempa yang sudah berada disamping Halilintar menggenggam tangan kakaknya.
"lya, kak Hali. Kami hanya bisa mendengarkan
teriakanmu... dan rasanya kami sangat
pengecut karena gak bisa bantu."

"Kalian gak perlu minta maaf. Bukan salah kamu. Lagipula, kakak sudah biasa dengan ayah," katanya sambil menarik senyuman manis pada mereka. Dia tidak ingin melihat mereka sangat khwatir pada dirinya.

Blaze menghela napas, menundukkan
kepala, "Tapi ini nggak adil, kak Hali. Ayah
nggak pernah buat begitu ke kami. Sementara kakak selalu dimarahin ayah," protes Ice.

"Aku benci Ayah... dia gak punya alasan untuk pukul kak Hali," kata Thorn sambil terisak. Dirinya yang berhati tisu sangat tidak sanggup melihat penderitaan yang kakaknya alami. Karena itu dia selalu menangis.

Aisyah terkejut mendengar kata-kata
Thorn, namun ia tahu perasaan anak-anaknya itu sangat wajar mengingat apa yang mereka saksikan. la memeluk Thorn menenangkannya.

"Thorn, ayahmu bukan orang yang
jahat," ucap Aisyah pada anaknya yang keenam. Dia tidak ingin anak-anaknya menyimpan kebencian pada Ayah mereka sendiri. Dia selalu mendidik mereka dengan kasih sayang.

"Tapi lbu, bagaimana bisa Ayah
begitu tega pada kak Hali? Apa
kebencian Ayah lebih penting daripada
keselamatan kak Hali?" tanya Solar.

"Iya, kak Hali gak pernah salah apa pun," tambah Ice setuju.

Aisyah terdiam, tak tahu harus menjawab
apa. la merasa terjebak di antara keinginannya untuk melindungi anak-anaknya dan kenyataan pahit tentang suaminya. Namun, di dalam hatinya, Aisyah tahu ia harus mengambil langkah untuk menghentikan kekerasan ini, meskipun ia belum tahu bagaimana caranya.


Sementara itu, di ruang kerja di lantai
bawah, Amato duduk sendirian, tenggelam
dalam pikirannya. Meski hatinya merasa
lega telah "menghukum" Halilintar, sebagian dari dirinya merasa bersalah. Namun, rasa dendam terus menghantuinya, mengaburkan rasa sayangnya pada anaknya sendiri.

"Kau pantas mendapatkan itu, kau
pantas dihukum atas semua yang telah kau
lakukan," Amato berpaling dari depan kamar menuju ke ruangan kerjanya.

Blaze, yang tak sengaja mendengar ayahnya dari balik pintu terdiam. Dirinya melintasi didepan ruangan kerja Ayahnya menuju ke dapur namun niatnya itu terhenti. Akhirnya dia memberanikan diri masuk ke dalam ruang kerja.

Amato memandang ke arah pintu apabila seseorang memasuki ruangan. Keningnya terangkat sebelah melihat siapa yang masuk.

"Blaze ada apa anak ayah ke sini?" tanya Amato melihat Blaze yang masih berdiam diri.

"Ayah, boleh aku bilang sesuatu?"

Amato menatap Blaze dengan lamat, namun akhirnya mengangguk pelan, "Masuklah, Blaze. Ada apa?" Amato menarik kerusi kosong sebelahnya, menepuk pelan kerusi untuk mengisyaratkan anaknya duduk disitu.

Setelah Blaze duduk, dia terus bertanya walau sedikit ragu karna takut pada Amato. "Ayah... kenapa ayah pukul kak Hali kemarin? Kak Hali kakak kami, kenapa ayah kejam?"

Amato terdiam sejenak, terlihat ia menghela napas panjang, mencoba menyusun kata-kata.

"Blaze, kamu masih terlalu muda
untuk mengerti. Ada hal-hal dalam hidup ini
yang tidak selalu seperti yang terlihat," ucap Amato. Tangan mengelus pelan surai Blaze tapi tangannya ditolak oleh Blaze.

"Tapi kenapa ayah pukul kak Hali sampai memar-memar?" tanya Blaze. Dapat Amato lihat kalau anak itu tengah menahan marah.

Amato menggenggam kedua tangannya,
mencoba menahan emosi yang kembali
berkecamuk di dalam dirinya. Namun,
wajah seseorang yang selama ini ia benci terus
muncul setiap kali ia memikirkan Halilintar,anaknya itu.

Dia pandanga Blaze, "Ayah banyak kerja, pergi main sana dengan saudaramu, Blaze," tuturnya sebelum menghantar anak itu keluar.

"Itu bukan urusan anak-anak kayak kamu."



Malam harinya, setelah anak-anak tertidur,
Aisyah menemui Amato di ruang kerja. la
berdiri di hadapan suaminya dengan wajah
serius, tatapan mata tegas yang jarang terlihat.

"Amato, kita harus bicara."

Helaan napas terdengar dari mulut Amato "Aisyah, aku lelah. Bisa ini dibicarakan besok?"

"Gak, ini terlalu penting untuk ditunda. Aku gak bisa lagi membiarkan kamu menyakiti Halilintar."

Amato terdiam, namun tatapannya masih
menunjukkan ketidakpedulian.

"Aisyah, kau tidak akan mengerti. Semua yang kulakukan adalah untuk mendisiplinkan Halilintar."

"Disiplin? Caramu salah Amato. Kau sengaja guna alasan itu untuk lepaskan amarahmu, bukan?" kata Aisyah. Suaranya naik seoktaf.

Amato tersentak, "Kau tidak mengerti apa
yang telah aku alami, Aisyah! Tidak ada yang bisa memahami–"

"Halilintar gak pernah minta untuk
menjadi orang lain, Amato! Dia hanya anak
kita yang butuh cinta dan perhatian dari
ayahnya. Dia menderita karena kau gak bisa
melepaskan masa lalumu," katanya setelah sedikit menenangkan diri.

"... "

"Jika kau gak bisa melihat Halilintar sebagai anakmu, maka aku gak tahu apakah aku bisa terus bersama denganmu, Amato," lanjutnya setelah melihat suaminya itu tidak bersuara apa pun.

Amato terkejut mendengar dengan apa yang isterinya katakan. Meski ia keras kepala, cinta dan rasa kasihnya pada Aisyah tetap besar.
Namun, di antara kebingungannya, ia tidak
tahu harus bagaimana.

"Aisyah, aku hanya ingin semuanya aman. Aku ingin melindungi kalian." Amato menatap punggung Aisyah yang keluar dari sana.


__________________________________________________

Tbc...

SISA HUJAN LUKA [end]Cerita yang buat anda obses. Terokai sekarang